HADAPKAN WAJAHMU LURUS KE AGAMA ALLAH

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Ruum: 30) Sesuai perintah ini mari kita hadapkan wajah kita dengan lurus ke agama Allah Subhanahu wa ta’ala. Apapun yang terjadi tidak ada alasan yang boleh untuk berpaling daripadanya meskipun banyak cobaan yang menimpa. Termasuk kemiskinan yang melanda kita, apakah kelompok elit (ekonomi sulit), chrise hutabarat (krisis ekonomi hutang banyak dan berat, semua itu tidak bisa menjadi alasan untuk berpaling dari Allah. Bahkan kita harus keluar dari kemiskinan karena sangat berat sekali cobaannya dan jangan sampai kita menjadi santapan kaum kapitalis. Dengan demikian, kemiskinan adalah sesuatu yang harus dijauhi. Kalau seseorang terlahir dari keluarga miskin, maka ia harus memiliki keinginan kuat untuk merubah nasibnya itu. Karena, kemiskinan pada dasarnya merupakan suatu kenyataan yang dapat dirubah dengan kemauan kuat dan usaha yang benar. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan kita yang artinya “Kemiskinan mendekatkan pada kekufuran” Janganlah kita menjadi manusa yang kufur. Kenapa engkau kufur kepada Allah? Apa alasanmu? “Tidak ada keberhasilan tanpa kesabaran, tidak ada persoalan tanpa solusi, di balik kesulitan ada kemudahan”. Hadapi persoalan hidup dengan sabar. Tidak lari dari kesulitan, tidak menyerah pada kesulitan. Jika kita bisa keluar dari kesulitan, kita pasti jadi pemenang. Pada QS. Ar-Ruum: 30 ini menyebut kata fitrah sebanyak 3 kali. Ada apa dengan kata fitrah ini? Dalam kamus bahasa Indonesia, kata fitrah berarti kesucian, juga berarti sifat-sifat asli. Setiap manusia yang lahir di dunia telah diberi fitrah tersebut sebagaimana dalam asmaul husna. Allah mencipta, manusia juga mencipta hanya saja ciptaannya berbeda dengan Allah. Allah mencipta dari yang tidak ada menjadi ada, manusia mencipta dari yang ada menjadi bentuk lain. Sifat ar-rahman ar-rahiim artinya maha pengasih dan penyayang. Allah telah memberi potensi kepada kita, tinggal bagaimana kita mengembangkan potensi yang telah diberikan. Sebagaimana hadits qudsi yang artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah swt memiliki seratus rahmat. Satu rahmat Allah diturunkan kepada jin, manusia, binatang-binatang ternak dan binatang-binatang melata. Maka dengan satu rahmat tersebut mereka saling mengasihi; dengan satu rahmat itu pula mereka saling menyayangi; dan dengan satu rahmat itu pula binatang buas sayang kepada anaknya. Sedangkan 99 rahmat Allah (sisanya) akan diberikan pada hari kiamat, yang dengan 99 rahmat itu Allah menyayangi hamba-hamba-Nya.” (HR Muslim)”. Ketika seorang pelacur melihat seekor anjing kehausan menunggu ada air di sungai/kolam tetapi anjing tidak bisa turun sementara anjing sudah hampir mati karena kehausan. Sang pelacur melihat anjing tersebut lalu turun mengambil air semangkuk lalu diberikan kepada anjing, maka selamatlah sang anjing dari kematian. Karena keikhlasan dan perjuangannya, karena rasa kasih sayang yang Allah titipkan kepadanya maka diampunilah semua dosa-dosanya sehingga ia masuk surga. Kalau kepada anjing saja kita memiliki kepedulian, punya rasa kasih sayang yang tinggi apalagi kepada sesama manusia. Perlu diingat bahwa Allah juga menitipkan seperseratus rahmatNya kepada hati kita semua. Masihkah terjaga dengan baik? Masihkah tersimpan dengan baik? Masihkah senantiasa diasah seperseratus rahmat yang dititipkan kepada hati kita semua? Kita sendirilah yang tahu jawabannya. Rasulullah telah menjelaskan “Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketaqwaan kepada Allah”. (HR. Ad-Dailami). Oleh karena itu mari bangkit membangun ekonomi kita, mari kita menjadi orang yang tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Rizki yang Allah berikan kepada kita itu sebagian Allah titipkan untuk yang lain. Rasulullah berkata: “Tidaklah engkau dibantu dan diberi rizki kecuali melalui orang-orang yang lemah di antara kalian”. Al-Qudus bermakna suci. Ketika kita dilahirkan dalam keadaan suci.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ.

“Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi”. Kita diciptakan Allah dalam keadaan suci, kembali kepada Allah pun juga dalam keadaan suci. Kalau belum bersih maka akan dibersihkan dulu. Di mana membersihkannya? Di neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Maka dari itu jadilah pribadi yang bersih. Pikiran, pandangan, ucapan, hati yang bersih. Allah cinta kepada orang-orang yang bersih. Islam itu bersih. “Islam itu dibangun di atas yangbersih, maka jagalah kebersihan dirimu, sesungguhnya yang akan masuk surga hanyalah orang-orang yang bersih.” (HR.Baihaqi)”. Jadilah pribadi, keluarga, lingkungan, masyarakat, kota, Negara yang bersih. “Beruntunglah orang yang telah mensucikan hatinya dan merugilah orang yang telah mengotorinya”.(Q.S. 91 As-Syamsi: 9-10). Membersihkan diri dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsi). Bersihkanlah diri kita dengan taubat, shalat, bersihkan dosamu dengan taubat, bersihkan aqidahmu dengan syahadat, bersihkan hartamu dengan zakat dan bersihkan pergaulanmu dengan maaf. QS. Ali Imron: 133 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. Syarat taubat: 1. Menyesal. Walaupun mulut berbuih meminta ampun tapi hati tidak menyesal, taubat kita perlu diperbaharui. Tahapan penyesalan: – Mengakui bahwa yang dilakukan itu dosa – Berjanji tidak mengulangi – Sesali daging yang tumbuh dari rizki yang haram – Tumbuhkan dagingmu yang baru dengan rizki yang halal. – Kembalikan hak makhluk yang pernah dirampas. Insya Allah taubat kita akan diterima. 2. Menjadi manusia yang bersih. Allah maha suci, kita dilahirkan juga dalam keadaan suci. Kita kembali juga harus dalam keadaan suci. Kalau belum bersih maka kita akan dibersihkan terlebih dahulu melalui azab neraka. Al-Khaliq, maha Pencipta. Apakah Allah juga mencipta? Kadang-kadang kita keliru memahami, manusia juga diberikan kemampuan untuk mencipta tetapi berbeda dengan menciptanya Allah. Allah mencipta dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Alam dan seisinya yang tadinya belum ada menjadi ada adalah ciptaan Allah. Manusia mencipta sesuatu yang sudah ada menjadi bentuk lain. Manusia membuat mobil. Bahan-bahannya sudah diciptakan oleh Allah. Allah menantang kita “Wahai jin dan manusia, lintasilah olehmu penjuru langit maupun bumi, kamu tidak akan mampu melintasinya kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan sultan (ilmu)”. Maka dari marilah kita menjadi orang yang berilmu. Allah berfirman QS. Al-Mujadalah: 11, “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan…”. Dengan ilmu, bumi ditusuk maka keluar minyaknya. Gunung diruntuhkan maka keluar semennya, batu bara. Besi dimasukkan ke pabrik keluar jadi mobil, motor, jadi segala macam kebutuhan. Ini semua ciptaan manusia,dari sesuatu yang sudah ada menjadi bentuk lain. Semua itu membutuhkan ilmu. Ilmu yang seimbang, yang cerdas secara intelektual, cerdas secara spiritual dan cerdas secara emosional. Menurut pandangan agama tidak sama dengan menurut pandangan dunia. “Shalat sunat dua rakaat yang didirikan anak adam di ujung malam itu timbangannya lebih berat daripada dunia dan isinya”. Marilah kita jaga seperseratus tersebut dengan baik.

Oleh: Buya HM. Alfis Chaniago

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s