BERTEMU ALLAH TAK HARUS DI SYURGA

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi riwayat Shahih Al Bukhari, dan diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana ketika penduduk surga dikumpulkan dan Allah subhanahu wata’ala bertanya kepada mereka: “Wahai hamba-hambaKu, maukah kalian Kuberi (kenikmatan) lebih dari semua ini?”, maka penduduk surga berkata: “Wahai Allah, kenikmatan apalagi yang melebihi semua ini, Engkau telah mengampuni dosa-dosa kami dan menjauhkan kami dari api neraka, dan Engkau telah memberikan kepada kami limpahan kenikmatan yang abadi, maka apalagi yang melebihi dari semua ini?!”, lalu Allah subhanahu wata’ala menjawab:

أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُم أَبَداً

“Kuhalalkan (Kuberikan) untuk kalian keridhaanKu, dan Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya”

Maka jelaslah bahwa keridahaan Allah subhanahu wata’ala adalah puncak kenikmatan Ilahi yang melebihi segala kenikmatan-kenikmatan di surga.

Sahabat Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?” Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?” “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sahabat Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Di lingkungan kita banyak orang-orang, saudara-saudara, tetangga yang bertanya-tanya. Apa sih yang sebenarnya dicari di dunia ini? Jawabanya sangat bervariasi, ada yang mencari uang, mencari jabatan, mencari pengaruh dan sebagainya. Tetapi apakah akan selesai begitu saja? Untuk apa setelah semua itu kita cari? Inilah bagian yang paling penting. Allah berfirman QS. Alh-Qashash: 77 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Dapat disimpulkan berdasarkan ayat di atas bahwa sebenarnya tujuan kita mencari apa-apa di dunia ini adalah untuk kebahagiaan di akhirat dan mengabdi kepada Allah subhaahu wa ta’ala. QS. Adz-Dzariyat: 56, “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Tetapi fenomena yang ada di lingkungan kita banyak saudara-saudara kita yang belum seperti firman Allah. Kenapa seperti itu? Alasan yang paling utama adalah kesibukan sehingga melupakan Allah subhanahu wa ta’ala. Malas adalah alasan kedua, karena belum mengerti manfaatnya, karena tidak tahu informasi dan malas mencari dan kembali karena sibuk. Allah telah menyindir dalam QS. Al-A’la: 16-17, “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.

Ada sebuah pertanyaan, sudah berapa lama kita menjadi seorang muslim? Setelah sekian tahun kita hidup menjadi seorang muslim, 30 tahun misalnya. Seharusnya kita memandang segala sesuatu itu dari segi positifnya, kenapa? Karena kita telah menjadi seorang Doktor dalam berperilaku beragama. Kita menempuh SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 4 tahun, S2 2 tahun, S3 2 tahun, jika ditotal selama 20 tahun kita sekolah. 20 tahun untuk memperoleh gelar Doktor, 10 tahun kita menerapkan syariat agama. Seharusnya kita mampu berinstropeksi diri dan mampu berubah menjadi lebih baik.

Marilah kita bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala dengan apa saja. Dalam matemtatika misalnya, setiap bilangan pada akhirnya kita bertemu dengan Allah. Karakteristik bilangan ada 3 (tiga) yaitu nol, positif dan negatif. Sama seperti kita sekarang ini, Nol tidak memiliki apa-apa, artinya banyak orang yang sifatnya sama dengan bilangan Nol, acuh tak acuh terhadap orang lain. Bilangan negatif, setiap ada kesempatan digunakan untuk berbuat negatif, menguntungkan dirinya sendiri/merugikan orang lain. Bilangan positif, hampir setiap kesempatan sekecil apapun digunakan untuk berbuat positif yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain/masyarakat. Bilangan desimal, di Al-Qur’an disebutkan mulai dari nol, seribu, pecahan, semua tidak ada yang sia-sia. Kapan saja, di mana saja, dengan ilmu apapun kita akan bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Contohnya, Kelelawar binatang yang punya indera tajam ketika malam hari, tapi berbeda ketika di siang hari. Keadaan terang penuh cahaya, kelelawar justru enggan keluar. Padahal umumnya binatang siang hari banyak cahaya adalah waktu yang baik untuk cari makan. Contoh kelelawar ini bisa dijadikan contoh buat kita.

Nikmatnya sehat bisa kita bayangkan ketika kita rasakan kala kita sakit. Nikmatnya kaya bisa kita bayangkan kala kita tidak banyak uang, nikmatnya makan bisa dibayangkan kala kita sariawan. Tapi ketika kita sehat, banyak uang dan mulut sehat lupa akan nikmat itu semua. Jangan sampai itu menimpa kita. Jangan sampai kita nunggu gelap baru merasakan nikmatnya siang.

Manfaatkan aji mumpung. Mumpung kita sehat banyakin ibadah, berbuat amal sholeh, kerja yang rajin. Mumpung banyak uang kencengin sedekah, bantu orang yang sudah. Mumpung punya waktu longgar banyakin silaturrahim, cari dan bagi ilmu. Manfaatkan jabatan yang kita pegang untuk berbuat yang benar dan manfaat untuk orang banyak.

Maksimalkan masa muda sebelum tua, gunakan waktu longgar sebelum datangnya waktu sempit, manfaatkan masa sehatmu sebelum sakit menghampiri dan manfaatkan hidup sebelum ajal datang.

Binatang kecil yang mudah ditemui dimana saja, merayap di dinding bergerak cepat juga terkadang diam, cicak. Terlihat dia mengendap-endap mendekati mangsa. Sesekali bergerak namun lebih sering diam. Nampaknya si mangsa juga tidak menyadari kalau sedang diperhatikan.

Positif kalau dalam kehidupan kita, berada di sebelah kanan menunjukkan kebaikan, negatif di sebelah kiri lambang keburukan. Apa yang membedakan orang yang berkarakteristik positif dan negatif? Orang yang berkarateristik negatif yang terlihat adalah kekurangan saja, sedangkan yang berkarakteristik positif maka yang terlihat adalah kelebihannya. Apa bedanya orang yang bahagia mempunyai karakteristik positif dengan orang yang kecewa memiliki karakteristik negatif? Subhanallah, orang yang memiliki karateristik negatif akan menjadi baik kalau diberi arah vertikal. Kalau orang sudah kenal dengan arah vertical akan menjadi positif, artinya kenal dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam matematika dikenal ilmu perbandingan. Berapapun bilangan itu kalau dibandingkan dengan bilangan yang lebih besar ia akan menjadi lebih kecil bahkan nol. Misalkan, kita punya uang Rp. 10.000,- ia tidak akan berarti ketika kita punya uang Rp 1.000.000,-. Berapapun/apapun jika dibandingkan dengan tak terhingga hasilnya adalah nol. Sekarang pertayaannya, siapakah yang terhingga itu? Jawabanya Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam pandangan Allah semua tidak ada artinya.

Hidup ini adalah reality show. Ketika datang seorang peminta, kita tidak memberi. Malaikat menyaksikan perbuatan kita. Semua yang kita kerjakan disaksikan dan dicatat oleh malaikat. Tapi kita bersikap tak acuh seperti bilangan Nol.

Allah mengatur semua apa yang terjadi di dunia, semua indah. Namun ketika belum selesai, kita menyimpulkan itu jelek/buruk apalagi ketika kesandung masalah. Ketika peristiwa itu berakhir/selesai, pada akhirnya kita merasakan keindahan itu. Subhanallah. Segala ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia. Hanya saja kita terburu-buru menyimpulkan. Semua akan indah pada waktunya.

Buah jeruk, apa yang tidak kita sukai dari buah ini? Kulitnya, rasa asam, bijinya, seratnya. Ketika ditanya negatifnya jeruk, ternyata sulit sekali dicari. Kalaupun ada itu hanya sedikit. Ketika ditanya positifnya/manfaatnya, maka banyak sekali didapatkan. Hal yang demikian tidak hanya berlaku pada buah jeruk tetapi semua ciptaan Allah nilai positifnya jauh di atas nilai negatifnya. Bahkan ketika dilihat dar kcamata positif, maka tidak ada nilai negatifnya. Tergantung darimana kita melihatnya. Artinya hikmah di dalam negatif tersebut. Persoalan apaun yang terjadi di keluarga kita, di masyarakat kalau dilihat dari kacamata positif semua menjadi positif, karena kita dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika kit tidur, di tembok kita melihat binatang kecil yang luar biasa. CICAK. Bayangkan, bertelur di sela-sela dinding, pojok lemari ada juga yang di belakang pigura. Anak cicak lahir tanpa dibekali sumber daya yang mencukupi jika dibandingkan dengan daerah hidup dan mangsanya. Apa yang terjadi pada kita jika lahir di suatu daerah yang tidak terdapat sumber makanan. Cicak lahir dan hidup di dinding, apa sumberdaya di dinding? Nyaris tidak ada. Tembok terbuat dari semen mulus, dicat mengkilat dan selalu kita bersihkan dan cat ulang. Nyaris tidak ada makanan.

Sumber makanan cicak mampu terbang tinggi, bisa menghindar dengan mudah. Namun cicak tidak pernah mengeluh apa lagi putus asa. Optimis bahwa dia mampu menangkapnua meski tidak punya sayap. Terbukti tidak ada cicak kelaparan, kena sakit maag apalagi busung lapar. Kerja keras pantang menyerah dan mampu bertahan hidup.

Bagaimana dengan kita? Dianugerahi sumber daya alam melimpah, otak encer, dan fisik sempurna. Harusnya tidak mengenal kata menyerah, putus asa, pesimis dan kekurangan makan.

Tuhan sudah menunjukan contoh melalui ciptaannya. Dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan akan mencukupi dan memenuhi kebutuhan kita.

Ketika shalat kita bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Menurut ilmu fisika, ada benda hidup dan adan benda mati. Tetapi menurut al-Qur’an tidak ada benda mati. Semua bertasbih kepada Allah subhaahu wa ta’ala. Hanya manusia yang lupa. Sebenarnya kita tidak jauh dari Allah. Allah lebih dekat dari urat leher manusia. Tidak ada jarak sedikitpun. Kita bertemu dengan Allah. Kalau kita menyadari, kita akan terpelihara dari segala macam perbuatan jelek. Dan pertemuan yang paling indah adalah ketika kita shalat. Pertemuan yang sangat istimewa dari seorang hamba dengan penciptaNya. Kita dipanggil untuk menghadap. Dan pertemuan yang sangat indah ketika semua orang tidak tahu. Yaitu di malam hari. Ketika semua makhluk “tertidur”, kita bangun mengambil air wudlu. Air yang kita ambil itu bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pancuran, gayung semua hidup dan bertasbih kepada Allah. Sebelum kita menghadap/sembahyang pada hakikatnya kita bersihkan perbuatan kita. Lalu shalat dengan khusyu’ menyatukn gerakan harmoni dalam shalat kita, bisikian doa diyakini nafas kita yang lembut, diyakini oleh pandangan kita yang tunduk, diyakini oleh pendengaran kita. Itulah sebenarnya kejujuran. Orang yang shalat itu sebenarnya dilatih kejujuran, kenapa? Karena jujur itu apa yang dilihat sama dengan apa yang diucapkan sama dengan yang didengar.

Marilah kita bertemu Allah di mana saja, dengan apa saja yang ada di sekitar kita.

Semoga bermanfaat. Amin.

Oleh: Drs. HM. Taufiq Djafri, MM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s