TANTANGAN HIDUP MASA DEPAN

Tantangan saat ini semakin hari semakin berat. Kehidupan ini semakin hari bukan bertambah ringan tetapi makin hari makin bertambah berat. Ketika Rasulullah berdialog dengan para sahabat, beliau menanyakan :
كيف بكم إذا طغَى نساؤُكم وفسق شبَّانُكم وتركتم جهادَكم قالوا وإنَّ ذلك لكائنٌ يا رسولَ اللهِ قال : نعم والَّذي نفسي بيدِه وأشدُّ منه سيكونُ قالوا وما أشدُّ منه يا رسولَ اللهِ ؟ قال : كيف أنتم إذا لم تأمروا بمعروفٍ ولم تنهَوْا عن منكرٍ قالوا وكائنٌ ذلك يا رسولَ اللهِ ؟ قال : نعم والَّذي نفسي بيدِه وأشدُّ منه سيكونُ قالوا وما أشدُّ منه ؟ قال : كيف أنتم إذا رأيتم المعروفَ منكرًا والمنكرَ معروفًا قالوا وكائنٌ ذلك يا رسولَ اللهِ ؟ قال : نعم والَّذي نفسي بيدِه وأشدُّ منه سيكونُ , قالوا وما أشدُّ منه ؟ والَّذي نفسي بيدِه وأشدُّ منه سيكونُ , يقولُ الله تعالَى : بي حلفتُ لأُتيحنَّ لهم فتنةً يصيرُ الحليمُ فيها حيرانَ .
“Bagaimana pendapatmu (sahabat) jika suatu saat wanita-wanita sudah melampaui batas dan para generasi muda melakukan tindakan amoral, dan semangat juang fi sabilillah mulai runtuh? Sahabat bertanya, apakah itu akan terjadi wahai Rasulullah? Rasulullah berkata: Ya, demi diriku yang berada dalam genggamanNya, bahkan lebih hebat lagi. Sahabat bertanya, apa yang lebih hebat ya Rasulullah? Dia berkata: Bagaimana pendapatmu jika sudah tidak disuruh berbuat kebaikan atau tidak mecegah perbuatan munkar? Sahabat bertanya, apakah itu akan terjadi wahai Rasulullah? Rasulullah berkata: Ya, demi diriku yang berada dalam genggamanNya, bahkan lebih hebat lagi. Sahabat bertanya, apa yang lebih hebat ya Rasulullah? Mengatakan: Bagaimana menurutmu jika suatu saat orang sudah menilai yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf ? Sahabat bertanya, apakah itu akan terjadi wahai Rasulullah? Rasulullah berkata: Ya, demi diriku yang berada dalam genggamanNya, bahkan lebih hebat lagi. Sahabat bertanya, apa yang lebih hebat ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, Allah berkata: saya bersumpah kepada perselisihan Otahan mereka menjadi Halim Hiran.
Suatu saat wanita-wanita sudah melampaui batas dan para generasi muda melakukan tindakan amoral, dan semangat juang fi sabilillah mulai runtuh
Rasulullah mensinyalir bagaimana wanita-wanita melampaui batas, sekarang kita lihat bagaimana wanita-wanita muslimah dan bagaimana wanita-wanita ghairu muslimah yang sudah melanggar aturan-aturan islam. Bagaimana batas-batas kewajaran boleh tidaknya seorang wanita untuk melakukan kegiatan-kegiatan di luar rumah. Sebaiknya wanita-wanita yang bepergian haruslah ditemani mahramnya.
Wanita yang tidak mempunyai mahram yang mendampingi dalam haji maka dia tidak wajib haji. Sebab mahram bagi seorang wanita merupakan bentuk kemampuan melakukan perjalanan dalam haji. Sedangkan kemampuan melakukan perjalanan merupakan syarat dalam haji. Allah berfirman.
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (Ali-Imran: 97)
Seorang wanita tidak boleh pergi haji atau lainnya kecuali bersama suami atau mahramnya, sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Artinya: “Tidak halal bagi wanita bepergian dalam perjalanan sehari semalam melainkan bersama mahramnya” (HR. Bukhari)
Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh pria berduaan dengan wanita, kecuali bila wanita itu bersama mahramnya. Dan janganlah seorang wanita berpergian melainkan bersama mahramnya” Maka seorang sahabat berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji dan aku berkewajiban dalam berperang demikian dan demikian” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Pergi hajilah bersama istrimu” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
Demikian ini adalah pendapat Hasan Al-Bashri, Al-Nakha’i, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir dan Ahli Ra’yi (madzhab Hanafi). Dan pendapat ini adalah pendapat yang shahih karena sesuai dengan keumuman hadits-hadits yang melarang wanita bepergian tanpa suami atau mahramnya. Tapi pendapat tersebut berbeda dengan pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan Al-Auza’i. Di mana masing-masing menentukan syarat yang tidak dapat dijadikan hujjah.
Ibnul Mundzir berkata: “Mereka meninggalkan pendapat dengan lahirnya hadits dan masing-masing dari mereka menentukan syarat yang tidak dapat dijadikan hujjah”.
Namun saat ini tidak ada/sedikit sekali yang mengingatkan hal tersebut sehingga yang bukan mahramnya dijadikan mahram. Yang dijadikan hujjah adalah untuk keamanan, yang pada akhirnya sampai ada yang kebablasan.
Begitu pula aktivitas-aktivitas di luar dan batas-batas aurat wanita sangat memprihatinkan. Sampai-sampai ada kelompok bapak-bapak yang disebut Suami-suami takut istri karena para suami dikendalikan para istri (dalam arti negatif). Wanita-wanita di luar aturan main dalam islam melakukan pelanggaran-pelanggaran syar’i yang bisa dilihat/diteliti.
Generasi saat ini banyak melakukan tindakan amoral, mulai meninggalkan masjid. Kegiatan mereka cenderung ke klub-klub, kafe-kafe, sering minum minuman yang memabukkan. Mendekati bahkan memakai narkoba. Dan yang lebih parah lagi kalau semangat jihad sudah mulai runtuh.
Berjuang/jihad itu luas. Mengurus dari hal kecil yaitu diri sendiri, keluarga, tetangga, masyarakat bahkan dalam sekup yang lebih luas yaitu negara.
Tidak Disuruh Berbuat Kebaikan Atau Tidak Dilarang Perbuatan Munkar, Orang Sudah Menilai Yang Ma’ruf Menjadi Munkar Dan Yang Munkar Menjadi Ma’ruf
Korupsi dianggap sesuatu hal yang biasa, bahkan dilakukan dengan sistem jaringan sehingga sulit pembuktian. Para pelaku mengatakan mencari razeki yang haram sulit setengah mati apalagi yang halal. Ini adalah pernyataan yang sesat lagi menyesatkan. Dan orang yang sesat tempatnya di neraka kelak.
Fenomena yang terjadi di masyarakat, ketika ada yang menikah lebih dari satu dinilai suatu aib, dan ketika ada yang memiliki simpanan/selingkuhan dianggap biasa. Apakah ada yang berani menggugat? Itulah yang telah dikabarkan Rosulullah suatu saat orang menilai sesuatu yang ma’ruf terlihat munkar dan yang munkar terlihat ma’ruf di mata manusia.
Pandangan menikah lebih dari satu adalah warisan orde baru. Orang yang mau melakukan pernikahan resmi ke KUA harus minta izin resmi ke Pengadilan Agama, ditanya oleh petugasnya, “Pak, istri pertama punya anak apa tidak?” ia menjawab, “Ya!” Petugas berkata lagi, “Berarti istrinya masih sanggup melayani Bapak kan?” ia menjawab, “Ya!” Petugas berkata lagi, “Itu tidak memenuhi syarat untuk menikah lagi Pak”. “Kenapa?” Petugas menjelaskan bahwa syarat untuk bisa menikah lagi adalah istri tidak bisa memiliki anak, istrinya sakit, istri tidak mampu melayani suami. Akibatnya apa ketika tidak diizinkan menikah lagi di Pengadilan Agama (KUA) akhirnya orang tadi menikah sirri artinya menikah tidak tercatat di KUA yang menurut UU Pernikahan No. 1 tahun 1974 tidak sah.
Di entertainment, banyak sekali tayangan yang membuka aib orang lain dianggap biasa. Ratingnya sangat tinggi karena banyak sekali yang menonton. Tetapi yang tuntunan justru sekarang kalau tidak bisa jadi tontonan tidak disukai. Ini adalah sebagian kecil saja.
Hidup ini perlu ditata dengan baik, karena tantangan masa depan semakin berat. Islam kita tidak akan goyah selama tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
QS. At-Taubah: 109, “Maka Apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan Dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim”.
Ayat ini menegaskan kepada kita membangun suatu prinsip kehidupan berdasarkan ketaqwaan kepada Allah itu yang baik, yang akan membahagiakan kehidupan kita di akhirat nanti. Sesuai dengan janji Allah “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)
Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.
Semoga bermanfaat.
Oleh Drs. Abu Sofyan, MA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s