Memburu Lailatul Qadar Di Malam Tanggal Genap


Dalam kitab Al Muhalla, Ibnu Hazm Al Andalusi berkata:
ليلة القدر واحدة في العام في كل عام، في شهر رمضان خاصة، في العشر الاواخر خاصة، في ليلة واحدة بعينها لا تنتقل أبدا إلا انه لا يدرى أحد من الناس أي ليلة هي من العشر المذكور؟ إلا انها في وتر منه ولا بد،
Lailatul Qadar itu ada hanya sekali dalam setahun, dan hanya khusus terdapat di bulan Ramadhan-nya serta hanya ada di sepuluh malam terakhirnya, tepatnya hanya satu hari saja dan tidak akan pernah berpindah harinya. Namun, tidak ada satu orang manusia pun lailatul qadar jatuh di malam yang mana dari sepuluh malam tersebut. Yang diketahui hanyalah bahwa ia jatuh di malam ganjil.

فان كان الشهر تسعا وعشرين فأول العشر الاواخر بلا شك ليلة عشرين منه، فهى إما ليلة عشرين، وإما ليلة اثنين وعشرين، وإما ليلة أربع وعشرين، واما ليلة ست وعشرين، واما ليلة ثمان
وعشرين، لان هذه هي الاوتار من العشر الاواخر
Andaikata Ramadhan itu 29 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.

، وان كان الشهر ثلاثين فأول الشعر الاواخر بلا شك ليلة احدى وعشرين، فهى إما ليلة احدى وعشرين، واما ليلة ثلاث وعشرين، واما ليلة خمس وعشرين، واما ليلة سبع وعشرين، واما ليلة تسع وعشرين، لان هذه هي أوتار العشر بلاشك
Andaikata Ramadhan itu 30 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27, atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.
[Sampai di sini perkataan Ibnu Hazm]

Kita semua tahu bahwa penentuan 1 Syawal atau penentuan berapa hari bulan Ramadhan itu ditentukan di akhir Ramadhan dengan ru’yatul hilal. Dengan kata lain, di tengah bulan Ramadhan kita belum tahu apakah bulan Ramadhan itu 29 atau 30 hari. Jika demikian, maka probabilitas jatuhnya lailatul qadar adalah sama di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Dengan kata lain, di malam tanggal genap pun bisa jadi saat itu lailatul qadar, berdasarkan penjelasan Ibnu Hazm di atas. Oleh karena itu, kurang tepat kalau kita memburu lailatul qadar hanya pada malam tanggal ganjil saja.

Wallahu’alam.

Reposting dari https://kangaswad.wordpress.com/2010/09/02/memburu-lailatul-qadar-di-malam-tanggal-genap/

Iklan

Mahligai Cinta Di Pelataran Kampus


5imagesMakalah Kajian Sabtu-Ahad

@Masjid Ibnu Sina FK UGM, Sabtu, 27 April 2013

Kampus..

Dari sinilah akar reformasi jiwa muda

Reformasi masa bermain indah SMA

Sebelumnya sekedar bercanda memikirkan kesenangan

Dari sinilah masa depan mulai ber-asa

 

Di kampus ini, mulai mengenggam tekad, bartaubat dari bersenang-senang

Di kampus ini, mulai berbilang cita dan memungguk amanah

Di kampus ini, mulai ter-ngiang ma’isyah, penopang hidup

Di kampus ini, mulai terbayang siapakah A’isyah-ku kelak

 

Siapakah A’isyah itu, yang cerdas mengingatkan kelalaian agamaku

Siapakah khadijah itu, yang melahirnya untukku para hafidz dan hafdizah

Siapakah Asiyah itu, yang sabar mendampingiku

Siapakah fatimah itu, yang bahagia-nestapa setia

 

Diakah sebagaimana Abu bakar, yang lembut dan berlimu membimbingku

Diakah sebagaimana Umar , yang kuat menegarkanku dalam istiqamah

Diakah sebagaimana Ustman, yang dermawan memanjakanku

Atau diakah sebagaiman Ali, yang muda dan cerdas memimpinku

 

Kan tetapi kudapati Al-Quran dan Sunnah

Agar tetap santai, tenang dan damai bersama ilmu

Sampai saatnya bergerak dan menjemput

Kemudian bertandang dengan jantan, melihat, berucap dan sah

 

Takkan mau seperti yang gelisah, berbolak-balik di sunyi malam

Takkan mau seperti yang bergulana, memendam rindu yang menyiksa

Takkan ingin seperti Qais yang menciumi tembok-tembok, berharap Laila cinta berbalik

Takkan ingin seperti yang bermuram dalam, menerima undangannya bersama yang lain

 

Ku kan tetap santai, tenang dan damai

Tidak bergelut dalam dunia seperti itu

Tidak akan menjamah sedikitpun

Sampai tiba saatnya berbuka puasa cinta

 

Mahligai cinta

Dimanakah mahligai cinta? kemana ia bersemanyam? Bagaimana jika ia sudah menusuk? Apa pula jika ia sudah menerawang?

 

Begitu banyak manusia yang mencoba mendefinisikan cinta, mencoba menguak misteri cinta, mencoba membuka tabir pengertian cinta dan mencoba meraba-raba apa yang tersembunyi di balik cinta dan mencoba memberikan arti pasti mengenai cinta. Namun sampai sekarang manusia belum mampu mendefiniskan cinta secara pasti dan jelas serta mewakili semua perasaan manusia yang pernah merasakan atau sedikit mencicipi cinta.

 

Hal ini telah dikemukan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullahu, ulama pakar hati, beliau berkata:

لَا تُحَدُّ الْمَحَبَّةُ بِحَدٍّ أَوْضَحَ مِنْهَا. فَالْحُدُودُ لَا تَزِيدُهَا إِلَّا خَفَاءً وَجَفَاءً. فَحَدُّهَا وُجُودُهَا. وَلَا تُوصَفُ الْمَحَبَّةُ بِوَصْفٍ أَظْهَرَ مِنَ الْمَحَبَّةِ

“Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan semakin kabur, definisinya adalah keberadaan cinta itu sendiri. Cinta tidak bisa digambarkan dengan gambaran yang lebih jelas dari perasaan cinta tersebut”.[1]

 

Jadi, biarlah cinta itu dirasakan oleh yang ingin merasakannya, karena definisinya tergantung orang yang merasakan dan gambarannya tergantung orang yang mampu menggambarkannya. Namun, tidak ada salahnya kalau kita melihat apa saja definisi cinta yang telah didefinisikan oleh orang-orang yang berusaha menyelami makna cinta.

 

Adanya yang mendefinisikan cinta dengan ungkapan:

من أحب أكثر من ذكره

“Barangsiapa yang mencitai, pasti akan banyak menyebut-nyebut/mengingat”

 

Maksudnya jelas, apabila kita mengklaim mencintai sesuatu kita pasti akan sering mengingatnya, sering bayangan yang kita cintai akan bermain dialam pikiran kita. laki-laki yang telah jatuh hati kepada seorang wanita, maka wanita tersebut akan sering dingatnya dalam segala kondisi. Bisa jadi saat makan, saat sholat, saat akan tidur bahkan laki-laki tersebut akan mengingatnya walaupun hanya sekedar melihat atau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan wanita tersebut. misalnya hanya mendengar namanya jantungnya berdebar, hanya karena lewat di depan rumahnya hatinya akan bergetar atau hanya karena melihat sepatunya hatinya akan bergejolak.

 

Ada  yang mengatakan bahwasanya cinta memiliki kekuatan,

betapa banyak orang yang mampu menahan puasa seharian penuh…

                mampu menahan bekerja berhari-hari…

                mampu menahan berdiri sholat semalam suntuk …

                tetapi belum tentu dia mampu menahan gejolak cinta …

                Illa man rahimahullah (kecuali mereka yang dirahmati Allah) …

                gejolak cinta bagaikan gejolak air yang mendidih …

                gelembun buih didihnya tidak tertahankan menuju keatas …

 

Ada  yang mengatakan bahwasanya cinta adalah anugrah,

Karena cinta,  meliuk satu dahan dengan dahan yang lain …

 Karena cinta, rusa jantan tunduk pada rusa betina …

Karena cinta, burung pipit menghampiri bunga di tepi sungai …

 

Tapi lihat bagaimana tanpa cinta …

Akan menangis tanah yang kering terhadap awan yang hitam …

Bumi tidak akan tertawa walaupun bunganya berkembang di musim semi

Dan tanpa cinta ….

tidak ada lagi bahu untuk bersandar dan …

tidak ada pula pangkuan untuk menangis ..

[terisnpirasi dari Ustadz Armen Halim Naro, Lc rahimahullah]

 

Ada  yang mengatakan bahwasanya cinta adalah melemahkan

                Lihatlah seorang laki-laki dengan segala kebesarannya

                Jalannya yang tegak dan gagah

                Otot kekarnya yang menopang teguh badannya

                Bibir dan lidahnya yang bersuara lantang

 

                Tatkala bertemu dengan pujaan hatinya

                Melemahlah badannya

                Seakan-akan lepas sendi-sendinya

                Bibirnya kaku tak mampu berbicara

 

                Dan ilhatlah wanita dengan segala kemanjaannnya

                Tatkala bertemu dengan tumpuan hatinya

                Pipinya yang merah semakin memerah

                 Dan pandangannya yang tunduk semakin menunduk

                Akan tetapi mencuri pandang

Ada juga yang mengatakan bahwasanya orang yang jatuh cinta

                Pertama kali kepincut

                Lalu terhanyut

                Kemudian bertekuk lutut

                Cintanya laksana kentut

                Jika ditahan sakit dan jika dikeluarkan malu

 

Namun ada yang kurang setuju memisalkan cinta dengan kentut. walaupun kenyataan cinta jika di tahan sakit dan dikeluarkan malu, akan tetapi perkara cinta terlalu agung jika di misalkan dengan kentut.

 

Begitu banyak definisi tentang cinta dan manusia berusaha mendefinisikan cinta dengan berbagai cara, mereka mendefinisikan dengan berbagai sudut pandang, namun terlepas dari itu semua penulis yakin bahwa pembaca tidak perlu mengatahui definisi yang global dan menyeluruh mengenai cinta kerana setiap manusia pasti akan merasakan cinta dan akan mengerti apa itu cinta seiring dengan terus berputarnya jarum jam dan berjalannya waktu

 

Kehidupan kampus

Bagi para pemuda yang peduli terhadap agamanya, ada satu dari berbagai ujian yang dihadapkan kepada mereka, yaitu permasalan cinta asmara. Tidak pelak lagi, penyebabnya adalah bercambur baur laki-laki dan wanita dengan berbagai interaksi selama di kampus. Melirik ketika praktikum, berjumpa di jalan, beradu argumentasi ketika diskusi serta berbagai pandangan yang cepat atau perlahan berubah menjadi pendangan kekaguman, pandangan keserasian dan pandangannya yang berjiwa muda.

Oleh karena itu Islam mengatur agar kita meminimalkan ikhtilat/bercampur baur laki-laki dan wanita. Para Sahabat radhiallahu ‘anhum saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –dengan keimanan mereka juga-, harus bertanya dibelakang hijab.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Nah, bagaimana dengan kita yang keimanan kita di bawah keimanan mereka?

 

Berat menjaga hati di kampus

Kita sudah tahu bahwa kita diperintahkan menundukan pandangan, baik itu laki-laki. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An Nur: 30)

Dan wanita juga menundukkan pandangan, Allah Ta’ala berfirman,

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nuur : 31)

Akan tetapi jiwa muda terkadang memberontak, terkadang mata tidak berkedip walaupun ia sudah tertunduk malu. Terakdang mata seolah melirik secara otomatis kepada dia yang sednag menyeberang jauh. Tidak heran karena, ia adalah kencendrungan hati terbesar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”[2]

Wanitapun demikian, ia saudara kandung laki-laki memiliki perasaan yang sama, memiliki kebutuhan yang sama, lebih-lebi ditambah buaian pujian dan janji angan-angan.

Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنما النساء شقائق الرجال

“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.” [3]

 

Cinta yang tidak halal, bukan urusan kita

Hal ini banyak dan cukup melimpah di kampus, mengotori pojok-pojok taman, membuat resah di ruang kuliah dan menggangu pemandangandengan mengetahui hadits ini, di mana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam besabda

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ

Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.”[4]

Maka tahulah kita bahwa yang seperti ini bukan urusan kita, jika engkau jumpai dan ia dekat denganmu, lebih baik kau nasehati segera menikah saja.

Akan tetapi tidak sedikit, seroang aktivis dakwah kampus ikut berkubang, terbawa arus dan terbuai mimpi. Merasa iri dan ingin melihat sejoli memadu kasih yang semu dan sementara. Padahal ia hanya terasa di awal-awal saja. Selebihnya… pertengkaran, cemburu, salah duga, ngambek dan cuek yang mendominasi. Akibatnya pita sayang digunting dantali kasih diputus. Begitu seterusnya sampai tali habis tidak bercabang dan tidak bsa disambung, jadilah ia wanita dengan berbagai bekas dan akan malu tidak mempersembahkan yang asli dan ranum, tak terjamah kepada suaminya kelak.

 

Persaingan cinta sesama aktivis dakwah

Janganlah kita salah menduga, jangan kira kubangan yang satu ini airnya tidak beriak. Akan tetapi ia danau yang bergelombang besar. Hanya saja danau ini dibalik pegunungan yang tidak terlihat atau terbaca kecuali oleh orang-orang yang mengetahui.

Persaingan itu beraaat. Gerakan bawah tanah yang tersusun rapi. Ada yang patuh dijalur syariat, dengan tiba-tiba saja menyebar undangan di pelosok-pelosok kampus dan peredaran dunia maya. Ia langsung membuatnya legal dan sah. Maka ada yang berlinanglah air matanya membasahi jilbab pojok kamar, ada juga yang sejak menerima undangan tertuntuk lesu, otot laki-lakinya seolah-olah lemah mengangkat tulang dan badannya. Maka ada yang turut bergembira, maka ada yang bersedih, bermuram dan memaksa diri untuk ikut berbahagia.

Dan ada juga yang keluar dai jalur syariat, kata cinta di balik SMS, kata sayang di inbox email dan kata rindu di balik layar dunia maya. Padahal mereka berjenggot, celana mereka di atas mata kaki dan aktif menenteng dakwah. Padahal mereka menutup sempurna, merendahkan suara, dan menenteng Al-Quran di dada mereka.

Hal ini bisa saja terjadi, akal yang istiqamah hilang.Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[5]

Okelah jika ia bisa menahan godaan syaitan, karena Allah ‘azza wa Jalla berfirman,

 

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً

“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” [An-Nisa’:76]

 

Tapi jangan pecaya diri dulu dengan godaan wanita, karena Allah ‘azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim[Yusuf:28]

 

Jika jantan, segera bertamu ke rumahnya

Jika telah sama-sama ridha, merasa hati kelak akan bersatu, merasa ia adalah patner yang tepat, saling bahu-membahu meraih cinta Allah. Maka, temui bapaknya, katakan anda hendak meminta bapaknya agar melapas tanggung jawabnya kepada anda atas izin Allah. Anda bisa datang seorang diri jika percaya diri, atau minta ditemani jika masih malu

 

Tunjukan keseriusan dan pengorbanan anda. Walaupun rumahnya diujung pulau anda datangi, walaupun harus naik-turun bus, menyambung puluhan angkot, dan menyusuri barbagi cabang rel kereta api. Anda tidak akan mundur. Karena wanita ingin keseriusan agar tidak mengambang dibawa arus. Karena wanita lemah dan bisa “klepek-klepek” dengan pengorbanan laki-laki. wanita tidak tahan terhadap pengorbanan keras laki-laki demi  mencari mencari cinta halalnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لم ير للمتحا بين مثل النكاح

“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan[6]

 

Bagaiman kuliah saya, apa saya hanya kasi makan cinta, siapa yang mengurus jika terlahir generasiku? Maka ini membutuhkan pertimbangan di atas pertimbangan, orang tua, calon mertua, ustadz, guru, teman terdekat dan mereka yang sudah berpengalaman mengakumulasi cinta halal, kampus dan kesuksesan.

 

Jika tidak bisa segera menikah, maka santai, tenang dan damai, urusan cinta setelah kuliah

Fokuslah pada Ilmu, pengembangan diri, menghapal Al-Quran dan hadits, menuntut ilmu agar kelak menjadi manusia yang paling memberikan manfaat. Maka hidup lebih tenang, tidak terusik dan tidak terganggu.

Tidak coba-coba mendekat dengan bergosip ria:

“ si fulanah cantiknya 8 tapi si fulanah lebih cantik lagi nilainya 8,5”

“si fulanah asalnya daerah A, sama dengan daerah antum”

“ada akhwat ngetop, akhwat kedokteran lho, katanya jadi asisten anatomi, dah lama ngaji, katanya sih banyak yang ngincer, namanya sampai universitas di pulau A …”

 

Tidak mencoba memboking:

“ukhti, nampaknya hati saya sudah bertaut kepada ukhti, insyaAllah saya serius sama ukhti, nanti saya akan nikahi ukhti LIMA TAHUN LAGI setelah saya lulus dan dapat kerja”

 

Tidak mau tahu dengan persaingan cinta tidak halal aktivis dakwah

Tidak ikut dalam hirup-pikuk ta’aruf palsu yaitu TTM (Ta’aruf Tapi Mesra)

Pokoknya saya tidak ikut, tidak mau tahu dan tidak berkecimpung dulu

 

Biar mereka sajalah, kami sementara sibuk bertemankan kitab-kitab di rak kamar, sibuk mendatangi majelis, sibuk menyetorkan hapalan, sibuk berbakti mencari senyum ayah, sibuk menyelesaikan amanah kuliah dari ibu, sibuk menjadi panitia atau bisa juga sibuk memulai bisnis kecil-kecilan sebagai pengalaman.

Karena kami yakin dengan Janji Allah pencipta kami,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An-Nur: 23)

Pernahkah kalian berpuasa? Menahan makan dan minum, kemudian kalian berbuka, aduhai nikmatnya. Ya, kami juga berpuasa dari hal tadi, karena kami ingin sama-sama berbuka dengan nikmat, berbuka dengan wanita pencemburu bidadari surga. Maka dikatakan kepada kami –isnyaAllah-dalam surga dunia,

 

وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْساً فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَّرِيئاً

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan . Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” [An-Nisa: 4]

Kita sudah tahu kebahagiaan berbuka puasa dari khabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه

Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak[7]

Demkianlah bahagia kami berbuka puasa cinta.

 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

@Pogung Lor-Jogja, 13 Jamadis Tsani 1434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

 

silahkan like fanspage FB dan follow twitter

 

 


[1] Madarijus Salikin 3/11, Darul kitab Al-Arabi, Beirut, cetakan ketiga, Asy-Syamilah

[2]  HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122

[3] HR. Ahmad no.26195, hasan lighairihi, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth

[4]  HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih dilihat dari jalur lain

[5]  HR. Bukhari no. 304

[6] HR. Ibnu Majah no. 1847, Al-Hakim 2/160, Al-Baihaqi 7/78 dishahihkan oleh Al-Albani dalam As- silsilah As-shahihah no. 624

Al-’Isyq (Penyakit Cinta) Menutup Semua Aib Pujaan Hati


buta-cintaIbnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

هويتك إذ عينى عليها غشاوة … فلما انجلت قطعت نفسي ألومها

“Kecintaanku kepadamu menutup mataku
Namun ketika terlepas cintaku, semua aibmu menampakkan diri
[1]

awalnya saling memainkan sandiwara cinta tak halal saja. setelah sekian tidak lama dan bosan, baru nampak belangnya…
ketika di AWAL

“tolong datang berikan dunk, pengen ditemani belanja” (wuuzzz,5-10 menit tiba)
SEKARANG:
“papa temani belanja yuk”, (jawaban: belanja aja ndiri… sibuk niii)

ATAU, DAHULU:
“yankku, gunung akan kudaki, selat kan kusebrangi, jikalau kangen”
SEKARANG:
“kok ga pernah sms lagi sih?”
“brisik amat ni HaPe sih, gue lagi ada gebetan baru ni (selingkuh)”

Yang terlihat darinya hanya yang baik-baik saja, seakan-akan dunianya dipenuhi dengan bayang semu kebaikan pujaan hati. Setelah lama berlalu masa, setelah jemu melanda, setelah habis sari pati bunga dihisap, barulah ia menyesal
Abul Abbas Al-Hamawi rahimahullah Menjelaskan mengenai Al-‘isyq,

عَشِقَ عَشَقًا مِنْ بَابِ تَعِبَوَالِاسْمُ الْعِشْقُ بِالْكَسْرِ قَالَ ابْنُ فَارِسٍ الْعِشْقُ الْإِغْرَامُ بِالنِّسَاءِ وَالْعِشْقُ الْإِفْرَاطُ فِي الْمَحَبَّةِ رَجُلٌ عَاشِقٌ وَامْرَأَةٌ عَاشِقٌ أَيْضًا.

“Al-’isyq dengan kata kerja ‘asyiqo-‘asyaqon dari bab tasrif tabi’a, menggunakan kasroh
Berkata Ibnu Al-Faris rahimahullah berkata:
“al-’isyq adalah memuja/ menggemari wanita, berlebih-lebihan dalam cinta, istilah untuk laki-laki dan juga wanita.”
[2]

semoga yang terjangkit penyakit ini bisa sembuh dan semoga yang belum tidak akan pernah terjangkiti.

 

@Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

Repsoting dari http://muslimafiyah.com/al-isyq-penyakit-cinta-menutup-semua-aib-pujaan-hati.html

 


[1] Al-Jawabul Kaafi 214, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah

[2] Al-Misbah Al-Munir 2/412, Maktabah ‘ilmiyah, Beirut, Asy-Syamilah

 

Hukum Gambar / Foto Pada KTP,SIM,Ijazah,Surat Nikah,Uang,Pasport


GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPORT

gambar di KTPOleh: Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta

Pertanyaan
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya : Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sangat memerlukan gambar atau foto untuk diletakkan pada Kartu Tanda Pengenal (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), kartu jaminan sosial, ijazah, pasport dan untuk keperluan lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah : Apakah kita boleh untuk keperluan tersebut, jika tidak boleh, bagaimana dengan mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang (memiliki jabatan tertentu), apakah mereka harus keluar atau terus berkecimpung didalamnya?

Jawaban
Mengambil gambar atau berfoto hukumnya haram sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaknat siapa saja yang membuat gambar dan penjelasan beliau bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berat mendapatkan siksa. Hal itu disebabkan bahwa gambar atau lukisan merupakan sarana kepada kemusyrikan, dan kerena perbuatan tersebut sama dengan menyerupakan makhluk Allah.

Tetapi jika hal itu terpaksa dilakukan untuk keperluan pembuatan Kartu Tanda Pengenal, Pasport, Ijazah, atau untuk keperluan yang sangat penting lainnya, maka ada pengecualian (rukhsah) dalam hal yang demikian sesuai dengan kadar kepentingannya, jika ia tidak menemukan cara lain untuk menghindarinya. Sedangkan bagi mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang dan tidak menemukan cara selain dengan cara yang demikian, atau pekerjaannya dilakukan demi kemaslahatan umum yang hanya dapat dilakukan dengan cara itu, maka bagi mereka ada pengecualian (rukhshah) karena adanya kepentingan tersebut, sebagaimana firman Allah.

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang kalian dipaksa kepadanya” [Al-An’am : 119]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

FOTO ATAU GAMBAR WANITA

Pertanyaan
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya : Apakah foto wanita yang terdapat di Pasport atau Tanda Pengenal lainnya merupakan aurat bagi wanita? Apakah dibenarkan bagi seorang wanita yang menolakj berfoto untuk mewakilkan hajinya kepada orang lain disebabkan ia tidak mendapatkan Pasport? Sampai dimanakah batas-batas pakaian yang harus dikenakan oleh seorang wanita yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits?

Jawaban
Tidak diperkenankan bagi seorang wanita untuk berfoto dengan menampakkan wajahnya, baik untuk keperluan Paspor maupun untuk keperluan lainnya, karena wajah merupakan aurat bagi seorang wanita, dan menampakkan wajahnya di dalam Pasport atau kartu identitas lainnya dapat menimbulkan fitnah bagi dirinya. Tetapi jika ia tidak dapat menunaikan ibadah haji disebabkan hal itu, maka ia mendapatkan pengecualian (rukhshah) dalam hal pengambilan gambar wajah guna menunaikan ibadah haji, dan ia tidak boleh mewakilkan ibadah hajinya kepada orang lain.

Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka wajib bagi mereka untuk menutup seluruh anggota tubuh dari yang bukan mahramnya, sebagaimana Allah berfirman.

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ

“..Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka…” [An-Nur : 31]

Dan firman Allah,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“… Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka …” [Al-Ahzab : 53]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]

sumber : http://almanhaj.or.id/content/143/slash/0/gambar-atau-foto-untuk-sesuatu-yang-penting-kartu-tanda-pengenal-pasport/

Repsoting dari http://aslibumiayu.wordpress.com/2014/02/18/hukum-gambar-foto-pada-ktpsimijazahsurat-nikahuangpasport/

Atas Nama Cinta Mereka Berzina


 

Atas nama cinta mereka berzina

Cinta …
Semua orang bicara cinta
Tapi timbangannya beda-beda
Cinta di atas agama, atau cinta berujung petaka?
Petaka muncul bila cinta diukur sebatas nafsu
Atas nama cinta mereka berzina

Zina dibilang cinta

Karena sekarang banyak yang tertipu oleh setan; zina dibilang cinta. Bahkan zina dianggap biasa; sekadar kemaluan bertemu kemaluan.

Subhanallah! La hawla wala quwwata illa billah!!

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, kalau belum halal dalam ikatan nikah, jangan pandang-pandangan dulu. Jangan pegang-pegang dulu. Jangan belai-belai dulu. Dekat-dekat bisa berujung syahwat. Bahaya!

Allah telah mengingatkan hamba-Nya dengan keras tentang hal ini,

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Dan jangan dekati zina! Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’:32)

Berhubungan badan bagaikan keledai

Betapa hinanya orang yang berzina. Mari kita simak bagaimana julukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka.

Shahabat Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ’anhu menyampaikan bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر و الحرير

Akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina dan sutera.”

Pada akhir zaman, setelah tidak ada lagi kaum mukminin, yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia. Mereka saling melakukan hubungan badan bagaikan keledai, sebagaimana dijelaskan dalam hadits An-Nawwas radhiyallahu ’anhu,

ويبقى شرار الناس يَتَهَارَجُون فيها تهارُج الْحُمُر ، فعليهم تقوم الساعة

Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka kawin di zaman itu bagaikan keledai, maka pada merekalah kiamat itu terjadi.’ ” (HR. Muslim)

Tantangan

Jika ada yang menantang Anda seperti ini: coba berbuatlah semau Anda, tidak perlu taat norma, tak usah patuh kepada agama. Nah, jatah setiap orang ‘kan cuma satu nyawa. Tidak lebih dari itu. Silakan Anda pilih sekarang:

  1. Hidup taat aturan Allah, matinya insyaallah selamat.
  2. Hidup bebas semaunya, matinya nanti “gambling”; tak jelas selamat atau sekarat.

Pasti Anda ingin selamat, ‘kan?

Hidup ini mesti berpegang pada prinsip

Sekali sudah berikrar dengan keislaman, kita mesti berjuang untuk istiqamah. Jauhkan diri dari teman yang merusak, pilih teman-teman yang mengajak berbuat baik. Perbanyak doa memohon pertolongan Allah; di Tangan-Nya hati kita berbolak-balik. Dengan taufik-Nya kita bisa hidup penuh ketenteraman dan kebahagiaan sejati.

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.’”
(HR. Muslim)

Jika diri bergelimang dosa, tak perlu putus asa. Bertaubatlah sebelum terlambat. Pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai kerongkongan. Pintu taubat masih terbuka selama matahari masih terbit dari arah timur.

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap kepada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.

(Hadits qudsi riwayat Tirmidzi, no. 3540; Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih.)

Referensi:

Penulis: Athirah Ummu Asiyah
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel Muslimah.Or.Id

Disunat Sebelum Dikubur?


sunat-150x150Sunat bagi laki-laki hukumnya wajib sedangkan bagi wanita hukumnya adalah sunnah menurut pendapat terkuat.

Dalil tegas wajibnya khitan adalah Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya yang baru masuk Islam  ,

أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ

“Hilangkan darimu rambut kekafiran ( yang menjadi alamat orang kafir ) dan berkhitanlah “[1]

Bahkan Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

أَنَّهُ لَا يَجِبُ الْخِتَانُ حَتَّى يَبْلُغَ فَإِذَا بَلَغَ وَجَبَ عَلَى الْفَوْرِ

“Khitan tidak wajib kecuali setelah baligh. Jika sudah baligh, dia harus segera khitan.”[2]

Demikian juga perintah Allah kepada Nabi Ibrahim alaihissalam agar menyempurnakan kalimat (perintah dan larangan) yang termasuk di dalamnya perintah berkhitan

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan)” (Al Baqarah : 124)

dan kita Umat Islam diperintahkan agar mengikuti ajaran Nabi Ibrahim alaihissalam.Firman AllahSubhanahu wa Ta’ala,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan”.

 

Jika Wajib bagaimana jika meninggal tetapi belum khitan?

Berikut fatwa mengenai hal ini.

س: كنت رجلا بدويا، وأسكن الصحراء قبل ثلاثين عاما تقريبا، وقد رزقني الله في ذلك الوقت ولدا، ولم يبلغ الولد من العمر سوى عام واحد، وقد توفاه الله. والموضوع: أنني لم أقم بتطهيره، وبعد الوفاة وقبل أن أقوم بدفنه خشيت أن يكون علي إثم بسبب عدم تطهيره، فقمت أنا شخصيا بطهارته. أريد أن أعرف من فضيلتكم مدى صحة ما فعلت، وهل كان يلحقني إثم إذا دفنته بدون أن أقوم بطهارته.

Pertanyaan:

saya adalah orang kampung pedalaman, saya ringgal di daerah gurun pasir sekitar 30 tahun yang lalu. Allah telah memberi rezeki kepadaku berupa seorang anak yang belum sampai usia satu tahun ia sudah meninggal. Yang menjadi pertanyaan, saya  belum mengkhitannya. Saya takut terjerumus dosa kemudian saya menyunatnya sendiri sebelum ia dikuburkan. Saya ingin tahu apakah perbuatan saya ini benar? Apakah saya mendapat dosa menguburkannya tetapi belum disunat?

ج: من مات قبل أن يختن فإنه لا يختن على الصحيح من قولي العلماء، وإليه ذهب جمهور العلماء، قال النووي في (المجموع) : (والصحيح الجزم بأنه لا يختن مطلقا؛ لأنه جزء فلم يقطع، …والميت يشارك الحي في ذلك، والختان يفعل للتكليف به وقد زال بالموت. والله أعلم) . ا. هـ.

وعلى ذلك فإن ما قمت به من ختان ولدك بعد موته خلاف الأولى ولا إثم ولا حرج عليك في ذلك؛ لأنك معذور بجهلك الحكم في ذلك.

Barangsiapa yang meninggal sebelum disunat, maka ia tidak disunat menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama. Inilah pendapat jumhur ulama. Imam An-Nawawi berkata,

“yang shahih bahwanya ia tidak dikhitan secara mutlak karena itu adalah bagian dari tubuhnya dan tidak dipotong… mayit sama statusnya dengan orang hidup, khitan dilakukan bagi orang yang sudah mendapata beban syariat dan kematian menghilangkan beban tersebut. Wallahu a’lam.”

Oleh karena itu apa yang engkau perbuat mengkhitan anakmu setelah kematiannya menyelisihi pendapat yang lebih shahih. Akan tetapi tidak ada dosa dan tidak mengapa, karena engkau mendapat udzur karena tidak tahu hukumnya.[3]

 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

 

@Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

 


[1] . HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

[2]  Al-Majmu’, 1:304

[3] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 20106, syamilah

 

Reposting dari http://muslimafiyah.com/disunat-sebelum-dikubur.html

PACARAN Sebelum Menikah, Sarana Jitu Untuk Menjadikan Anak Pertama Anda Menjadi Anak ZINA , Kenapa?


anda-bijak-jauhi-zinaSudah bukan rahasia umum, ketika ada yang sudah cukup umur dan mau menikah, maka banyak yang mencari jodoh dengan cara PACARAN. Bahkan ada beberapa gadis belia yang merasa rugi jika belum punya pacar, atau melewatkan masa mudanya tanpa pacaran. Jadi mereka tidak akan mau menikah sebelum pacaran dulu. Ini sungguh memprihatinkan kita.

Banyak yang menganggap pacaran adalah salah satu cara mencari jodoh, mencari pasangan untuk pernikahan. Anggapan ini sungguh keliru, sebab dalam pacaran penuh sekali kebohongan, kepura-puraan, pengkhianatan dan hal-hal jelek lainnya yang sebagian besar merugikan pihak wanita. Banyak sekali wanita yang menjadi korban.

Banyak yang tidak menyadari akibat dari pacaran akan menghinakan harga diri pelakunya, mencoreng muka sang wanita dan keluarganya, dan banyak yang tidak mengetahui akibat dari pacaran jika berlanjut ke pernikahan, tidak jarang status anak pertama mereka adalah anak zina, anak hasil perzinahan. Anak zina tidaklah sama dengan anak sah hasil pernikahan.Diantara status anak hasil zina adalah :

–  Anak zina tidak boleh dinasabkan ( di bin kan ) kepada bapak biologisnya, dalam hal ini adalah suami dari wanita yang dipacari hingga hamil , jadi sungguh kasihan nasib sang anak, dia akan menanggung beban moral/malu karena merasa sebagai anak zina , jadi misalkan di bin kan, maka ke ibunya, misalkan sebagai contoh dono bin wati , tidak boleh dono bin iwan , ini sebagai permisalan jika pasangan suami istri tersebut adalah iwan dan wati dan dono sebagai anak yang dilahirkan dari hasil zina.

–  Anak zina tidak memperoleh hak waris dari bapak biologisnya, dan ini akan menjadi masalah kelak, apalagi dia sebagai anak pertama, bukan masalah yang sepele,

– Anak zina, jika anaknya adalah perempuan, maka bapak biologisnya tidak boleh menjadi wali ketika si anak menikah, sehingga inipun akan menjadi aib / beban moral bagi si anak, dan jika bapaknya nekat menjadi wali bagi anak perempuan tersebut, maka status nikahnya tidak sah, si perempuan tersebut statusnya adalah zina jika diteruskan pernikahan tersebut,.  memang betul, dosa zina bukan pelakunya saja yang merasakan malu, anak turunannyapun akan kebagian malunya.

– Jika anak zina dinasabkan kepada bapak biologisnya, maka terkena ancaman Allah,yaitu dilaknat oleh Allah,malaikat, dan segenap manusia hingga hari kiamat,..  sungguh akibat yang tidak sepele , bahkan sorga diharamkan bagi mereka, sebagaimana ada dalam hadits, ngeri bukan??

sabda nabi shollallohu alaihi wa sallam :

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً

“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Alloh, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Alloh tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah”

Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu.

Dan dalam riwayat yang lain :

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.”

Dikeluarkan oleh Bukhori dalam al-Maghozi bab : Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab”

Jika akibatnya begitu mengerikan,..  masihkah anda mau pacaran?? silahkan gunakan akal sehat anda wahai para pemuda dan pemudi…

Berikut ini kisah nyata akibat pacaran

Solusi “Kecelakaan” Karena Pacaran

Pertanyaan:

Pacar hamil gimana solusinya secara islami? Menikah dengan pacar yg sedang hamil,gimana hukum islamnya? <caeXXX@yahoo.com>

Jawaban:

Bismillah, was shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillah, ammaa ba’du.

Pertama, sesungguhnya perbuatan zina adalah dosa yang sangat besar, perbuatan keji yang dinilai jelek oleh setiap insan yang memiliki fitrah yang lurus. Karena itu, Allah melarang manusia untuk mendekati perbuatan ini. Tidak hanya perbuatannya yang dilarang, namun semua jalan menuju perbuatan dilarang oleh Allah untuk didekati. Allah berfirman,

وَلاَتَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً

“Janganlah kalian mendekati zina. Karena zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan.” (QS. Al-Isra’: 32).

Oleh karena itu, segala sesuatu yang bisa mengantarkan kepada perzinaan ditutup rapat-rapat dalam ajaran islam. diantara buktinya adalah:

  • Islam mengajarkan agar para wanita berjilbab secara sempurna, dan hanya boleh menampakkan wajah dan telapak tangan. (lihat Alquran surat An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59)
  • Islam melarang wanita suka keluar rumah dan berdandan, dengan menampakkan kecantikannya kepada lelaki. (lihat Alquran surat Al-Ahzab: 33)
  • Islam memerintahkan agar masing-masing di kalangan laki-laki dan wanita untuk menjaga pandangannya, agar tidak melihat sesuatu yang diharamkan, atau tertarik kepada lawan jenis. Dan masih banyak lagi hukum-hukum lainnya yang semuanya menuju satu kesimpulan bahwa islam sangat ketat dalam menjaga hubungan antar-lawan jenis. Bagi mereka yang mengaku muslim, seharusnya memperhatikan aturan-aturan semacam ini.

Kedua, Lelaki maupun wanita yang berzina dan dia belum bertaubat maka dia berhak disebut sebagai pezina. Jika keduanya menikah sementara belum bertobat dengan sebenar-benarnya, maka berarti pernikahan yang terjadi adalah pernikahan antara pezina. Karena itu, bagi yang terjerumus ke dalam perbuatan haram ini, segeralah bartobat. Memohon ampunan kepada Allah dengan disertai perasaan sedih dan bersalah. bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Semoga Allah mengampuni dan menerima taubat anda. Jika tidak, maka selamanya label pezina akan disandangnya. Sebelum membahas nikah, kami tegaskan untuk dengan serius bertobat terlebih dahulu. Baru setelah itu, memungkinkan untuk pembahasan pernikahannya.

Ketiga, tentang hukum menikah dengan wanita yang berzina dengannya. Ulama menjelaskan bahwa dalam masalah ini hukumnya dibagi menjadi dua:

  1. Zina yang tidak sampai hamil. Lelaki tersebut hanya boleh menikahi sang wanita, jika rahimnya telah dipastikan bersih dan tidak ada janin (disebut dengan istibraa’). Acuannya adalah terjadinya haid. jika sang wanita sudah mengalami haid sekali maka keduanya boleh menikah.
  2. Zina yang menyebabkan hamil. Lelaki tersebut tidak boleh menikahi wanita yang hamil dengan dirinya, sampai sang wanita melahirkan janinnya. Karena itu, tidak boleh bagi keluarga wanita untuk menikahkan putri yang sedang hamil dengan lelaki yang menghamilinya. Jika tetap dinikahkan maka nikahnya batal, dan semua hubungan setelah nikah batal adalah hubungan zina. Dengan demikian, menikahkan wanita hamil dengan lelaki yang menghamilinya sebelum dia melahirkan, justru akan menambah dosa. Karena dalam pernikahan ini akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar, yaitu melegalkan perzinaan atas nama nikah. Semua ini ditetapkan agar air mani hasil zina tidak bercampur dengan air mani hasil nikah. Karena air mani zina hukumnya haram dan air mani nikah hukumnya halal. Dan tidak boleh mencampurkan antara yang halal dengan yang haram.

Keempat, Anak hasil zina tidak boleh di-Bin-kan kepada bapak biologisnya, tetapi nanti di-Bin-kan kepada ibunya. Misal: Dono bin Siti. Karena anak itu bukan anak bapak biologis. Meskipun dia menjadi suami ibunya. Siapa yang meng-Bin-kan anak tersebut kepada bapaknya dia terkena ancaman, sebagaimana dalam hadis berikut,

Dari Abu Bakrah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengaku anaknya seseorang yang bukan bapaknya, dan dia mengetahuinya maka surga haram baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara bapak biologis bukanlah bapaknya, karena itu, haram hukumnya untuk menge-Bin-kan dirinya kepada bapak biologisnya.

Subhaanallah...betapa banyaknya kerusakan yang ditimbulkan akibat perzinaan. Mulai dari kerusakan sosial, hingga bentuk mengubah nasab seseorang.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada Allah agar diselamatkan dari perbuatan zina dan setiap sarana yang mengantarkan pada perzinaan. Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, S.T. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.konsultasisyariah.com

sumber artikel tambahan reposting dari :http://abangdani.wordpress.com/2013/09/20/solusi-kecelakaan-karena-pacaran/

http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/05/23/hukum-seorang-wanita-menambahkan-nama-suaminya-di-belakang-namanya/

Reposting dari http://aslibumiayu.wordpress.com/2014/02/05/pacaran-sebelum-menikah-sarana-jitu-untuk-menjadikan-anak-pertama-anda-menjadi-anak-zina-kenapa/#more-8540

Wanita Diciptakan Untuk Menjadi Cantik, Laki-Laki Perlu Waspada Fitnah (Ujian) Wanita


cantik“Beneran ni semua wanita diciptakan untuk cantik? khan ada juga yang jelek, maka sebagian orang bilang ‘cantik itu relatif, jelek itu mutlak’”

Berikut sedikit pembahasan terkait hal ini

Setiap wanita memiliki kecantikan

semua wanita memiliki kecantikan dan diciptakan oleh Allah untuk cantik atau memiliki sesuatu yang bisa menarik laki-laki agar cenderung padanya. karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المَرْأَةُ عَوْرَةٌ إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَ فَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Bila ia keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki).[1] 

Syaikh Abul ‘Ala’ Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء

“Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki), maknanya adalah setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu.”[2] 

Terbukti bahwa setiap wanita memiliki aura kecantikan, tidak sedikit laki-laki yang pertama kali melihat wanita mungkin tidak tertarik, tetapi ketika sudah mulai berinteraksi dan berbicara barulah terbesit dalam hatinya:

“ternyata cewek ini manis juga ya”

“ternyata wanita ini lembut dan enak diajak bicara”

Dan terbukti juga bahwa wanita yang jelek menurut sebagian (besar) orang ternyata ia dapat jodoh dengan mudah dan bisa segera menikah. Bahkan yang cantik malah lama mendapat jodoh

 

Laki-laki perlu waspada dengan fitnahnya

Terlalu banyak hadits dan keterangan dari syariat menegnai bahaya fitnah wanita. Mulai dari sebab pembunuhan pertama dimuka bumi karena wanita, terbunuhnya unta nabi Shaleh ‘alaihissalam karena wanita dan masih banyak kisah lainnya.

Berikut beberapa alasan mengapa perlu di waspadai:

1.Fitnah (ujian) terbesar laki-laki adalah wanita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”[3]

 

2.wanita bisa langsung menghilangkan akal laki-laki yang sebelumnya kokoh dan istiqamah beragama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[4]

 

3.laki-laki lemah terhadap godaan wanita

Allah Ta’ala berfirman,

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” [An Nisa: 2]

Lemah terhadap apa? Lemah terhadap wanita. Imam Al-Quthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya ,

وَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ

“berkata Thowus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita. [5]

 

4.godaan wanita lebih dahsyat daripada godaan setan

Sebagian laki-laki mungkin bisa menahan godaan setan, akan tetapi bisa jadi ia lemah dengan godaan wanita.

Allah ‘azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً

“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” [An-Nisa’:76]

 

Tapi jangan pecaya diri dengan godaan wanita, karena Allah ‘azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim[Yusuf:28]

 

Dan masih banyak dalil-dalil yang lain lagi bahwa memang fitnah wanita itu besar. Cukuplah dengan peringatan Imam para Tabi’in, Said bin Mussayyib rahimahullah, beliau berkata,

ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء

“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia) kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya)dengan wanita.[6]

 

Sebagai informasi mengenai kecantikan wanita, bahwa laki-laki menilai wanita ada tiga macam:

1.Wanita cantik, semua laki-laki berkata dia cantik tapi kadang bisa bisa bosan kalo dilihat

2.Wanita maniez, ini dia yang menggugah, dia tidak cantik-cantik amat, tidak semua laki-laki sepakat atas kecantikannya, tetapi dia istimew,a tak lelah mata memandang, semakin di lihat semakin sejuk, membuat laki-laki penasaran, ada sesuatu yang sulit di ungkapkan, biasanya wanita ini punya suatu innerbeauty, apa itu ya? Dan inilah keadilan Allah, semua wanita bisa menjadi seperti ini..

3.Wanita cantik sekaligus maniez, ini langka bin ajaib bin hampir punah (masa’ sih), ga juga kok, ada juga wanita seperti ini, biasanya wanita yang diberi kecantikan sekaligus ahlak yang mulia masyaAllah.

Anda para wanita, bisa merubah diri anda, dengan menjadi wanita yang lebih baik dengan agama dan akhlak kalian.

 

Demikian semoga bermanfaat

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

 

@Pogung Lor, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

 

 


[1] HR. At-Tirmidzi no. 1173, dishahihan oleh Al-Albani mengatakan dalam Misykatul Mashabih no. 3109

[2] Tuhfatul Ahwadzi 4/283, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Asy-Syamilah

[3]  HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122

[4] HR. Bukhari no. 304

[5] Al-Jami’ liahkamil Quran 5/149, Darul Kutub Al-mishriyah,Kairo, cetakan kedua Asy-Syamilah

[6]  Siyar A’lam An-Nubala’ 4/237, Mu’assasah Risalah, cet. III, 1405, syamilah

Yang Tidak Engkau Sukai Bisa Jadi Lebih Baik


Terkadang seseorang tertimpa takdir yang menyakitkan yang tidak disukai oleh dirinya, kemudian dia tidak bersabar, merasa sedih dan mengira bahwa takdir tersebut adalah sebuah pukulan yang akan memusnahkan setiap harapan hidup dan cita-citanya. Akan tetapi, sering kali kita melihat dibalik keterputus-asaannya ternyata Allah memberikan kebaikan kepadanya dari arah yang tidak pernah ia sangka-sangka.

Sebaliknya, berapa banyak pula kita melihat seseorang yang berusaha dalam sesuatu yang kelihatannya baik, berjuang mati-matian untuk mendapatkannya, tetapi yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dia inginkan.

Saudariku… Seandainya kita mau merenung dan sedikit berfikir, sungguh di setiap apa yang telah Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya, di dalamnya terdapat hikmah dan maslahat tertentu, baik ketika itu kita telah mengetahui hikmah tersebut ataupun tidak. Demikian juga ketika Allah Ta’ala menimpakan musibah kepada kita, maka kita wajib berprasangka baik kepada-Nya. Sudah sepantasnya kita meyakini bahwa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita, baik untuk dunia kita maupun akhirat kita. Minimal dengan musibah tersebut, sebagian dosa kita diampuni oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, maka lihatlah takdir ini dengan kacamata nikmat dan rahmat, dan bahwasanya Allah Ta’ala bisa jadi memberikan kita nikmat ini karena memang Dia sayang kepada kita.

Karena Allah Ta’ala pun telah berfirman,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Saudariku… Sungguh jika kita mau membuka kisah-kisah dalam Al Qur’an dan lembaran-lembaran sejarah, atau kita memperhatikan realitas, kita akan mendapatkan darinya banyak pelajaran dan bukti bahwa selalu ada hikmah di balik setiap apa yang Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya.

Maka lihatlah kisah Ibu Nabi Musa ‘alaihissalam ketika ia harus melemparkan anaknya ke sungai… bukankah kita mendapatkan bahwa tidak ada yang lebih dibenci oleh Ibu Musa daripada jatuhnya anaknya di tangan keluarga Fir’aun? namun meskipun demikian tampaklah akibatnya yang terpuji dan pengaruhnya yang baik di hari-hari berikutnya, dan inilah yang diungkapkan oleh ayat

واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Lihat pula kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika beliau harus berpisah dengan ayah beliau Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, ketika beliau harus dimasukkan ke dalam sumur dan diambil oleh kafilah dagang… Bukankah kita akan melihat hikmah yang begitu besar dibalik semua itu?

Lihat pula kisah Ummu Salamah, ketika suami beliau-Abu Salamah- meninggal dunia, Ummu Salamah radhiallaahu ‘anhaa berkata:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintah oleh Allah,

إنّا للهِ وَ إنَّا إِليْهِ رَاجِعُوْنَ, اللهُمَّ أَجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَ أخلفْ لي خَيْرًا مِنْهَا

(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami akan kembali. Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan berilah gantinya untukku dengan yang lebih baik darinya).” Ia berkata, “Maka ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata, ‘Seorang Muslim manakah yang lebih baik dari Abu Salamah? Rumah (keluarga) pertama yang berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Kemudian aku pun mengucapkannya, maka Allah memberikan gantinya untukku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Renungkanlah bagaimana perasaan yang menghinggapi diri Ummu Salamah –yakni perasaan yang muncul pada sebagian wanita yang diuji dengan kehilangan orang yang paling dekat hubungannya dengan mereka dalam kehidupan ini dan keadaan mereka: Siapakah yang lebih baik dari Abu Fulan?!- maka ketika Ummu Salamah melakukan apa yang diperintahkan oleh syariat berupa sabar, istirja’, dan ucapan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah pun menggantinya dengan yang lebih baik yang belum pernah ia impikan sebelumnya.

Demikianlah seorang wanita yang beriman, tidak seharusnya ia membatasi kebahagiaannya pada satu pintu saja di antara pintu-pintu kehidupannya. Karena kesedihan yang menimpa seseorang adalah sesuatu yang tidak ada seorang pun yang bisa selamat darinya, tidak pula para Nabi dan Rasul! Yang tidak layak adalah membatasi kehidupan dan kebahagiaan pada satu keadaan ataupun mengaitkannya dengan orang-orang tertentu seperti pada laki-laki atau wanita tertentu.

Begitu pula dalam kehidupan nyata, kita pun sering melihat ataupun mendengar kisah-kisah yang penuh dengan hikmah dan pelajaran.

Oleh karena itulah, hendaknya kita selalu bertawakkal kepada Allah, mengerahkan segenap kemampuan untuk menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, dan jika terjadi sesuatu yang tidak kita sukai, jendaklah kita selalu mengingat firman Allah Ta’ala,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Hendaklah ia mengingat bahwasanya di antara kelembutan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah: “Bahwasanya Dia menakdirkan bagi mereka berbagai macam musibah, ujian, dan cobaan dengan perintah dan larangan yang berat adalah karena kasih sayang dan kelembutanNya kepada mereka, dan sebagai tangga untuk menuju kesempurnaan dan kesenangan mereka.” (Tafsir Asma’ al Husna, karya As-Sa’di).

Semoga yang sedikit ini bisa menjadi nasihat untuk diri saya pribadi dan bagi orang-orang yang membacanya, karena barangkali kita sering lupa bahwa apapun yang telah Allah Ta’ala takdirkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hambaNya.

***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi:
Qawaa’id Qur’aaniyyah, Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Markaz at-Tadabbur Li al-Isytisyarat at-Tarbawiyyah wa at-Ta’limiyyah. Dan terjemah, “50 Prinsip Pokok Ajaran Al Qur’an” terbitan Pustaka Daarul Haq.
Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim.

Reposting dari http://muslimah.or.id/aqidah/yang-tidak-engkau-sukai-bisa-jadi-lebih-baik.html

Hati-Hati Dan Lebih Bijak Ngompor-Ngompori Nikah (Muda) Dan Poligami!


1im4ages-150x150“kok belum nikah-nikah akhi? Apalagi yang ditunggu? Buruan dah, bisa jadi bujang lapuk ntar”

“terima saja pinangannya ukht, ‘Aisyah saja menikah usia tujuh tahun, kalau ditolak nanti terjadi kerusakan seperti dalam hadits lho”

“ente ni takut ama istri atau memang kurang jantan, rumah udah dua, uang banyak, jabatan oke. Ane aja yang biasa-biasa aja udah tiga”

 

Memberikan semangat dan mengompor-ngompori memang perlu dilakukan, demi menghendaki kebaikan kepada saudaranya, apalagi dalam suatu hal yang bermanfaat bagi dunia terlebih akhirat. Segera menikah (nikah muda) dan poligami adalah yang paling sering menjadi bahan mengompor-ngompori. Akan tetapi terkadang pemberi semangat berlebihan dalam memotivasi dan mengompor-ngompori, bahkan sampai tahap menyindir dan setengah mengancam dengan julukan penakut, tidak semangat, diragukan kejantannanya dan lain-lain. Maka hal ini perlu dilakukan secara bijaksana dan menimbang kondisi serta keadaan.

 

Dua tema yang laris-manis di dunia nyata dan dunia maya

Dua tema ini selalu menjadi tema yang hangat dibicarakan, selalu ramai dikomentari, suasana pengajian yang sebelumnya suntuk menjadi heboh dan bingar ketika diselipkan materi ini. Jika ada meteri kajian dengan tema tauhid, tema akhlak atau tema aqidah bisa jadi yang datang biasa-biasa saja jumlahnya, akan tetapi jika materinya nikah maka jumlah peserta bisa jadi membludak, masjid tempat kajian penuh.

Sama juga halnya dengan tema poligami, maka selalu hangat dibicarakan oleh laki-laki, saling memotivasi, saling memberikan dukungan, memanasi-manasi dan mengompori temannya yang sudah layak atau yang belum layak, padahal bisa jadi iapun belum melaksanakannya. Bahkan kesannya poligami adalah adu kejantanan, jika ada yang jarang membahas atau tidak tertarik untuk poligami maka kajantanannya dipertanyakan. Dan tentunya bagi wanita materi ini, materi yang secara tabiat membuat dada sesak.

Begitu juga di dunia maya, jika ada status dan tulisan mengenai tauhid, akhlak atau aqidah maka yang memberi komentar hanya segelintir orang, tetapi jika materinya menikah dan poligami maka bisa jadi komentar penuh dan berbagai macam reaksi keluar.

Hal ini wajar karena memang inilah tabiat manusia karena karena tabiatnya laki-laki menyukai wanita ini adalah ketetapan dari Rabb Semesta Alam. Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (al-Jannah).” (Ali Imran: 14)

 

Dan wanita juga sama dengan laki-laki, mereka juga suka dengan laki-laki, memiliki syahwat dan butuh pendamping. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنما النساء شقائق الرجال

“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”[1]

 

Mengenai tema poligami, tentu laki-laki sangat senang karena mereka bisa menikmati kenikmatan halal yang paling nikmat yaitu wanita sebagai istrinya yang sah dengan kenikmatan yang berbilang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia yaitu wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.”[2]

 

 

Dianjurkan mengompor-ngompori kebaikan tetapi lihat keadaan juga

Kita dianjuran untuk saling memotivasi, saling menasehati dan saling memberi semangat dalam kebaikan. Apalagi anjurannya adalah segera menikah. Karena inilah inti kehidupan. Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِْ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍْ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”. (Al-Baqarah: 148)

 

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Al-Imran:133)

 

Akan tetapi kita juga perlu melihat keadaan orang yang kita beri motivasi dan beri semangat. Tidak semua keadaan orang sama dan belum tentu orang tersebut sedang membutuhkan motivasi. Sebagaimana perkataan orang Arab,

لكل مقام مقال

“Setiap keadaan disesuaikan dengan perkataan (yang tepat)”

 

Yang perlu diperhatikan ketika ngompor-ngompori menikah (menikah muda)

-Tidak semua orang mempunyai mental siap menikah muda

Kami melihat sendiri beberapa kasus, menikah di saat masih kuliah, kita tentunya berharap hidupnya lebih baik, akan tetapi ia akhirnya harus pinjam uang sana-sini karena tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga dan orang tuanya juga tidak bisa membantu membiayai.

Kasus yang lain juga sama, menikah di saat kuliah, sempat bersitegang dengan orang tua, ngotot ingin menikah akan tetapi ternyata ia belum mempunyai mental untuk menghadapi berbagai tantangan berumah tangga termasuk beban harus menyelesaikan studi. Akhirnya karena stres menjauh dari ikhwan-ikhwan dan menjauhi majelis ilmu, bisa jadi karena malu dan hilang dari peredaran dakwah.

Seorang yang mungkin masih kuliah semester awal, belum ada pekerjaan dan tipe orang yang tidak bisa memanajemen waktu dengan baik apalagi masih belum stabil emosi dan mentalnya. Maka kurang tepat jika dikompor-kompori segera menikah. Dikompor-kompori akan segera kaya dengan menikah. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan (memberikan kekayaan) mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An-Nuur: 32)

 

Tidak tepat juga jika seorang wanita yang dilamar oleh seseorang, kemudian ia menolaknya dengan alasan yang syar’i kemudian wanita tersebut ditakut-takuti dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ، وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai akhlak dan agamanya maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.”[3]

 

-Mungkin orang juga punya kepentingan lain selain menikah yang harus ditunaikan

Setiap orang mempunyai target dan tujuan hidup dan masing-masing mempuyai kepentingan serta amanat yang harus ditunaikan dahulu sebelum yang lain. Termasuk menikah, ada yang harus segera menikah karena memang tuntutan zaman yang penuh fitnah dan ada juga yang tidak terburu-buru menikah karena masih ada kepentingan lainnya dan ia sementara belum wajib hukumnya menikah. Ada yang harus menyelesaikan amanah dari orang tua dahulu untuk menyelesaikan studi ada juga yang harus berbakti dahulu kepada orang tuanya dan ada juga yang fokus bekerja dahulu karena membantu ekonomi orang tua dengan banyak anak yang masih kecil-kecil.

Demikianlah Islam mengajarkan agar kita mempunyai arah dan target hidup serta merencanakan masa depan kita. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (Al-Hasyr: 18)

 

Yang perlu diperhatikan ketika ngompor-ngompori poligami

-jangan memberikan gambaran yang enak-enak semua saja tentang poligami

Tetapi beritahu juga tanggung jawab dan penunaian keadilan yang memang perlu perjuangan dan keseriusan. Poligami adalah tanggung jawabnya besar dan butuh kematangan serta pertimbangan mashalahat dan mafsadat. Oleh karena itu ada ungkapan,

“sebelum wanita berpikir keras dipoligami, maka laki-laki yang bertanggung jawab telah berpikir keras 1000 kali sebelum berpoligami”

Hendaknya juga memperhatikan peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai orang yang berpoligami dan cenderung kepada salah satu istrinya (biasanya istri muda).Dan jangan motivasi yang sunnah saja (ada juga yang berpendapat hukum asal poligami adalah mubah) tetapi yang wajib juga (yaitu adil dan mampu).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

“Barangsiapa yang memiliki dua istri kemudian ia condong kepada salah satunya maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tubuhnya miring”.[4]

Dan hendaknya memperhatikan bahwa istri adalah amanah yang halal dengan kalimat Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ

“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.[5]”

 

-poligami juga butuh persiapan harta

Tidak dipungkiri bahwa untuk menikah lagi butuh harta dan ini butuh pertimbangan yang matang, jangan sampai ekonomi dengan istri pertama masih kembang kempis, kemudian dikompor-kompori supaya menikah lagi, dengan alasan,

“para sahabat saja miskin-miskin menikah lagi”

Maka jika tawakkalnya seperti sahabat maka silahkan dan para sahabat juga memiliki beberapa tujuan menikah lagi seperti menikahi istri sahabatnya (janda) yang meninggal karena perang dan lain-lain.

Dan harta Allah sebut sebagai salah satu penegak pokok kehidupan (qiyaam) jadi harus diperhatikan dalam rumah tangga apalagi yang akan berpoligami.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.

 

-Jangan membandingkan dengan mereka yang baru-baru poligami

Jika ingin membandingkan untuk mengompor-ngompori, maka jangan dengan mereka yang baru-baru berpoligami (misalnya baru beberapa minggu) tentu jawaban mereka,

“enaknya 1 % saja, 99 % wuenaak sekali”

“nikmat tenan, diperhatikan ama diurus dua istri, kalo punya satu istri, dia akan bertengkar denganmu, kalo punya dua istri maka mereka akan bertengkar memperebutkanmu”

Jika ingin membandingkan, maka bandingkan dengan mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun poligami. Bagaimana ia harus membagi waktu, menghadapi cemburu para istri, mempersiapkan mental istri pertama dan mengurus anak-anak.

 

-Yang belum poligami juga punya pertimbangan dan kepentingan yang lain

Belum tentu yang belum poligami takut sama istrinya atau kurang jantan, penakut dan sebagainya. Beberapa orang punya target dan tujuan tertentu. Seperti ustadz yang lebih sibuk berdakwah, seseroang yang harus berbakti kepada ibunya dahulu atau harus memperbaiki ekonomi keluarga dahulu. Sebagaimana dengan menikah (muda) butuh berbagai pertimbangan.

 

Semua perlu petimbangan yang matang dan musyawarah

Walhasil, semuanya butuh kebijaksanaan dan menempatkan sesuai dengan keadaaanya. Perlu pertimbangan dan musyawarah dengan pihak-pihak tertentu.

Allah berfirman,

وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ

“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)
Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah dan mereka menafkahkan sebagian yang kami rizkikan kepada mereka.” (Asy-Syura: 38)

 

Jika ingin menikah maka libatkanlah orang tua dan minta saran mereka begitu juga dengan poligami, meskipun syariat tidak mempersyaratkan ada izin dan istri harus tahu, akan tetapi syariat mengajarkan musyawarah dan menimbang mashlahat dan mafsadah. Maka istri juga harus dilibatkan ketika berpoligami dan meminta pendapat orang-orang terdekat apakah ia layak berpoligami dari sudut pandang mereka.

 

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

[1] HR. Ahmad no.26195, hasan lighairihi, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth

[2] HR. An Nasai no. 3939,dinilai hasan shahih oleh Al-Albani, Lihat Al Misykah no. 5261 dan Shahih Al Jaami’ Ash Shagir no. 3124

[3] HR. At Tirmidzi no. 1084, dihasankan oleh Al-Albani di Shahih Sunan At Tirmidzi

[4] HR Abu Dawud no 2123 dan At-Tirmidzi no 1141, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani

[5] HR. Muslim no. 1218

 

Reposting dari : http://muslimafiyah.com/hati-hati-dan-lebih-bijak-ngompor-ngompori-nikah-muda-dan-poligami.html