Biografi Muhammad Bin Abdil Wahhab

Muhammad bin Abdil Wahhab lahir di ”Uyainah, Nejed, pada tahun 1115 H (1703 M). Ia adalah salah satu anak laki-laki Abdul Wahhab bin Sulaiman. Nasab mereka adalah Muhammad bin Abdil Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf bin Umar At-Tamimi. Karena itu, mereka semua dikenal sebagai alu Musyarraf (dinasti atau keluarga keturunan Musyarrof).

Adalah sesuatu yang galib terjadi pada saat itu, bila Sulaiman bin Ali, kakek Muhammad bin Abdil Wahhab, mendorong anak-anaknya untuk mempelajari dan mendalami Islam secara serius. Selain Abdul Wahhab, ada adiknya, Ibrohim, yang mengikuti jejak ayah mereka berdua. Oleh karena itu, dalam lingkaran keluarga terdekatnya, Muhammad bin Abdil Wahhab telah mengenal secara akrab gaya hidup kaum terpelajar (scholarship) pada saat itu. Kakek, ayah dan pamannya adalah agen-agen langsung kehidupan seperti itu.

Talaqqi

Dapat dipahami bila kemudian Muhammad menghabiskan masa kanak-kanak tidak sebagaimana kelaziman anak-anak sebayanya pada saat itu. Sejak usia dini, ayahnya telah menyibukkannya dengan hafalan-hafalan Al-Qur’an ketimbang menghabiskan waktu bermain-main seperti anak-anak yang lain.

Dalam mempelajari agama, menghafal Al-Qur’an adalah salah satu tahapan yang mesti dilalui oleh seorang pelajar sebelum ia membaca dan mempelajari masalah-masalah agama yang lain. Hal ini sudah jamak.Belum genap memasuki usia yang kesepuluh tahun, Muhammad telah menghafal Al-Qur’an.

Pencapaian itu kemudian diteruskan oleh ayahnya dengan pelajaran-pelajaran yang lain. Kepada ayahnya, untuk pertama kali, Muhammad mulai mengambil pelajaran-pelajaran dalam bidang tafsir, hadits, fiqih dan mengenal perkataan-perkataan para ulama.

Mengambil pelajaran, ilmu agama, langsung kepada seorang guru sudah menjadi kebiasaan yang berumur ribuan tahun pada saat itu. Dengan cara membacakan langsung kepada guru, atau yang diistilahkan dengan Al-’Ardh, atau dengan dibacakan kepadanya, seorang murid berhadapan dan berkenalan langsung dengan kepribadian dan kapasitas ilmu gurunya.

Tradisi tersebut ada dan terus ada atas dasar bahwa ilmu agama yang diwarisi tersebut harus memiliki sandaran jelas dan bersambung, berantai, menuju masa silam, ke pribadi Sang Nabi, Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththallib Al-Hasyimi Al-Qurasyi, beberapa abad yang lampau. “Kalau saja tidak ada rantai (seperti) ini,” kata Abdullah bin Mubarok suatu hari, “niscaya siapa pun akan bicara semaunya tentang agama ini.”

Tradisi yang dimaksud dikenal dengan sebutan talaqqi. Inilah yang dilakukan oleh Muhammad.

Selain kepada ayahnya, pada saat itu, Muhammad juga mengambil beberapa pelajaran dari pamannya, Ibrahim bin Sulaiman. Didukung oleh keadaan lingkungan sekitarnya dan kecerdasan berikut ketekunan yang dimilikinya, Muhammad menyita perhatian yang lebih dari orangtuanya.

Pernah suatu hari ayahnya mengirim surat kepada saudara-saudara yang lain, bercerita tentang Muhammad. “Sungguh,” tulisnya, “aku banyak mendapatkan faidah dari anakku ini.”

Kebanggaan seorang ayah dan keadaan yang sebenarnya pada diri anaknya, adalah masuk akal bila Abdul Wahhab kemudian menunjuk Muhammad sebagai imam shalat orang-orang setempat pada waktu itu. Juga dalam usia yang terlalu dini bagi kita sekarang, ayahnya menikahkannya.

Rihlah

Beberapa waktu setelah penikahannya, Muhammad menghadap ayahnya, meminta izin untuk mengadakan perjalanan haji yang pertama ke Mekkah. Meski masih berusia remaja, ayahnya tidak menghalangi niat baik ini. Muhammad berangkat ke Mekkah.

Ritual haji, bagi sebagian orang, bukan sekedar rukun Islam yang kelima. Lebih dari itu, haji adalah sebuah perjalanan rindu dari seorang pencinta menuju yang dicinta. Seperti keberpulangan segala sesuatu menuju asal segala sesuatu, dengan kesadaran bahwa dunia ini adalah fana.

Bagi Muhammad pada waktu itu, haji ini adalah persentuhannya yang pertama dengan jagad makro dunia Islam. Ia melihat dengan mata-kepalanya sendiri ragam keberislaman banyak orang.

Ia melihat majelis-majelis tempat berkumpul banyak orang mengkaji Islam di Mekkah, demikian pula ketika berdiam di Madinah selama hampir dua bulan. Ada kemungkinan, bahkan, ketika di Madinah inilah, ia mulai mengenal Syaikh Abdullah bin Saif, salah seorang gurunya kelak di tanah Hijaz ini.

Kebanyakan orang-orang yang disaksikan Muhammad di Mekkah dan Madinah pada waktu itu, mereka semua, berada dalam salah satu rangkaian rihlah mereka untuk mempelajari ilmu agama.

Rihlah diartikan sebagai perjalanan ke luar daerah. Rihlah, apabila dikaitkan dengan ilmu agama, maka dapat berarti suatu perjalanan keluar daerah untuk mencari guru dan melakukan talaqqi kepadanya.

Ar-rihlah fi tholabil ilmi adalah ungkapan umum yang semakna untuk upaya mencari ilmu agama. Karena kedudukan ilmu agama yang sangat penting, rihlah dipandang sebagai suatu bentuk ibadah tersendiri yang tidak kalah penting dengan ibadah-ibadah yang lain.

Seseorang yang telah menghabiskan waktunya untuk rihlah biasanya akan dimuliakan oleh masyarakat tempat ia berdiam. Ia akan dihomati, bahkan disegani oleh banyak pihak, termasuk oleh para penguasa negeri-negeri Islam. Hasil dari rihlah inilah kemudian yang disampaikan dalam majelis-majelis talaqqi.

Mazhab Hanbali

Setelah ritual hajinya berakhir, dan hampir dua bulan berada di Madinah, Muhammad memulai kembali pelajaran-pelajarannya di ‘Uyainah. Masa ini dapat dikatakan sebagai fase kedua belajarnya.

Tidak seperti fase pertama, sebelum perjalanan haji, pada fase kedua ini, pelajaran yang diambil Muhammad jauh lebih intensif. Kepada ayahnya, ia memperdalam pelajaran-pelajaran di bidang tafsir, hadits, ushul dan tauhid. Ia juga memperdalam fiqih mazhab Hanbali.

Khusus dalam bidang fiqih, sepanjang sejarah Islam, telah muncul banyak mazhab-mazhab fiqih. Laitsi, Awza’i, Hanafi, Maliki, Sufyani, Dzahiri, Syafi’i, dan Hanbali adalah beberapa contoh mazhab fiqih yang pernah muncul dalam sejarah.

Akan tetapi, dari semua mazhab fiqih tersebut, hanya empat mazhab yang dikenal luas sampai hari ini. Bahkan, pada umumnya orang-orang cenderung untuk menafikkan mazhab-mazhab lain di luar keempat mazhab tersebut. Keempat mazhab yang dimaksud adalah mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Keempat mazhab ini muncul sebagai hasil dari hubungan guru-murid yang ada. Mereka, para guru yang dimaksud, menyampaikan pengetahuan-pengetahuan kepada murid-murid mereka masing-masing.

Termasuk yang disampaikan di dalam majelis-majelis guru mereka adalah prinsip-prinsip pokok dalam mengambil suatu keputusan hukum dari permasalahan-permasalahan fiqih yang ada. Di kemudian hari, murid-murid tersebut menyebarluaskan bentuk-bentuk pengetahuan dari guru-guru mereka melalui majelis-majelis talaqqi, yang kemudian menarik banyak pengikut di berbagai belahan negara-negara Islam.

Prinsip-prinsip dalam mengambil keputusan hukum inilah kemudian dikenal dengan sebutan mazhab, yang pada titik waktu tertentu-bahkan-suatu mazhab dapat menarik banyak pengikut, lalu mereka jadikan sebagai mazhab fiqih negara tempat mereka hidup.

Mazhab Hanbali pun seperti itu. Mazhab fiqih ini banyak diperkenalkan sekaligus disebarluaskan oleh para pengikut imam mazhab ini, Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani (164 – 241 H).

Di antara mereka, yang melalui karyanya banyak kalangan mengenal Ahmad bin Hanbal beserta mazhab fiqihnya, adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdisi. Karya terkenalnya adalah Al-Mughni fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani.

Buku tersebut memuat banyak kutipan pendapat-pendapat Ahmad bin Hanbal dalam berbagai masalah fiqih. Banyak pihak yang merujuk karya ini untuk melihat pendapat-pendapat Ahmad bin Hanbal.

Dari karya ini kemudian meluas pendapat-pendapat Ahmad bin Hanbal dalam masalah fiqih ke berbagai tempat. Mereka yang kemudian bermazhab Hanbali dikenal dengan sebutan Al-Hanabilah.

Dalam memutuskan hukum suatu masalah, Ahmad bin Hanbal membangun keputusan-keputusannya di atas lima pokok utama. Dari kelima pokok inilah, murid-murid dan para pengikut mereka terbedakan dari pengikut-pengikut mazhab-mazhab fiqih yang lain.

Kelima pokok yang dimaksud adalah (1) Al-Qur’an dan hadits-hadits shohih Nabi Muhammad; (2) segala sesuatu yang diputuskan (difatwakan) sahabat Nabi Muhammad; (3) pendapat sahabat Nabi Muhammad yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan hadits-hadits shohih ketika terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat tersebut; (4) hadits-hadits yang berderajat dhoif dan mursal (selama berderajat tidak tertolak dan mungkar) ketika tidak ada dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits serta pendapat-pendapat dari para sahabat Nabi Muhammad yang dapat dipakai untuk memutuskan tentang suatu masalah; dan terpaksa dengan (5) kias (qiyas) ketika tidak ditemukan satu pun ayat Al-Qur’an, hadits shohih, perkataan para sahabat atau pendapat dari mereka dan riwayat-riwayat yang berderajat dhoif dan mursal.

Sebagai ilustrasi, apabila muncul suatu persoalan lalu ditemukan ayat atau hadits yang menjelaskan masalah yang dimaksud, maka masalah itu diputuskan sesuai ayat atau hadits tersebut dan tidak berpindah kepada segala sesuatu yang menyelisihi ayat atau hadits tersebut.

Demikian pula, apabila ditemukan satu keputusan dari seorang sahabat atau lebih dalam suatu masalah yang tidak ada satu pun sahabat-sahabat lain yang menyelisihinya, maka masalah tersebut diputuskan seperti itu pula. Dalam hal ini, biasanya Ahmad bin Hanbal tidak mengatakan bahwa ini adalah hasil ijma‘, tetapi dengan ungkapan “Tidak kuketahui sesuatu yang lain semisal ini.”

Sebaliknya, apabila terdapat perbedaan pendapat di antara sahabat Nabi Muhammad dalam suatu masalah, maka Ahmad bin Hanbal memilih pendapat yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad. Ia tidak keluar dari penafsiran (pemahaman) para sahabat.

Apabila ternyata tidak ada satu pun pendapat mereka yang sesuai atau mendekati Al-Qur’an dan hadits-hadits, maka Ahmad bin Hanbal menyampaikan pendapat-pendapat tersebut tanpa menetapkan yang benar di antara semua itu.

Apabila muncul suatu persoalan dan ternyata tidak ditemukan satu pun dari dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits serta pendapat-pendapat dari para sahabat Nabi Muhammad yang dapat dipakai untuk memutuskan tentang suatu masalah, maka akan diambil hadits-hadits yang berderajat dhoif dan mursal untuk memutuskannya selama hadits-hadits tersebut bukan hadits-hadits yang tertolak atau mungkar.

Terakhir, apabila untuk suatu persoalan tidak ditemukan satu pun ayat Al-Qur’an, hadits shohih, perkataan para sahabat atau satu pun pendapat dari mereka, riwayat-riwayat hadits yang dhoif dan mursal, maka terpaksa akan digunakan kias untuk memutuskan persoalan tersebut.

Tauhid dan Syirik

Selain mengambil pelajaran-pelajaran tersebut, Muhammad juga sering menyalin dan menelaah karya-karya Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Karya-karya kedua orang ini turut mempengaruhi tulisan-tulisannya nanti.

Baik Ibnu Taimiyah (661-728 H) atau pun Ibnul Qayyim (691-751 H), masing-masing banyak menulis tentang masalah-masalah tauhid. Bagi mereka berdua, tauhid yang murni dan jauh dari segala pembatal-pembatal tauhid lebih penting dari segala permasalahan yang ada. Tauhid yang benar justru akan memperbaiki segala macam ibadah seorang hamba.

Hal inilah yang bertolakbelakang dengan segala sesuatu yang disaksikan Muhammad di sekitarnya. Kenyataan tersebut ternyata baru disadarinya pada fase kedua ini.

Nejed pada waktu itu banyak dipenuhi dengan praktek-praktek kesyirikan.

Banyak kubah dibangun di atas kuburan-kuburan, menjadi tempat peribadatan. Di Jubailah (Wadi Hanifah), satu kuburan yang diyakini sebagai kuburan Zaid bin Khaththab dijadikan tempat ibadah; banyak orang mencari berkah dengan cara mengusap-usap kubah kuburan tersebut. Sebagian lagi bernazar di sisi kuburan. Demikian pula di Dir’iyyah, banyak kuburan yang diyakini sebagai kuburan-kuburan sahabat Nabi Muhammad diberi kubah dan dijadikan tempat-tempat ibadah.

Selain itu, pohon-pohon tua yang dianggap keramat diibadahi dan diambil berkah. Banyak wanita-wanita mandul mendatangi pohon-pohon tersebut. Mereka mengusap-usap pohon-pohon itu seraya meminta anak.

Praktek-praktek sihir pun ikut merebak di mana-mana. Semua ini terjadi justru ketika di Nejed masih terdapat orang-orang yang tahu tentang bahaya praktek-praktek tersebut. Akan tetapi, sedikit dari mereka yang mampu menghadapi semua ini.

Keadaan tersebut, sebenarnya, bukan menjadi kekhususan Nejed saja pada waktu itu. Badri Yatim, ketika menggambarkan keadaan Islam pada abad ke-18 M, sempat menyinggung tentang praktek-praktek yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Hijaz.

Tentang praktek sihir, misalnya, para penguasa Mekkah ternyata menggunakan tukang sihir dalam menjalankan atau merebut kekuasaan. Demikian pula dengan kewalian, banyak orang yang mempercayai bahwa darwis-darwis Sufi adalah para wali. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang mempercayai bahwa imam Mahdi bisa muncul ke tengah mereka dalam wujud orang gila untuk menyelamatkan dan memperbaiki kehidupan sosial mereka.

Dalam masalah perayaan-perayaan, pada waktu itu, dikenal berbagai macam hari raya selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di Mekkah saja, dikenal hari raya maulid Nabi, maulid Fatimah, maulid Khadijah, maulid Aminah, maulid Ali, Isro’ Mi’raj, nishfu Sya’ban, hari raya Asyura’, juga peringatan hari keenam dan hari Rabu terakhir bulan Shofar. Adapun di Madinah, banyak orang yang berkumpul dan berziarah secara khusus ke kuburan Hamzah bin Abdil Muththalib, paman Nabi Muhammad, juga kuburan-kuburan para syuhada’ Perang Uhud. Semua perayaan ini dilakukan di kuburan-kuburan orang yang dimaksud.

Hijaz I

Keadaan masyarakat seperti itulah yang turut menggugah kesadaran Muhammad; semua yang ada jelas bertentangan dengan segala sesuatu yang dibaca dan dipelajarinya. Ia mesti melakukan sesuatu untuk mereka.

Pada tahun 1135 H, Muhammad memulai rangkaian rihlahnya. Waktu itu, ia berumur 20 tahun. Tempat pertama yang ditujunya adalah dua tanah suci, Mekkah dan Madinah. Sejak perjalanan haji yang pertama, telah terpatri di benak Muhammad bahwa kedua tempat suci inilah yang menjadi tujuan pertama dalam rangkaian rihlahnya nanti.

Tempat yang ditujunya pertama kali adalah Mekkah. Dari sana, Muhammad pergi ke Madinah. Hampir sebagian besar sumber-sumber yang ada tidak memberi keterangan tentang guru-guru yang didatanginya di Mekkah.

Akan tetapi, di Mekkah ini Muhammad bertemu dan berguru kepada Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bashari. Orang inilah yang tercatat sebagai guru Muhammad yang ketiga setelah ayah dan pamannya. Dibanding dengan murid-murid yang lain, Muhammad adalah murid Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bashari yang paling akhir meninggal dunia.

Berbeda dengan Mekkah, banyak keterangan yang bisa didapatkan tentang guru Muhammad ketika rihlah ke Madinah. Di kota inilah, ia banyak menghabiskan waktu rihlahnya di tanah Hijaz.

Di antara guru-gurunya di Madinah yang sempat didatanginya pada kesempatan rihlah pertama ini adalah Syaikh Abdullah bin Saif dan Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi. Kedua syaikh ini dikenal sebagai ulama terpandang pada waktu itu.

Kepada Syaikh Abdullah bin Saif, Muhammad banyak mengambil pelajaran penting dan mendapatkan rekomendasi darinya untuk mengajarkan beberapa pelajaran. Antara keduanya terjadi hubungan guru-murid yang akrab.

Masing-masing memiliki perhatian yang sama dalam masalah tauhid. Ketika melihat keadaan masyarakat Hijaz dan Nejed yang banyak terjatuh ke dalam praktek-praktek kesyirikan, gurunya memberikan perhatian dan dorongan yang lebih kepada Muhammad.

“Pernah suatu hari aku berada di dekat guruku itu,” cerita Muhammad. “Ia pun bertanya kepadaku, ‘Maukah kuperlihatkan kepadamu senjata ampuh untuk mengubah masyarakat?’. Kujawab, tentu. Aku pun dibawa masuk ke suatu ruangan oleh guruku itu. ‘Inilah senjata kita untuk mengubah masyarakat,’ ujarnya sembari menunjuk ke buku-buku yang ada dalam ruangan itu.”

Adalah Syaikh Abdullah bin Saif inilah yang menghubungkannya dengan guru selanjutnya, Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi. Masih berada di Madinah, Muhammad kemudian meneruskan pelajarannya ke Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi.

Gurunya yang baru ini adalah juga seorang yang membenci dan mengingkari berbagai praktek kesyirikan dan kebid’ahan. Madinah, sebagaimana tempat-tempat yang lain saat itu, tidak lepas dari praktek-praktek tersebut. Ia juga membenci sikap fanatik terhadap mazhab-mazhab fiqih tertentu dan sikap abai terhadap hadits-hadits shohih yang ada.

Sebagaimana kepada guru sebelumnya, Muhammad banyak mengambil manfaat dari Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi. Gurunya ini pula yang banyak memberi pengaruh terhadapnya.

Irak

Setelah menyelesaikan pelajaran-pelajarannya di Madinah, Muhammad kembali pulang ke ‘Uyainah. Di negerinya ini, ia menetap selama satu tahun, sebelum meneruskan kembali rangkaian rihlahnya. Ia kemudian pergi ke Basrah, Irak.

Basrah, kota lama di Irak, sudah terkenal sebagai tempat para pelajar bertalaqqi; Basroh menjadi salah satu tujuan rihlah para pelajar tersebut. Termasuk Muhammad, sebelum meneruskan rihlah menuju negeri Syam.

Di Basrah, Muhammad belajar kepada Syaikh Muhammad Al-Majmu’i, seorang ulama yang berdiam di kampung Majmu’ah. Selama di Basroh ini, ia mengambil pelajaran nahwu (tata bahasa Arab) dan fiqih. Ia pun banyak menulis hadits. Khusus pelajaran bahasa, terutama ilmu nahwu, ia betul-betul mematangkan pelajaran tersebut.

Berbeda dengan rihlahnya ke tanah Hijaz, selama rihlahnya ke Basrah, ia tidak sekedar mengambil pelajaran pada ulama setempat. Lebih dari itu, ia juga mulai berdakwah ke penduduk di sana. Ia mengajak untuk memurnikan tauhid, melarang praktek-praktek kesyirikan dan kebid’ahan serta mengajak untuk meniti jejak orang-orang saleh yang telah dulu (salafus shalih).

Upaya dakwah seperti dilakukannya itu ternyata mendatangkan reaksi yang negatif dari penduduk setempat. Mereka mendebat, menghina dan menolak semua argumentasi yang dikemukakannya.

Penolakan mereka terus berlanjut. Adakalanya penolakan tersebut sekedar berupa argumentasi-argumentasi bersifat bantahan, namun adakalanya berupa gangguan-gangguan fisik.

Pernah terjadi dalam suatu pertemuan, seorang laki-laki membantah Muhammad sembari memberikan alasan di balik praktek berdoa kepada orang-orang saleh dan para wali yang telah meninggal dunia. Orang tersebut mengatakan bahwa praktek tersebut boleh dan justru diperintahkan oleh Allah dan rasulNya.

Muhammad pun membantahnya dan menerangkan akan kesalahannya.”Kalau yang dia katakan itu benar,” balas laki-laki itu kemudian dengan marah, “sungguh orang-orang yang ada sekarang ini celaka semua.”

Puncak dari penolakan mereka adalah pengusiran. Muhammad mereka usir dari Basrah. Pengusiran ini menandai akhir rihlahnya di kota itu.

Ahsa’

Semula, setelah Basrah, rangkaian rihlahnya akan diteruskan menuju negeri Syam. Dengan pengusiran ini, rencana tersebut terganggu. Di tengah perjalanan dari Basroh, setelah pengusiran itu, hanya dengan berjalan kaki sendiri dan rasa haus yang menyertainya, Muhammad hampir menemui ajalnya.

Ia beruntung pada waktu itu. Ia sempat ditolong oleh seseorang yang bernama Abu Humaidan. Olehnya, Muhammad diberi minum dan kemudian dibawanya menuju kota Zubair.

Ada banyak perbedaan pendapat tentang rihlah Muhammad ke kota Basrah. Akan tetapi, rihlah ke kota ini berlangsung lebih dari satu kali. Muhammad menempuh jalan Nejed-Basrah berkali-kali sampai kemudian diusir dan berdiam beberapa waktu di Zubair.

Dari Zubair, Muhammad pergi ke Ahsa’. Meski tidak selama di Basrah, di Ahsa’ ini, Muhammad sempat belajar ke Syaikh Abdullah bin Fairus Al-Kafif. Dari syaikhnya ini, Muhammad dapat menyalin karya-karya Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim yang selama ini belum didapatkannya.

Selain kepadanya, Muhammad sempat juga berdiskusi dengan Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Latif Asy-Syafi’i Al-Ahsai dan Syaikh Muhammad bin Afaliq tentang masalah-masalah tauhid dan aqidah.

Sebagaimana Basrah, rihlah ke Ahsa’ ini terjadi berulang kali. Ia menempuh jarak Nejed-Ahsa’, sebagaimana Nejed-Basrah.

Hijaz II

Setelah selesai pelajarannya di Ahsa’, ia pun kembali ke negerinya. Ia menyusun rencana untuk melanjutkan rangkaian rihlahnya menuju tanah Hijaz kembali. Dari sana, ia berkeinginan menuju Syam.

Untuk kali ketiga, ia melakukan perjalanan ke tanah Hijaz. Dimulai dengan menunaikan ibadah haji, Muhammad kemudian menetap di Mekkah. Dari sana, ia pergi ke Madinah.

Selama di dua tanah suci tersebut, Muhammad mengambil pelajaran pada beberapa syaikh. Mereka adalah Syaikh Ismail bin Muhammad Al-Ajluni, Syaikh Ali Effendi bin Shodiq Ad-Daghistani, Syaikh Abdul Karim Ad-Daghistani, Syaikh Muhammad Al-Burhani dan Syaikh Utsman Ad-Dayyar Bakri.

Khusus Syaikh Ali Effendi bin Shodiq Ad-Daghistani, ia dikenal sebagai guru Muhammad yang berasal dari Syam. Usianya sepuluh tahun lebih muda dari Muhammad. Meski demikian, guru Muhammad ini dikenal sebagai “syaikh para syaikh” di Syam. Saudara sepupunya, Syaikh Abdul Karim Ad-Daghistani, adalah juga guru Muhammad ketika berada di Madinah.

Dari Madinah, Muhammad bermaksud melanjutkan rihlahnya menuju Syam. Akan tetapi, niat itu tidak dapat dilaksanakan. Ia tidak memiliki bekal yang cukup untuk sampai ke Syam.

Berdasarkan keterangan beberapa sumber, ketidakcukupan bekal itu disebabkan oleh musibah yang menimpa Muhammad. Beberapa orang menyerangnya di tengah perjalanan dan mengambil bekal yang ada padanya.

Huraimala’

Kegagalannya melanjutkan rihlah ke negeri Syam, memaksa Muhammad pulang kembali ke Nejed dan memulai dakwahnya di sana. Karena itu, rangkaian rihlahnya di luar Nejed hanya meliputi tiga tempat, Hijaz-Basrah-Ahsa’.

Muhammad belum pernah melakukan rihlah ke tempat-tempat lain di Irak selain Basrah. Ia pun belum pernah sekali pun mengadakan perjalanan rihlah ke negeri Persia. Demikian pula dengan negeri Syam, ia belum pernah ke sana, meski pernah memiliki guru yang berasal dari Syam.

Kepulangannya kali ini menuju Huroimala’. Bukan kembali ke ‘Uyainah seperti biasa, sebab ayahnya telah dicopot dari jabatannya sebagai hakim di ‘Uyainah oleh penguasa ‘Uyainah yang baru.

Tidak ada kepastian tentang tahun kepulangannya ke Huroimala’. Dengan kehati-hatian, Abdullah bin Sholih Al-Utsaimin sendiri lebih memilih untuk mengatakan bahwa kepulangan Muhammad ke Huraimala’ terjadi antara tahun 1144 H dan 1149 H.

Kepulangannya ke Huraimala’ membuatnya berkumpul kembali dengan orangtuanya, terkhusus dengan ayahnya, Abdul Wahhab. Di Huroimala’ ini, Muhammad tetap menghadiri majelis-majelis talaqqi ayahnya, mengambil pelajaran seperti dulu.

Selain mengambil pelajaran, waktu yang dihabiskan Muhammad di Huraimala’ digunakan juga untuk berdakwah, sebagaimana yang dilakukannya ketika berada di Basrah. Ia mengajak masyarakat setempat untuk bertauhid dengan benar dan menjelaskan kepada mereka tentang bahaya perbuatan syirik.

Hal ini, baginya, sangat penting. Sampai saat itu, keadaan di Nejed, termasuk di Huraimala’, masih tidak berubah, sebagaimana yang disaksikannya beberapa tahun yang lewat, sebelum ia memulai rangkaian rihlahnya.

Dalam menyikapi keadaan yang terjadi di sekitar mereka, terjadi perbedaan pandangan tentang cara-cara berdakwah (uslub ad-da’wah) antara Muhammad dan ayahnya. Akan tetapi, perbedaan yang terjadi di antara mereka tidak berlarut-larut. Sebelum meninggal dunia pada tahun 1153 H, ayahnya menarik kembali semua pandangannya yang bertentangan dengan cara berdakwah Muhammad.

‘Uyainah

Sampai menjelang dua tahun setelah ayahnya meninggal dunia, Muhammad tetap melakukan dakwah di Huraimala’. Meski keadaan di sana kurang mendukung, kabar tentangnya yang mengajak manusia agar bertauhid dengan benar menyebar ke daerah-daerah sekitar. Termasuk pula di antaranya ‘Uyainah.

Sebenarnya, di Huraimala’ sendiri, dakwah tersebut diterima oleh beberapa pihak. Mereka menghadiri pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Muhammad dan mengambil nasehat-nasehat yang diberikannya.

Di tahun 1154 H, Muhammad pindah ke ‘Uyainah. Selain sebagai tempat kelahirannya, ‘Uyainah dipimpin oleh orang yang menerima dakwahnya. Orang itu bernama Utsman bin Mu’ammar.

Sebagai penguasa ‘Uyainah, Ustman bin Mu’ammar menyambutnya dengan penuh kehormatan. Tidak berhenti sampai di situ, Utsman bin Mu’ammar memerintahkan para pengikutnya untuk juga menerima Muhammad dan dakwah yang diserukannya. Hubungan antara mereka pun dipererat dengan pernikahan antara Muhammad dan Jauharah binti Abdillah bin Mu’ammar, salah satu keluarga dekat Utsman bin Mu’ammar.

Di ‘Uyainah ini pula, Muhammad kemudian diminta menjadi hakim setempat. Dengan bantuan dari Utsman bin Mu’ammar, ia menghilangkan berbagai sarana-sarana kesyirikan seperti pohon-pohon yang dikeramatkan, kuburan-kuburan yang dijadikan tempat ibadah dan kubah-kubah di atas kuburan.

Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Utsman bin Mu’ammar pula, ditegakkan aturan tentang kewajiban sholat lima waktu secara berjamaah di ‘Uyainah. Para da’i dikirim ke berbagai tempat di ‘Uyainah untuk mengajak manusia agar bertauhid dan menjauhi syirik.

Sebagai satu hal yang tidak boleh dilupakan di sini adalah kisah tentang perajaman wanita. Dari berbagai rujukan-rujukan yang ada, sudah terkenal kisah tentang wanita yang datang kepada Muhammad mengajukan diri bersalah, karena telah berzina, dan karena itu meminta untuk ditegakkan hukuman atasnya. Muhammad pun, setelah memeriksa kebenaran pengakuan wanita itu, menegakkan hukuman tersebut.

Akan tetapi, keadaan seperti itu tidak berlangsung lama. Setelah mendapat tekanan dari penguasa yang ada di Ahsa’, Utsman bin Mu’ammar terpaksa meminta Muhammad pergi dari ‘Uyainah.

Dir’iyyah

Sesuatu yang amat disayangkan adalah tekanan penguasa di Ahsa’ kepada Utsman bin Mu’ammar. Uyainah pada waktu itu masuk ke dalam kekuasaan Ahsa’. Sebagai pusat pemerintahan, Ahsa’ memiliki wewenang politik, sosial dan ekonomi terhadap daerah-daerah kekuasaan.

Utsman bin Mu’ammar mendapat bantuan keuangan dari Ahsa’ setiap tahun. Dengan ancaman untuk memutuskan bantuan tersebut, penguasa di Ahsa’ memerintahkan Utsman bin Mu’ammar agar membunuh Muhammad.

Motif di balik perintah tersebut, sebagaimana dikatakan berbagai rujukan yang ada, adalah keterancaman politis yang dirasakan oleh penguasa Ahsa’. Dakwah Muhammad dianggap mengancam kekuasaannya.

Utsman bin Mu’ammar, bagaimana pun, tetap menghormati Muhammad. Ia memberitahukan perintah tersebut kepada Muhammad. Dengan berat hati, ia meminta Muhammad pergi dari ‘Uyainah ketimbang membunuhnya.

Muhammad pun pergi dari Uyainah. Ia berjalan menuju Dir’iyyah. Di sana, tinggal seorang muridnya yang bernama Ahmad bin Suwailim.

Muhammad tiba di Dir’iyyah pada waktu Ashar. Ia pertama kali singgah di rumah Abdurrohman bin Suwailim Al-Uraini. Dari sana, Muhammad pindah ke rumah Ahmad bin Suwailim.

Dir’iyyah waktu itu dipimpin oleh Muhammad bin Su’ud. Ia berasal dari Dinasti Su’ud. Dinasti ini berasal dari kabilah ‘Anazah. Dinasti ini adalah dinasti penguasa Dir’iyyah. Peletak pondasi kekuasaan mereka adalah kakek Muhammad bin Su’ud.

Kabar tentang kedatangan Muhammad ke rumah Ahmad bin Suwailim didengar oleh Muhammad bin Su’ud. Setelah bertemu langsung dan berbicara dengannya, Muhammad bin Su’ud membuat kesepakatan dengan Muhammad untuk saling membantu dan tidak saling mengkhianati yang lain.

Kesepakatan itu terjadi pada tahun 1157 H. Sejak saat itu, Muhammad melanjutkan dakwahnya dari Dir’iyyah. Penduduk Dir’iyyah sendiri telah mengetahui dakwah ini sebelum kepindahan Muhammad.

Sebagian mereka, bahkan, telah menerima dakwah. Mereka menghilangkan sarana-sarana kesyirikan di sekitar mereka, seperti pohon-pohon keramat. Mereka juga meninggalkan praktek berdoa kepada orang-orang sholih yang telah meninggal dunia.

Di tingkat atas, selain dukungan dan bantuan dari Muhammad bin Su’ud sebagai penguasa, Muhammad juga mendapat dukungan dan bantuan dari saudara-saudara Muhammad bin Su’ud. Yang terkenal di antara mereka adalah Musyari bin Su’ud, Tsunayan bin Su’ud dan Farahan bin Su’ud.

Dakwah yang dilakukan Muhammad di Dir’iyyah ini berlangsung dalam beberapa bentuk. Antara satu bentuk dengan bentuk yang lain saling terkait.

Lisan

Dakwah yang dijalankannya, pertama, berbentuk penyampaian pelajaran-pelajaran agama secara langsung. Dalam majelis-majelis talaqqi seperti ini, biasanya hadir murid-muridnya, baik yang berasal dari Dir’iyyah maupun yang berasal dari luar Dir’iyyah. Mereka mendengarkan dan mencatat pelajaran-pelajaran tersebut.

Mereka yang datang dari luar Dir’iyyah terdiri dari berbagai kelompok.

Di antara mereka, sebagai contoh menarik di sini, ada yang datang ke majelis-majelis Muhammad secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan penguasa di tempat mereka masing-masing. Mereka itu semisal orang-orang dari kelompok Utsman bin Mu’ammar yang datang secara sembunyi-sembunyi, menghindari pengawasan penguasa Ahsa’.

Utsman bin Mua’mmar, setelah beberapa waktu, sengaja datang ke Dir’iyyah menemui Muhammad. Setelah meminta uzur dan menyesal atas keputusannya yang telah lewat, ia memohon agar Muhammad kembali ke ‘Uyainah.

Akan tetapi, kesepakatan yang telah dibuat dengan penguasa Dir’iyyah membuat Muhammad tidak bisa mengabulkan permohonan itu kecuali atas izin Muhammad bin Su’ud langsung. Muhammad tidak ingin mengkhianati kesepakatan.

Demikian pula dengan Muhammad bin Su’ud, ketika mendengar permohonan itu dari Utsman bin Mu’ammar langsung, ia tidak mengabulkannya. Ia tidak ingin Muhammad pergi dari Dir’iyyah.

Di antara mereka yang mendatangi majelis-majelis Muhammad, ada yang secara khusus pindah ke Dir’iyyah untuk tujuan itu. Sebagian dari mereka tetap tinggal di Dir’iyyah, sebagian lain pulang kembali. Sebagian mereka ada yang khusus datang untuk menghadiri majelis-majelis tersebut pada waktu siang dan baru bekerja mencari nafkah pada waktu malam. Sebagian yang lain ada yang pindah ke Dir’iyyah, meninggalkan pekerjaan di tempat lama sambil berusaha mendapatkan pekerjaan baru di Dir’iyyah, namun tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali di tempat yang baru ini.

Tulisan

Kedua, dakwah dilakukan juga dalam bentuk penyebaran tulisan, baik berbentuk surat-surat pribadi yang berisi ajakan untuk beraqidah dengan aqidah benar, kitab-kitab pelajaran, atau pun makalah-makalah ringkas tentang suatu masalah tertentu.

Perlu diketahui, sudah sejak berdakwah di Huroimala’, Muhammad sudah mulai membuat tulisan sebagai salah satu sarana dalam berdakwah. Aktifitas ini ia jalankan, termasuk pula ketika sudah berdiam di Dir’iyyah.

Ada banyak tulisannya yang masih utuh sampai sekarang. Baik berbentuk tulisan langsung ataupun hasil ringkasan atas karya-karya ulama sebelumnya, semua karya tersebut sudah diterbitkan. Bahkan, sebagian besar sudah diterjemahkan pula dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh berbagai macam penerbit yang ada saat ini.

Di antara tulisan-tulisannya yang dimaksud adalah Kitab At-Tauhid alladzi Huwa Haqqullah ‘alal ‘Abid, Ushul Ats-Tsalatsah wa Adillatuha, Kasyfu Asy-Syubuhat, Ushul Iman, Al-Qawa’idu Al-Arba’, Dalailut Tauhid: 50 Sualan wa Jawaban fil Aqidah, Tafsir Al-Fatihah, Masailul Jahiliyyah, Sittah Al-Ushul ‘Azhimah, Al-Wajibat, Al-Kabair, Aqidah Muhammad bin Abdil Wahhab, Risalatun fir Raddi ‘ala Ar-Rafidhah, dan Muhkhtashar Zadul Ma’ad.

Selain judul-judul tersebut, masih terdapat tulisan-tulisan lain yang sebagian di antara judul-judul ini belum diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di luar bahasa Arab. Di antara yang dapat disebutkan di sini adalah Fadhlul Islam, Nawaqidhul Islam, Adabul Masyyi ila Ash-Shalah, Syuruth Ash-Shalah wa Arkanuha wa Wajibatuha, Ahkam Ath-Thaharah, Tafsir Asy-Syahadah, Arba’ Qawa’id Taduru ‘alaiha Al-Ahkam, Sittatu Mawadhi’ minas Sirah, Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, Ahaditsul Fitan, Mufid Al-Mustafid fi Kufri Tarik At-Tauhid, Majmu’ Al-Hadits ‘ala Abwabul Fiqh, Mukhtashar Fathul Bari, Mukhtashar Asy-Syarhul Kabir, Mukhtashar Ash-Shawa’iq, Mukhtashar Al-Iman, Fadhailul Qur’an, Mukhtashar Shahih Al-Bukhari, Mukhtashar Al-Inshaf, Mukhtashar Al-’Aql wan Naql, dan Mukhtashar Al-Minhaj.

Dengan karya yang demikian banyak itu, adalah wajar bila ternyata didapati pula karya-karya yang sejatinya bukan termasuk tulisan-tulisannya tetapi dianggap oleh sebagian orang sebagai tulisan-tulisannya.

Sebagai contoh di sini adalah Ahkamu Tamanni Al-Maut, Nashihatul Muslimin bi Ahaditsi Khatamil Mursalin, Awtsaqu ‘Ural Iman, beberapa tulisan pendek dalam Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyah tentang tauhid dan syirik, juga surat-surat pribadi kepada beberapa orang pada waktu itu. Semua tulisan ini dianggap karya Muhammad ketika berdakwah di Dir’iyyah.

Jihad

Dakwah yang dijalankan di Dir’iyyah sejak tahun 1157 H, sebagaimana yang telah lewat, berlangsung dengan lisan dan tulisan. Lewat lisan, disampaikan berbagai pelajaran dan nasehat. Lewat tulisan, dikirim makalah-makalah dan surat-surat pribadi ke orang-orang tertentu berisi ajakan untuk bertauhid dan ajakan untuk menjauhi syirik sekaligus menjelaskan alasan utama di balik ajakan-ajakan tersebut. Sampai kemudian masuk tahun 1159 H.

Bermula dari gangguan-gangguan yang didapati oleh orang-orang yang menerima dakwah tauhid di Riyadh dari penguasa setempat saat itu, Diham bin Dawwas. Kenyataan ini diiringi dengan upaya-upayanya menghina Islam dan sunnah Rosulullah.

Motif di balik tindakan-tindakannya itu adalah ketidaksenangannya terhadap dakwah yang diserukan oleh Muhammad. Karena itu, sasaran ketidaksenangannya adalah mereka yang menerima dan mengikuti dakwah tersebut.

Ketidaksenangannya itu kemudian diimbangi oleh kesewenang-wenangannya kepada orang-orang di bawahnya. Sebagai contoh mudah di sini, ia pernah memotong paha seseorang tanpa alasan logis di balik tindakannya itu. Ia pun, bahkan, pernah memotong lidah seseorang, ketika sedang minum kopi di pagi hari, hanya karena memanjatkan doa kepada Allah.

Sejauh ini, Muhammad beserta penguasa Dir’iyyah tetap hanya memberikan nasehat kepadanya untuk menghentikan semua tindakan tersebut. Proses nasehat ini berlangsung terus-menerus.

Kepada orang-orang yang menerima dakwahnya dan mendapatkan gangguan karena itu, Muhammad mengajak mereka untuk selalu bersabar. Ketika ingin menjalankan agama, baginya, seseorang mesti mempelajari agama tersebut dengan benar agar dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, adalah satu hal penting bahwa ketika seseorang menjalankan ibadah sehari-hari tersebut berdasarkan apa yang telah dipelajarinya, kemudian mendakwahkan hal itu kepada orang lain, ia akan mendapat gangguan-gangguan dari orang lain.

Gangguan-gangguan ini adalah satu hal yang mesti. Karena itu, terhadap gangguan-gangguan yang ada, seseorang harus bersabar. Surat Al-’Ashr dalam Al-Qur’an adalah landasan dalil bagi setiap orang yang belajar, beramal dan berdakwah untuk senantiasa bersabar menjalankan dan menanggung segala resiko yang muncul.

Setelah menyadari bahwa proses nasehat kepada Diham bin Dawwas tidak banyak bermanfaat, sedangkan permusuhannya terhadap orang-orang yang menerima tauhid dan menjalankan agama di Riyadh makin bertambah, maka Muhammad terpaksa memberikan izin kepada Muhammad bin Su’ud dan para pengikutnya untuk membela dan menolong orang-orang yang berada di Riyadh itu dengan kekuatan dan senjata.

Izin itu menandai suatu masa baru. Dengan senjata, setelah proses persuasi tidak mendatangkan hasil yang diharapkan, mereka mulai membela diri sekaligus memerangi segala macam permusuhan dari luar yang diberikan kepada dakwah dan para pengikut dakwah Muhammad.

Menurut Abdullah bin Sholih Al-Utsaimin, bentuk dakwah dengan jihad ini berlangsung selama tiga periode. Semua periode ini merentang sejak tahun 1159 H sampai masuk abad ke-13 H.

Periode pertama berlangsung sejak Muhammad mengizinkan mereka membela diri dengan senjata sampai menjelang tahun 1172 H. Dalam periode ini, kekuatan yang ada dipimpin oleh Muhammad bin Su’ud langsung.

Periode kedua berlangsung sejak tahun 1172 H sampai tahun 1187 H. Pada periode ini, tepat pada akhir bulan Robi’ul Awwal tahun 1179 H, Muhammad bin Su’ud meninggal dunia. Kepemimpinan saat itu kemudian digantikan oleh anaknya, Abdul Aziz bin Muhammad. Periode ini diakhiri dengan penaklukan Riyadh pada tahun 1187 H, setelah dikepung oleh Abdul Aziz bin Muhammad.

Periode ketiga berlangsung sejak Riyadh ditaklukkan pada tahun 1187 H sampai masuk abad ke-13 H, ketika Nejed berhasil disatukan di bawah kepemimpinan Dinasti Su’ud. Pada waktu itu, kekuasaan telah mencapai wilayah di luar Nejed.

Meski demikian, pada setiap periode jihad, dakwah dengan lisan dan tulisan tetap dijalankan oleh Muhammad, baik di Dir’iyyah atau pun di daerah-daerah Nejed yang lain. Hal ini, mengingat bahwa reaksi negatif terhadap dakwahnya terus bermunculan, baik dari dalam Nejed atau pun dari luar Nejed.

Pesan Dakwah

Sembari mengirimkan surat-surat ke ulama di beberapa tempat, Muhammad senantiasa mengingatkan ke segala pihak bahwa dakwah yang diserukannya kepada khalayak dan praktek ibadah yang diajarkannya kepada murid-muridnya bukan sesuatu yang berada di luar Islam.

“Kami,” tulisnya suatu hari, “tidak menyelisihi praktek-praktek ibadah dalam syari’at Islam, baik itu shalat, zakat, shaum, haji atau praktek-praktek ibadah lainnya.” Karena itu, “Kami cuma para pengikut, bukan gerombolan pengada-ada ajaran baru dalam syari’at.”

Inti dakwah Muhammad adalah tauhid. Ia mendakwahkan bahwa tauhid sangat penting. Ini tertulis dalam berbagai tulisan-tulisan yang ditinggalkannya.

Meski mendahulukan tauhid dalam berdakwah serta menolak syirik-dan ini sesuatu yang berlainan dengan keumuman dakwah-dakwah pada hari itu, aqidah-keyakinan-yang dimilikinya tidak berbeda dengan keyakinan-keyakinan para imam mazhab yang empat, para sahabat dan pengikut-pengikut mereka, para khalifah yang empat dan juga Rasulullah sendiri, sebagaimana yang sering ditulis Muhammad di dalam karya-karya dan surat-suratnya ke sejumlah orang di berbagai tempat.

Ketika suatu hari penduduk daerah Qasim, Nejed, bertanya tentang keyakinannya, Muhammad pun menulis,

“Kupersaksikan kepada Allah, kepada siapa pun yang hadir dari kalangan malaikat dan kepada kalian semua bahwa aku meyakini segala sesuatu yang diyakini oleh firqah an-najiyah, ahlus sunnah wal jama’ah, baik itu menyangkut iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada segenap kitab-kitab Allah, iman kepada para rasul, iman akan hari Kiamat dan iman akan keberadaan takdir, ketentuan Allah, yang baik maupun yang buruk.”

Firqah an-najiyah, orang-orang ahlus sunnah wal jama’ah, yang dimaksudnya adalah mereka yang meneruskan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Jalan mereka adalah jalan pertengahan yang berfokus pada diri Rasulullah itu sendiri, sebagai sang utusan Allah di muka bumi.

“Jalan, keyakinan, mereka berada di pertengahan antara Qodariyah dan Jabbariyah dalam masalah takdir. Mereka juga berada di antara orang-orang Murjiah dan Khawarij dalam masalah ancaman dan sanksi yang diberikan Allah.”

Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman terhadap segala sesuatu yang telah disifatkan oleh Allah dan Rasulullah diri Allah, tanpa melakukan tahrif (pengubahan lafaz atau makna ayat) atau bahkan ta’til (penolakan sebagian atau keseluruhan ayat). Menurut keyakinannya, Allah tidak serupa dengan apa pun, meskipun Dia maha mendengar lagi maha melihat.

“Karena itu, aku tidak menafikkan segala yang telah Allah sifatkan tentang diriNya. Aku juga tidak menyelewengkan makna sifat-sifat tersebut dari arti sebenarnya. Aku tidak mengadakan penyimpangan dalam nama-nama Allah. Tidak pula kuserupakan Allah dengan makhlukNya-dengan sifat-sifat makhlukNya, karena tidak ada yang menyamai dan menandingiNya. Allah tidak bisa dikiaskan dengan makhluk-makhlukNya.”

Demikian pula dalam masalah keimanan dan keberagamaan, “Mereka, firqah an-najiyah,” seperti tulis Muhammad, “berada di antara keyakinan kaum Khawarij dan Mu’tazilah.” Dalam masalah keimanan, sebagaimana yang diketahui, Khawarij dan Mu’tazilah betul-betul menafikkan keimanan orang-orang yang melakukan dosa besar dan mengafirkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Karena itu, “Aku,” kata Muhammad, “tidak mengafirkan seorang pun dari kaum muslimin karena ia telah melakukan dosa dan tidak pula menganggap orang itu keluar dari Islam.”

Yang paling penting untuk disebutkan di sini adalah sikapnya terhadap Nabi Muhammad, sebagai sang utusan Allah.

“Aku beriman bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul. Aku pun meyakini bahwa keimanan seseorang tidak akan sah tanpa mengimani risalah yang dibawa olehnya dan bersaksi akan kenabiannya.”

Selain itu, tidak sebagaimana orang-orang Khawarij dan Syi’ah Rafidhah, Muhammad meyakini bahwa para sahabat Rasulullah adalah manusia-manusia terbaik setelah Rasulullah di umat ini. Akan tetapi,

“Yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Umar Al-Faruq, Utsman sang pemilik dua cahaya dan Ali Al-Murtadha. Setelah itu [yang paling utama] adalah mereka yang termasuk sepuluh sahabat utama, para veteran Perang Badar, sahabat-sahabat yang mengikuti Baiat Ar-Ridwan, baru kemudian sahabat-sahabat yang lain selain mereka.”

Salah satu masalah penting yang diperhatikan oleh Muhammad adalah wali-wali Allah dan kelebihan-kelebihan (karamah) yang Allah berikan kepada mereka. Ia menetapkan keberadaan itu semua.

Akan tetapi, mereka, para wali yang dimaksud, kata Muhammad, tidak memiliki segala sesuatu yang menjadi hak-hak Allah; mereka tidak berhak untuk mengaku hak-hak Allah. Termasuk pula ke dalam hal ini adalah syafaat.

Rasulullah adalah orang pertama yang akan memberikan syafaat kepada umat Islam pada hari Kiamat nanti. Akan tetapi, meski itu Rasulullah sendiri, syafaat tersebut tidak akan dapat diberikan kecuali memenuhi syarat-syarat yang telah Allah tetapkan.

Allah telah menetapkan bahwa orang yang memberikan syafaat dan orang yang akan diberi syafaat, masing-masing, harus mendapatkan izin dan ridha dari Allah. “Dan Allah tidak akan meridhoi kecuali dengan tauhid,” tulis Muhammad, “juga tidak akan memberikan izin kecuali kepada mereka yang bertauhid.”

Ini, tulisnya, sebagaimana yang telah Allah gariskan dalam Al-Qur’an.

Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah (Q.S. Al-Anbiya’: 28).

Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya (Q.S Al-Baqoroh: 255).

Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya) (Q.S. An-Najm: 26).

Akan tetapi, syafaat yang dimaksud di sini adalah syafaat ketika hari Kiamat nanti. Adapun di dunia ini, orang yang masih hidup dan hadir serta memiliki kemampuan untuk melakukan permintaan kita, dapat dimintai pertolongan, dimintakan doa dan diminta untuk menjadi perantara antara kita dengan Allah dalam rangka mendapatkan manfaat dan mencegah bala. Bukan orang-orang yang telah mati; mereka semua tidak dapat memberikan apa pun kepada orang yang masih hidup.

Dalam masalah pemerintahan, sempat pula disinggungnya.

“Bagiku, ketaatan dan ketundukan kepada penguasa kaum muslimin, baik itu penguasa yang baik atau pun penguasa yang buruk, adalah wajib selama mereka tidak memerintahkan kita agar bermaksiat kepada Allah. Haram untuk memberontak kepada mereka, kepada para penguasa kita.”

Karena itu, memberontak kepada penguasa kaum muslimin, menurut Muhammad, adalah haram. Ia tidak memerintahakan murid-muridnya untuk memberontak terhadap penguasa mereka, sekali pun penguasa tersebut berkelakuan jahat. Untuk perlakuan semena-mena dari penguasa yang seperti ini, Muhammad hanya memerintahkan mereka agar bersabar.

Sulaiman bin Abdil Wahhab

Inti dakwahnya adalah tauhid, sebagaimana yang diserukan para nabi dari yang pertama sampai yang terakhir. Akan tetapi, ia pun menyadari bahwa dakwah yang diserukannya akan menuai banyak permusuhan dari segala pihak yang tidak menyukainya, termasuk dari saudaranya sendiri, Sulaiman bin Abdil Wahhab.

Saudara Muhammad, sebagaimana dirinya, dididik ayahnya sejak kecil. Bersama Muhammad, ia mengambil pelajaran-pelajaran agama dari ayahnya, bertalaqqi sebagaimana ayahnya yang pernah bertalaqqi bersama pamannya kepada Sulaiman bin Ali, kakeknya.

Akan tetapi, sejak kepulangan Muhammad ke Huraimala’, Sulaiman tidak menyukai apa yang didakwahkan oleh saudaranya itu. Keadaan ini terus berlangsung, sampai Muhammad pindah ke ‘Uyainah dan Dir’iyyah.

Ketidaksukaan itu dituangkannya ke dalam berbagai tulisan. Ash-Shawa’iqu Al-Ilahiyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyah, demikian salah satu judul tulisannya, dijadikan semacam buku pegangan oleh orang-orang yang tidak menyukai dakwah Muhammad pada saat itu. Tulisan ini termasuk tulisan Sulaiman yang berisi tuduhan-tuduhan dusta dalam rangka menolak dakwah Muhammad.

Atas sikap Sulaiman seperti itu, Muhammad hanya menulis bantahan-bantahan terhadap tulisan-tulisan tersebut. Sampai kemudian masuk tahun 1190 H, saudaranya itu datang ke Dir’iyyah menemui Muhammad, menyatakan tobat kepada Allah dan menerima dakwahnya.

Abdul Aziz bin Muhammad

Muhammad masih melanjutkan dakwahnya dari Dir’iyyah, meskipun Muhammad bin Su’ud telah meninggal dunia. Di bawah kepemimpinan Abdul Aziz bin Muhammad, Muhammad menyaksikan bagaimana dakwahnya berkembang dan menyebar ke daerah-daerah di Nejed.

Abdul Aziz bin Muhammad sendiri adalah salah seorang murid langsung Muhammad. Mereka sudah saling mengenal sejak Muhammad masih berdiam di ‘Uyainah.

Pernah satu kali Abdul Aziz bin Muhammad meminta Muhammad agar menuliskan untuknya satu tulisan penting tentang tafsir surat Al-Fatihah. Muhammad pun menuliskannya, meskipun Abdul Aziz bin Muhammad pada waktu itu baru saja baligh.

Ia pun, ketika Muhammad sudah berada di Dir’iyyah, pernah memintanya secara khusus agar membuat sebuah tulisan tentang urgensi dari mengetahui Allah, Rosulullah dan Islam beserta dalil-dalil tentang itu semua. Muhammad pun menulis Tsalatsah Al-Ushul wa Adillatuha.

Seperti ihwal Muhammad yang mengirim surat-surat pribadi ke orang-orang tertentu dalam rangka berdakwah, Abdul Aziz bin Muhammad sempat mengirim tulisan-tulisan Muhammad ke berbagai tokoh yang dikenalnya. Pernah suatu hari, ia mengirim tulisan Muhammad yang berjudul Kitab At-Tauhid alladzi Haqqullah ‘alal ‘Abid kepada seorang menteri di Bagdad.

Syawwal 1206 H

Yang patut dicatat adalah bahwa kepemimpinan Dir’iyyah pada saat itu tetap berwibawa, meski berada di bawah kekuasaan Abdul Aziz bin Muhammad. Baginya pribadi, hakikat kepemimpinan Dir’iyyah tetap berada di pundak Muhammad.

Keadaan seperti ini terus berlangsung ketika memasuki abad ke-13 H. Tepat pada tahun 1206 H, Muhammad meninggal dunia.

Bermula dari sakit yang diderita olehnya, sekitar bulan Syawwal tahun 1206 H. Sakit itu dirasakannya sampai akhir bulan. Pada hari Senin, masih di akhir bulan itu, Muhammad meninggal dunia dalam usia 92 tahun, di Dir’iyyah. Ia meninggal dunia tanpa meninggalkan harta sedikit pun.

sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2010/11/08/biografi-muhammad-bin-abdilwahhab/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s