Wahai Wanita, Auratmu Untuk Siapa? Jangan Kau Obral Sedemikian Murahnya


Kau Akan Semakin Terjaga…

gambar wanitaBismillaahirrahmaanirrahiim..

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklahmereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka,yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karenamereka itu tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…” (QS. Al Ahzab : 59).

Begitulah firman Allah yang diturunkan kepada kekasihNya, Baginda Nabi Shalallahu ‘Allaihi Wassalam. Ayat yang merupakan petunjuk menuju keselamatan dan penghormatan yang agung bagi kaum wanita. Surat tersebut merupakan ayatul hijab dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan perintah kepada kaum wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya dengan jilbab/hijab. Banyak untaian dan lembaran tentang sirah mengenai kewajiban bagi setiap muslimah untuk menjaga dirinya dan menutup auratnya dengan hijab syar’i.

Dan dengarlah salah satunya kisah para shahabiyah ketika mereka mendengar perintah untuk berhijab, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan “ketika kami mendengar perintah tersebut, mereka (para wanita) berlari-lari mencari kain untuk menutupi wajah dan kepalanya, dan mereka menggunakan kain yang berwarna hitam ketika mereka keluar rumah..”

Maka sungguh..para wanita yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala ketika mereka mendengar perintah dari RabbNya,maka mereka akan segera bergegas dan berlomba untuk melakukannya.

Adapun maksud dari diperintahkannya seorang wanita muslimah untuk berhijab sebagaimana firman Allah pada surat tersebut adalahagar wanita muslimah lebih mudah dikenal dan dibedakan(dengan wanita kafir dan wanita yang fasik)juga sebagai pelindung agar mereka tidak lagi diganggu sehingga lebih merasa aman dan tetap terjaga. Merasa aman terutama dari gangguan laki-laki yang didalam hatinya terdapat penyakit syahwat.

Dan tahukah??ketika seorang wanita keluar dari rumahnya, setan telah bersiap mengikutinya. Mengikuti dari segala arah yang dia mau. setan akan menghiasi wanita sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik (bagi lawan jenis tentunya). Simaklah perkataan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadist,

Wanita adalah aurat, jika ia keluarsetan akan mengikutinya..”

(HR. At Tirmidzi)

Karena hanya di wanita sajalah Allah mengaruniai segala keindahan yang ada dalam dirinya dan itu akan menjadi daya magnetik tersendiri. Maka, bila seorang laki-laki yang mempunyai penyakit hati didalamnya pasti akan tertarik gaya tersebut, dan sudah dipastikan.. setan akan tersenyum karena kini dia telah memiliki sasaran.

Tidak jarang kita melihat pemandangan di sekitar kita, seorang wanita dengan pakaiannya yang serba terbuka penuh syarat dengan keindahan dan tidak ketinggalan mode tentunya (menurut pendapat mereka) akan sering sekali mendapat“sapaan tak diundang”seperti siulan, panggilan dengan nada nakal, colekan,bahkan ada yang tak segan-segan menghampiri dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan…na’udzubillah..

Mungkin ada sebagian dari kita yang masih mengingat atau mungkin pernah mendengar sebuah kejadian beberapa pekan yang lalu yang terekspos di media massa, dimana salahseorang wanita yang perprofesi sebagai publik figur mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dan sungguh memalukan(bukan bermaksud meng-ghibah, hanya memberikan fakta yang ada dan terjadi sekarang ini -red)..seorang pria dengan bebasnya menyolek salah satu bagian tubuhnya yang memang saat itu “sangat terbuka” dan seketika itu dia marah dengan keadaan emosinya serta-merta langsung membuncah,meluap-luap dan tanpa disadari air matanya pun mengalir begitu saja…..

Masya Allah, inikah pelecehan terhadap kaum hawa??

Inikah bentuk penghormatan kepada mereka yang mengusung jargon “kebebasan berekspresi” termasuk dalam hal berbusana??

Apakah air mata itu bentuk penyesalan??

Apakah ini merupakan bukti bahwa wanita itu lemah???

WAllahu Ta’alla A’lam..Engkaulah Rabb yang Maha Mengetahui.

Terkait berita tersebut, ada salah seorang teman mengatakan kepada saya (penulis –red), salah seorang keponakannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut menanggapi berita tersebut, dengan keluguan dan informasi yang dia dapatkan dari sebuah tayangan infotainment.

Ia berkata “mbak…jahat ya laki-lakinya..masa c, kaya gitu? Usil !! Main colak-celek sama si X…kan kasian si X….”

Sambil tersenyum teman saya pun menanggapinya “adik…coba sekarang mbak tanya, kalau adik punya makanan favorit ayam goreng. Suatu hari, mbak punya ayam goreng..saat adik melihatnya, adik jadi ingin. Tapi saat itu mbak cuma punya 1 potong ayam , padahal saat itu adik ingiiiinnn sekali makan, eh tapi mbak makan dengan enaknya didepan adik.

Tanpa tau klo adik itu juga ingin makan, mbak makan dengan pelan, menikmati setiap gigitannya…adik jadi tambah peeengen deh. Trus klo gitu adik ngapain??.”

Maka si anak kecil itupun menjawab dengan polosnya..”minta ayamnya ke mbak, bilang klo aku pegen…” lalu saya menjawab “klo gak boleh juga? Tapi mbak tetep makan didepan adik??” dia menjawab dengan spontan“ayamnya tak rebut…..trus tak makan!! Wong pengen…salah siapa pamer???”begitu jawaban si adik dengan antusiasnya.

Dengan bijak teman ana melanjutkan “ya begitulah dik…kira-kira seperti itu kejadian yang menimpa si X..mbak ibaratkan seperti ayam tadi.. wong udah tau kalo cewe pakai pakaian yang ‘seksi’ bisa mengundang niat jahat terutama laki-laki yang iseng..tapi eh, tetep aja cewenya gak peduli.

Ya kira-kira begitulah risikonya…pakai baju seksi ya siap untuk dijaili laki-laki coba kalau pake bajunya sopan..tertutup lagi..kalo gitu apa yang mo dijaili coba ?” dengan mengangguk-anggukan kepala, si adik berkata “oooo…” (saya pun tak memahami maksud si anak tersebut faham atau tidak…tapi bukankah anak sekarang lebih kritis??)

Ya..itulah permisalan yang sederhana. Pemahaman simpel yang berusaha diberikan kepada seorang anak, bagaimana seharusnya seorang wanita itu berbusana.

Memang sudah kodratnya seorang laki-laki cinta dan senang dengan keindahan yang ada pada wanita. Dan perhatikanlah firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran 14,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang

diingini yaitu, wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak…….”

Maka sungguh..wanita adalah sumber keindahan…Allah menempatkan wanita di atas keindahan lainnya seperti harta…SubhanAllah..

Belajar dari pengalaman tersebut dari pengalaman lainya yang terjadi pada saat ini, dimana banyak orang meneriakan‘emansipasi wanita’

Ternyata wanita tidak seutuhnya benar-benar merasakan ‘kemerdekaan’. Buktinya saja, mengapa mereka masih sering diganggu oleh kaum Adam?

Mengapa mereka masih mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan? Mengapa mereka sering dilecehkan???

Mungkin akan lebih bijaksana bila kita melihat dua sisi, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada kaum Hawa..mungkin kaum Adam juga harus dan wajib berinstrospeksi!! Bagaimana dia seharusnya bersikap dan bergaul dengan kaum wanita…

Tidak ada salahnya, kita kaum wanita yang diberi banyak keindahan oleh Allah lebih dapat menjaga diri kita sendiri. Menjaganya dari pandangan mata yang nakal, menjaga dari tangan-tangan iseng yang siap menjamah kita kapanpun! Maka.. cukuplah perintah Allah yang khusus diturunkan kepada kita kaum wanita. .dan sungguh, segala firmanNya adalah jalan keselamatan bagi hamba-hambaNya…

Jagalah diri kita manakala kita keluar rumah untuk suatu keperluan..jagalah kehormatan kita manakala kita meninggalkan ‘tempat ter-aman bagi kita’ yakni rumah..jagalah diri kita dari berbagai fitnah dunia yang dapat kapan saja melanda kita..maka dengarlah nasehat yang diberikan oleh Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyah seorang putri dari seorang ulama besar masa kini Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimmahullah di dalam bukunya Nashihati Lin Nisa’ Qadhayatahum Al-Mar’ah Fatawa lin Nisa’ mengenai adab-adab keluarnya wanita dari dalam rumahnya yakni,

1. Berhijab

Sebagaimana yang diperintahkan dalam ayatul hijab diatas.Pakaian yang dikenakan oleh seorang wanita hendaknya menutup aurat secara keseluruhan, longgar (tidak ketat) sehingga tidak terlihat lekuk tubuhnya.Adapun pakaian yang dikenakan hendaknya warnyanya tidak mencolok sehingga menarik pandangan orang (bisa terlihat tambah cantik, tambah manis, juga ‘tambah-tambah’ yang lain dikarenakan apa yang dikenakan itu menghiasi dan mempercantik dirinya (terkecuali di hadapan suami dan mahramnya).

2. Tidak memakai wewangian (parfum)

Tidaklah boleh bagi seorang wanita keluar rumah dengan memakai wewangian, apalagi di hadapan lelaki yang bukan mahram. Dan dengarlah sabda Beliau Shalallahu ‘Allaihi Wassalam tentang perkara ini..”Jika seorang wanita memakai wewangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka mencium baunya, maka ia begini dan begitu…” Beliau mengucapkanya dengan perkataan yang sangat keras (hadist Abu Dawud). Berbeda halnya dengan kaum lelaki dimana wewangian itu merupakan sunnah yang mendatangkan pahala “sebaik-baik wangi-wangian dari seorang laki-laki adalah yang tercium wanginya…”

3. Pelan-pelan dalam berjalan (merendahkan jalannya).

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS An Nuur ayat 31 “..dan janganlah kalian membunyikan kaki kalian, agar diketahui perhiasan yang ada di dalamnya..”

Hendaknya seorang wanita bila berjalan itu pelan, tidak menimbulkan bunyi (termasuk bunyi dari sandal/sepatu yang dikenakan) karena hal tersebut secara tidak langsung akan menarik perhatian orang-orang disekitarnya, termasuk kaum lelaki.

4. Jika ia berjalan bersama saudarinya dan di sana ada para pria, maka hendaknya ia jangan bercakap-cakap dengan saudarinya tadi.Bukan berarti dalam hal ini suara wanita itu adalah aurat, tapi jika pria mendengar suara wanita kadang akan menimbulkan fitnah.

5. Hendaknya seorang wanita meminta izin kepada suaminya(yang sudah menikah) ketika keluar rumah.

6. Apabila bepergian jauh (safar) harus dengan MAHRAMnya

7. Jangan berdesak-desakan dengan pria.

8. Hendaknya ia menghiasi dirinya dengan rasa malu (Al hayaa’)

9. Hendaknya dia menundukkan pandanganya.

10. Janganlah menanggalkan pakaian di tempat selain dirumahnya sendiri,jika ia bermaksud untuk tampil cantik dengan perbuatan itu. Karena Rasulullah telah bersabda : “Wanita mana saja yang menanggalkan pakaiannya selain dirumah suaminya, maka sungguh ia telah membuka penutupnya antara dia dengan Rabbnya..”

Demikian adab-adab yang perlu diperhatikan seorang wanita makakala dia pergi / keluar dari rumahnya. Dengan memperhatikan adab-adab tersebut, insya Allah.. kita (wanita muslimah) akan semakin terjaga, akan lebih merasa aman dan nyaman. Karena sesungguhnya semua adab-adab tersebut merupakan kebaikan dan akan mendatangkan kemaslahatan bagi kita kaum wanita khususnya..

Wallahu Ta’alla A’lam bi Shawab…..

-19 safar 1429 H-

Dalam kepenatan mengerjakan tugas akhir…

Kuatkan hamba ya Rabb…..

sumber :https://kholilahpunya.wordpress.com/2009/05/27/kau-akan-semakin-terjaga/

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/06/29/wahai-wanita-auratmu-untuk-siapa-jangan-kau-obral-sedemikian-murahnya/

Wahai Wanita Yang Mengumbar Aurat,. Tidakkah Anda Malu Kepada Kisah Wanita Hitam Ini?


Wanita Hitam Pemetik Surga

Oleh Ustadz Abu Adib

Alhamdulillahi Robbil’alamin…

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kemudahan kepada kami untuk menulis risalah yang singkat ini. Para pembaca yang mulia, judul risalah diatas mengingatkan pada kita semua tentang kisah wanita hitam dimasa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan oleh ‘atha’ bin Abi Rabah, dia berkata: “Telah berkata kepadaku Abdullah bin Abbas:“maukah engkau aku perlihat seorang wanita penghuni surga?”

maka aku berkata : “tentu!”.

Kemudian ‘Abdullah berkata: “Wanita hitam dia pernah mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu ia berkata: “ aku kena penyakit ‘usro’u (ayan/epilepsy), jikalau penyakitku kambuh auratku tersingkap. Maka do’akanlah kepada Allah agar sembuh penyakitku”.

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “jikalau aku do’akan kepada Allah, pasti kamu akan sembuh. Akan tetapi jikalau kamu sabar maka bagimu surga”.

Maka wanita hitam itu berkata: “Ashbiru (aku akan sabar), akan tetapi do’akan kepada Allah agar tiap kali kambuh penyakitku, auratku tidak tersingkap”. Maka Nabi pun mendo’akannya sehingga tiap kali kambuh, Allah Ta’ala menjaga auratnya.

Dari kisah Hadits diatas kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga, dimana seorang wanita berkulit hitam yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat, ditambah lagi wanita itu terkena wabah penyakit ayan, suatu penyakit yang sangat menjijikkan, akan tetapi Allah Ta’ala memuliakan wanita itu dengan surga disebabkan karena ketaqwaan dan kesabaran.

Rasa malu dan ketaqwaannya telah mengantarkan dirinya untuk sabar dalam menderita penyakit serta musibah yang dideritannya.

Sifat taqwa dan rasa malu itu nampak ketika wanita itu berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dimana saat penyakitnya kambuh menyebabkan dia kehilangan kesadaran sehingga auratnya tersingkap.

Wanita hitam itu malu auratnya kelihatan ketika dia dalam keadaan tidak sadar. Allahu Akbar….

Dalam keadaan tidak sadarpun wanita itu malu auratnya kelihatan apalagi dalam keadaan sadar?

Coba kita bandingkan dengan wanita abad ini!.

Dalam keadaan sadarpun mereka berani bahkan sengaja menampakkan auratnya. Mereka berpakaian tapi nampak betisnya, nampak pahanya, nampak dadanya, dan ditambah lagi mereka itu bangga dengan kelakuannya seolah-olah mereka berkata

“ lihatlah betisku! Lihatlah pahaku! Lihatlah dadaku! Lihatlah wajahku!.

Dan ketika dia berjalan, kemudian ada laki-laki yang pandangannya tertuju padanya, maka dalam hatinya wanita itupun senang dan bangga atas apa yang telah diperbuatnya. Na’udzu billah.

Dirinya tidak sadar kalau kelakuannya telah membuat kerusakan dan fitnah di muka bumi. Demikianlah pembaca yang mulia hilangnya ketaqwaan dan rasa malu telah mengantarkan wanita-wanita sekarang kepada perbuatan yang hina dan keji. Sungguh telah benar apa yang disampaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Apabila kamu tidak malu maka berbuatlah semaumu”(HR/ Bukhari. No 3483)

Wanita-wanita sekarang sadar, bahkan sangat sadar atas apa yang telah mereka perbuat. Mereka bukanlah wanita-wanita yang gila atau wanita-wanita yang mengalami gangguan kejiwaan, bahkan mereka wanita-wanita yang waras akalnya sehingga sangat sadar dengan apa yang telah dilakukannya, akan tetapi hatinyalah yang tidak pernah menyadari. Perbuatan yang telah mereka lakukan itu bisa mendatangkan fitnah dan kerusakan di muka bumi.

Dan tindakan lain yang tidak kalah mengerikan bahayanya adalah maraknya aksi-aksi pornografi, kontes kecantikan, umbar aurat bisa kita jumpai dimana-mana bahkan secara resmi dipertontonkan melalui siaran-siaran diberbagai media massa yang ada sehingga bisa menjadi hiburan harian bagi orang yang lemah imannya. Masya Allah..kalau kelakuan wanita-wanita bumi pertiwi seperti ini bagaimana negeri ini selamat akan perzinaan.

Faedah yang bisa dipetik dari hadits diatas adalah:

  1. Kesabaran atas musibah yang menimpa di dunia akan mewariskan surga
  2. Pengobatan berbagai macam penyakit bisa ditempuh dengan do’a dan berlindung dengan penuh kejujuran / sungguh-sungguh kepada Allah dengan disertai pemberian obat
  3. Berusaha dengan penuh kemauan adalah lebih baik daripada bersandar pada pemberian keringanan bagi orang yang melihat adanya kemampuan pada dirinya untuk mengembannya, dalam hal itu dia akan memperoleh tambahan pahala.
  4. Di perbolehkan untuk tidak berobat
  5. Tinnginya rasa malu para shahabat wanita, dimana wanita itu malu kalau auratnya tesingkap walaupun dalam keadaan tidak sadar.

Risalah ini kami tutup dengan nasehat untuk para muslimah:

Wahai saudariku muslimah….

Janganlah kalian menjadi penyabab datangnya kerusakan dan fitnah di muka bumi, yakni dengan kalian mengumbar aurat.

Wahai saudaraku muslimah….

Janganlah kalian halalkan aurat kalian untuk dilihat laki-laki yang tidak dihalalkan untuk kalian.

Wahai saudaraku muslimah….

Hiasilah diri kalian dengan akhlaqul karimah (akhlaq mulia), jangan kalian lakukan perbuatan yang mana perbuatan tersebut bisa menjatuhkan diri kalian kepada kehinaan seperti berkhalwat yaitu berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, berboncengan satu motor atau satu mobil dengan laki-laki yang bukan mahram. Itu semua bisa menjatuhkan harga diri dan kehormatanmu.

Wahai saudaraku muslimah…

Sibukkanlah diri kalian dengan menuntut ilmu agama karena ilmu agama adalah pelita yang akan menerangi jalan hidupmu.

Wahai saudaraku muslimah…

Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, serta ingatlah apa yang telah disabdakan oleh Nabimu shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah dari kaum wanita. Maka janganlah kalian menjerumuskan diri kalian kedalam neraka. Semoga Risalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Maraji’: Kitab Riyadhush Shalihin

(Buletin Istiqomah Edisi no 34, Masjid Jajar, Solo Rubrik: Muslimah)

Reposting https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/06/30/wahai-wanita-yang-mengumbar-aurat-tidakkah-anda-malu-kepada-kisah-wanita-hitam-ini/

Istri-Istri Rasulullah, Sejarah Pernikahannya, Dan Jangan Tertipu Dengan Sejarah Yang Salah Tentangnya


Silsilah Sejarah Pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam

Silsilah-Sejarah-Pernikahan-Nabi-shalallahu-‘alaihi-wa-sallamSebelum kita menelusuri sebagian kehidupan rumah tangga Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam bersama istri-istrinya maka sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu siapakah para ummahatul mukminin tersebut. Bagaimanakah silsilah sejarah pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam dengan mereka, sehingga kita memiliki sedikit gambaran tentang kehidupan rumah tangga Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam.

1) Khadijah binti Khuwailid

Istri pertama Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad. dan umur beliau shalallahu  ‘alaihi wa sallam tatkala menikahi Khadijah adalah dua puluh lima tahun, sedangkan Khadijah berumur dua puluh delapan tahun.

Khadijah adalah istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang paling dekat nasabnya dengan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Semua anak-anak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallamdilahirkan dari rahim Khadijah kecuali Ibrohim.

Khadijah adalah seorang wanita yang kaya, cantik, serta memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat, sehingga banyak orang Quraisy yang ingin menikahinya akan tetapi hatinya terpikat pada sosok seorang pemuda yang tidak memiliki harta namun memiliki budi pekerti yang luhur dan tinggi. Dialah Muhammad shalallahu  ‘alaihi wa sallam.

Khadijah telah mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela risalah kenabian. Ia lah wanita yang selalu menenangkan sang kekasih dikala dirundung duka dan gelisah. Ia menguntaikan mutiara-mutiara kata yang indah sebagai penyejuk di kala susah, penenang di kala bimbang, dan membakar semangat di kala lesu dan kecewa. Kata-kata indahnya telah diriwayatkan dan dicatat oleh perawi dan penulis, sebagai ibrah bagi para istri dan wanita yang hendak meneladani sang kekasih penghulu manusia.

Tatkala Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya “Aku mengkhawatirkan diriku”, Khadijah pun menanggapi curhatan sang kekasih dengan mengatakan,

“Tidak demikian, bergembiralah, Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa, engkau menolong orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang tak berdaya ditimpa musibah.”

Demikianlah ia menghibur sang suami yang kala itu khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya. Ia memotivasi, memuji, dan member kabar gembira.

Tidak heran Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya, selalu menyebut namanya, kemuliaannya, dan jasa-jasanya, meski ia telah tiada. sampai-sampai Aisyah berkata,

“Aku tidak pernah cemburu pada seorang pun dari istri-istri Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam seperti kecemburuanku pada Khadijah. aku tidak pernah melihanya, akan tetapi Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallamselalu menyebut namanya.

Terkadang Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallammenyembelih seekor kambing kemudian mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Ada kalanya aku berkata kepadanya, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita bagi Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallamkecuali Khadijah”, lalu Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia itu wanita yang demikian dan demikian dan aku dahulu memiliki seorang putra darinya…’” Aisyah cemburu kepada Khadijah padahal Khadijah telah meninggal dunia.

Khadijah wafat tiga tahun sebelum hijrah. Pada hari wafatnya Khadijah. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam merasakan kesedihan yang sangat dalam hingga tahun wafatnya disebut dengan “Tahun Kesedihan”.

selanjutnya marilah kita cermati perkataan Ibnul Qoyim rhimahullah yang menceritakan silsilah sejarah pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. beliau berkata,

2) Kemudian beberapa hari setelah itu beliau menikahi Saudah binti Zam’ah Al-Qurosyiah, dia lah yang telah menghadiahkan hari gilirannya (giliran menginap Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam di rumahnya) untuk Aisyah.

3) Setelah menkahi Saudah, beliau menikah dengan Ummu Abdillah Aisyah Ash-Siddiqoh binti Ash-Shiddiq yang telah dinyatakan kesuciannya oleh Allah dari atas langit ketujuh. kekasih Rasulullahshalallahu  ‘alaihi wa sallam, putri Abu bakar Ash-Shiddqi, malaikat telah menampakkan Aisyah kepada Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam sebelum menikah dengannya. Dalam mimpi beliau shalallahu  ‘alaihi wa sallammelihat Aisyah tertutup wajahnya dengan selembar kain dari sutra lalu malaikat itu berkata, “Inilah istrimu (bukalah kain penutup wajahnya)”. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Syawal dan umur Aisyah kala itu adalah enam tahun. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menggaulinya pada Syawwal pada tahun pertama hijrah ketika umurnya sembilan tahun. Beliau tidak menikahi seorang perawan  pun selainnya. Tidak pernah ada wahyu yang turun ketika nabi berselimut bersama salah seorang di antara istrinya kecuali Aisyah. Ia merupakan wanita yang paling dicintai nabi. Allah pun mencintainya dan membela serta menyucikan namanya dari tuduhan dusta. Telah turun wahyu dari langit menjelaskan terbebasnya Aisyah dari tuduhan zina dan umat sepakat akan kafirnya orang yang menduduh Aisyah berzina. Dia adalah istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang paling paham agama dan yang paling pandai, bahkan terpandai di antara para wanita umat ini secara mutlak. Tokoh-tokokh para sahabat pun menjadikan pendapatnya sebagai landasan beragama dan mereka sering meminta fatwa keadanya. Ada sebuah kabar yang menyatakan bahwa beliau pernah mengalami keguguran, namun pendapat ini tidak benar sama sekali.

4) istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang keempat adalah Hafshah binti Umar bin Al-Khattab. Abu Dawud menyebutkan bahwa Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam pernah menceraikannya kemudian ruju’ (kembali) lagi kepadanya.

5) Kemudian Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab binti Khuzaimah bin Al-Harits Al-Qurosyiah dari bani Hilal bin Amir. dan beliau wafat di sisi Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam setelah tinggal bersama selama dua bulan.

6) kemudian beliau menikah dengan Ummu Salamah Hind binti Abi Umayyah Al-Qurosyiah Al-Makhzumiah, nama Abu Umayyah adalah Hudzaifah bin Al-Mughiroh. Ummu Salamah merupakan istri Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam yang paling terakhir wafatnya menurut sebagian ulama, ada pula yang berpendapat Shafiah yang terakhir wafat di antara istri-istri  Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

7) Kemudian beliau menikahi Zainab binti Jahsy dari bani Asad bin Khuzaimah dan dia adalah anak Umayyah bibi Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Allah telah menurunkan firman-Nya berkaitan dengan dirinya,

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia.” (Q.s. Al-Ahzab: 37)

Peristiwa Allah langsung yang menikahkannya dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kebanggan tersendiri bagi Zainab binti Jahsy. Bagaimana tidak, Allah telah menjadi wali nikahnya, tentunya wajar apabila ia berbangga.

Ia pun sering membanggakannya di hadapan istri-istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang lain.

Ia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, adapaun aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang ke tujuh.”

Oleh karena itu, di antara keistimewaannya adalah Allah lah yang telah menikahkannya dengan Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Ia wafat di awal kekhalifahan Umar bin Al-Khatthab. Dahulunya ia adalah istri Zaid bin Haritsah dan Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya.

Tatkala Zaid menceraikannya maka Allah pun menikahkannya dengan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam agar umat Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam bisa mencontohnya atau agar anggapan haramnya menikahi istri anak angkat tidaklah menjadi isu yang benar, pendapat-itu hanya merupakan warisan budaya jahiliyah.

8) Kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhiror Al-Mushtoliqiah. Awalnya  ia merupakan seorang tawanan bani Mushtholiq (Kabilah Yahudi) lalu ia pun datang menemui Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam meminta agar Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam membantu penebusannya. Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam kemudian menebusnya dan menikahinya.

9) Kemudian Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah , namanya adalah Romlah binti Abi Sufyan Sokhr bin Harb Al-Qurosyiah Al-Umawiah. Ada pula yang mengatakan namanya adalah Hindun. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahinya pada saat Ummu Habibah sedang berada di negeri Habasyah karena berhijrah dari Mekah ke negeri Habasyah. Najasyi memberikan mahar atas nama Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Habibah sebanyak empat ratus dinar. Lalu ia dibawa dari Habasyah kepada Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam (di Madinah). Ummu Habibah meninggal di masa pemerintahan saudaranya, Mu’awiyah.

10) Kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Shafiyah binti Huyai bin Akhtab pemimpin bani Nadhir dari keturunan harun bin Imron saudara Musa. Ia adalah putri (keturunan) Nabi (Harun) dan istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Ia termasuk wanita tercantik di dunia. Dahulu ia merupakan tawanan atau seorang budak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam kemudian Nabi memerdekakannya dan menjadikan pembebasannya sebagai maharnya.

11) Kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah binti Al-Haritsah Al-Hilaiah dan ia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahinya di Mekah pada waktu Umroh Al-Qadha setelah ia bertahallul -menurut pendapat yang benar-, Maimunah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah.

12) Ada pula yang memasukkan nama Raihanah binti Zaid An-Nasraniah di antara istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Raihanah binti Zaid An-Nasraniah ada juga yang menyatakan Al-Qurazhiah yakni dari kalangan Yahudi bukan Nasrani.

Ia merupakan tawanan pada waktu perang Bani Quraizhah. Saat itu ia adalah tawanan Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallammemerdekakannya dan menikahinya. Rasulullah menceraikannya sekali kemudian ruju (kembali) kepadanya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Raihanah adalah budak Rasulullah yang digauli oleh beliau dan terus menjadi budaknya hingga Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam wafat. Oleh Karena itu, dia terhitung termasuk budak-budak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam dan bukan termasuk istri-istrinya.

Al-Waqidi lebih cenderung kepada pendapat yang pertama, yakni ia merupakan istri nabi. Pendapatnya disetujui oleh Syarifuddin Ad-Dimyathi. Ia mengatakan bahwa pendapat inilah yang lebih kuat meurut para ahli ilmu. Namun, perkataannya itu perlu dicek kembali karena yang dikenal bahwasanya Raihanah termasuk budak-budak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam.

Sumber: Suami Idaman Istri Pilihan, Firanda, Pustaka Muslim dengan perubahan bahasa seperlunya.

Artikel www.KisahMuslim.com

Materi terkait pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam:

1. Romantisme Rasulullah Bersama Istri-istrinya.

2. Aisyah Istri Nabi.

sumber : http://kisahmuslim.com/silsilah-sejarah-pernikahan-nabi/

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/istri-istri-rasulullah-sejarah-pernikahannya-dan-jangan-tertipu-dengan-sejarah-yang-salah-tentangnya/

Berapa Umur Aisyah Ketika Dinikahi, Dan Berapa Umurnya Ketika Tinggal Di Rumah Rasulullah?


pink-roseBismillah,
Hadits-hadits yang meriyawatkan bahwa Ummul Mukminin, Aisyah radiyallahu anha, dinikahi oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, pada saat beliau masih berusia enam atau tujuh tahun adalah hadits-hadist yang derajatnya SAH (Shahih), karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim didalam kitab Shahih mereka.

Barangsiapa mengatakan hadits ini lemah atau tidak kuat lantaran tidak layak seorang Nabi menikahi anak dibawah umur, mereka HARUS mendatangkan dalil, yang menurut saya tidak akan bisa lantaran telah SAH khabar dari Nabi, sebagaimana hadits-hadits berikut ini.

Hadits Pertama :

Dari Aisyah radiyallahu anha berkata:
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menikahiku pada saat aku berusia enam tahun. Ketika aku tiba di Madinah, aku berhenti di Bani Al-Harits bin Al-Khajraj. Aku menderita sakit panas hingga rambutku rontok dan tumbuh lagi. Setelah itu, ibuku, Ummu Ruman, datang kepadaku. Ketika itu, aku berada di ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggilku, kemudian aku datang kepadanya. Aku tidak tahu apa yang diinginkan ibuku terhadapku.
Ibuku menyuruhku berdiri disamping pintu dan aku dalam keadaan terengah-engah. Aku berkata,’Hah,hah,’ agar nafasku kembali teratur. Ibuku mengambil sedikit air, mengusapkannya ke wajah dan kepalaku, kemudian membawaku masuk ke rumah yang ternyata didalamnya terdapat sejumlah wanita dari kaum Anshar. Mereka berkata,”Selamat, mudah-mudahan baik dan penuh berkah.’” Ibuku menyerahkanku kepada wanita-wanita kaum Anshar tersebut, kemudian mereka membersihkan kepalaku dan mendandaniku. Tidak ada yang membuatku grogi melainkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang sedang duduk di atas kasur rumah kami.
Setelah itu wanita-wanita Anshar tersebut menyerahkanku kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan beliau menggauliku di rumah kami. Unta dan kambing tidak disembelih untukku hingga suatu saat Sa’ad bin Ubadah mengirimkan piring berisi makanan, karena ia terbiasa mengirimkannya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika beliau menggilir istri-istri beliau. Ketika itu aku berusia sembilan tahun.
[Diriwayatkan Al Bukhari di kitab manaqib kaum Anshar, bab pernikahan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dengan Aisyah hadits nomor 3894, Muslim di kitab Nikah, bab ayah menikahkan gadis kecilnya hadits nomor 1422 dan Ibnu Hibban di buku al Ihsan hadits nomor 7055].
Hadits Kedua :
Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah Radiyallahu anha,
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menikahi Aisyah Radiyallahu anha pada saat ia berumur tujuh tahun, kemudian ia diserahkan kepada beliau saat ia berumur sembilan tahun dan masih membawa bonekanya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam wafat saat Aisyah berumur delapan belas tahun.
[Diriwayatkan oleh Muslim nomor 1422]
Hadits Ketiga :
Muslim dan An Nasai meriwayatkan hadits dari Aisyah Radiyallahu anha yang berkata,
“Rasululah Shallallahu alaihi wasallam menikahiku pada saat aku berusia tujuh tahun dan menggauliku pada saat aku berusia sembilan tahun. Ketika itu aku bermain dengan teman-teman wanitaku dan mereka sering datang kepadaku. Jika mereka melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mereka lari dari beliau. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sering memanggil mereka untukku.”
[Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan lain-lain].
Hadits Keempat :
Ibnu Abu Khaitsamah meriwayatkan dari Aisyah Radiyallahu anha yang berkata,
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menikahiku di Makkah pada saat aku berumur enam tahun, kemudian beliau meninggalkanku selama tiga tahun. Kemudian beliau masuk kepadaku di Madinah saat aku berusia sembilan tahun. Saat itu, aku bersama boneka-bonekaku dan teman-teman wanita sepermainanku yang biasa datang kepadaku. Jika mereka melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, mereka langsung pulang kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memanggil mereka untukku.
Hadits Kelima :
Dari Hisyam dari ayahnya, ia berkata:”Khadijah meninggal sebelum kepergian Nabi Shallallahu alaihi wasallam ke Madinah dengan (selisih) tiga tahun. Lalu beliau tinggal (disana) dua tahun atau kurang lebih dari itu dan memperistri Aisyah, di saat ia berumur enam tahun. Kemudian beliau membangun kota Madinah di saat Aisyah berumur sembilan tahun.
[HR Bukhari]
Demikianlah lima buah hadits yang secara gamblang dan nyata menceritakan bahwa Rasulullah menikahi Aisyah pada saat ia berumur enam atau tujuh tahun. Beliau menggauli Aisyah pada saat berumur 9 tahun.
Sekali lagi, barangsiapa yang mengatakan bahwa hadits-hadits diatas TIDAKLAH BENAR, maka ia harus mendatangkan dalil-dalil yang SAH dan KUAT. Karena hadits-hadits tersebut tercantum dalam kitab-kitab yang shahih. Sebagaimana kitab shahih Bukhari, yang dikenal sebagai kitab paling shahih setelah Al Qur’anul Karim.
Wallahu a’lam.

sumber : http://abuayaz.blogspot.com/2011/07/hadits-hadits-aisyah-dinikahi-nabi-pada.html#ixzz3P91CwX3j

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/berapa-umur-aisyah-ketika-dinikahi-dan-berapa-umurnya-ketika-tinggal-di-rumah-rasulullah/

Usia Khadijah Bukan 40 Tahun Ketika Dinikahi Oleh Rasulullah, Itu Adalah Kisah Yang Tidak Benar


Usia Khadijah ketika Menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

bunga9Dari pernikahan dengan Khadijah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai 6 putra. Realita ini menuai tanda tanya, di usia berapakah Khadijah menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Keterangan yang banyak tersebar di buku-buku sirah, usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 40 tahun. Dan beliau meninggal di usia 65 tahun.
Keterangan ini berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat Al-Kubro, dari Al-Waqidi. Dalam riwayat itu dinyatakan:

وتزوجها رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو بن خمس وعشرين سنة وخديجة يومئذ بنت أربعين سنة ولدت قبل الفيل بخمس عشرة سنة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 1/132)

Sementara itu, para perawi hadis menegaskan bahwa Al-Waqidi perawi yang matruk(ditolak hadisnya). Yahya bin Main mengatakan tentang Al-Waqidi:

كان الواقدي يضع الحديث وضعاً

“Al-Waqidi benar-benar telah memalsu hadis.” (Masyikhatun Nasai, hlm. 76).

Di sisi lain, terdapat riwayat yang berbeda dengan keterangan dari Al-Waqidi. Al-Hakim dengan sanadnya, meriwayatkan dari Muhammad Ibnu Ishaq, beliau menyatakan:

وكان لها يوم تزوجها ثمان وعشرون سنة

“Pada hari pernikahannya (Khadijah), beliau berusia 28 tahun.” (Al-Mustadrak Al-Hakim, 11/157)

Hanya saja Ibnu Ishaq tidak menyertakan sanad berita ini.

Kemudian Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwah menukil perkataan Al-Hakim:

قرأت بخط أبي بكر بن أبي خيثمة قال : حدثنا مصعب بن عبد الله الزبيري قال : أكبر ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم القاسم ، ثم زينب ، ثم عبد الله ، ثم أم كلثوم ، ثم فاطمة ، ثم رقية ….. ثم مات القاسم وهو أول ميت من ولده ، مات بمكة ، ثم مات عبد الله ، ثم بلغت خديجة خمسا وستين سنة ، ويقال خمسين سنة وهو أصح …

Aku membaca tulisan Abu Bakr bin Abi Khaitsamah yang mengatakan, bahwa Mus’ab bin Abdillah Az-Zubairi mengatakan:
Anak tertua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qosim, kemudian Zainab, kemudian Abdullah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fatimah, lalu Ruqayyah…. kemudian Al-Qosim meninggal, dan beliau adalah putra beliau pertama yang meninggal, dan meninggal di Mekah. Kemudian Abdullah meninggal, kemudian usia Khadijah menginjak 65 tahun. Ada yang mengatakan, (usia beliau) 50 tahun, dan itulah yang lebih kuat. (Ad-Dalail, no. 404)

Sementara itu, dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengatakan

وهكذا نقل البيهقي عن الحاكم أنه كان عمر رسول الله صلى الله عليه و سلم حين تزوج خديجة خمسا وعشرين سنة وكان عمرها إذ ذاك خمسا وثلاثين وقيل خمسا وعشرين سنة

“…demikianlah dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun, ada juga yang mengatakan, 25 tahun…” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2/295)

Kemudian, ketika Ibnu Katsir membahas tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau membawakan dua riwayat,

وعن حكيم بن حزام قال كان عمر رسول الله يوم تزوج خديجة خمسا وعشرين سنة وعمرها أربعون سنة وعن ابن عباس كان عمرها ثمانيا وعشرين سنة رواهما ابن عساكر

Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Usia Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikahi Khadijah adalah 25 tahun. Sedangkan usia Khadijah 40 tahun.” Sementara dari Ibnu Abbas, bahwa usia Khadijah 28 tahun. Keduanya diriwayatkan Ibnu Asakir. (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/293).

Dr. Akram Dhiya Al-Umri memberi kesimpulan:
“Khadijah melahirkan anak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua lelaki dan empat perempuan, yang ini menguatkan riwayat Ibnu Ishaq (bahwa usia beliau 28 tahun). Karena umumnya wanita sudah berada di usia menapaus sebelum 50 tahun.” (As-Sirah An-Nabawiyah As-Shahihah, 1/113).

Catatan:
Az-Zubair bin Bakkar (wafat 256 H) mengatakan:

هند بنت أبي عبيدة بن عبد الله بن زمعة حملت بموسى بن عبد الله بن حسن بن حسن بعد ستين سنة قال الزبير وسمعت علماءنا يقولون لا تحمل امرأة بعد ستين سنة إلا من قريش ولا بعد خمسين إلا عربية.

“Hindun bintu Abu Ubaidah mengandung Musa bin Abdillah bin Hasan di atas usia 60 tahun. Kami mendengar para ulama kami mengatakan: ‘Tidak ada wanita yang bisa hamil di atas 60 tahun, kecuali dari suku Quraisy. dan tidak ada yang bisa hamil di atas 50 tahun, selain wanita arab.’” (Tarikh Baghdad, 5/462).
Allahu a’lam

Oleh: Ust. Ammi Nur Baits

Maraji’.: Ma Syaa’a wa lam Yatsbut fi As-Shirah An-Nabawiyah, Muhammad bin Abdullah Al-Ausyan, Dar Thaibah, 1428 H.

***
Artikel muslimah.or.id

sumber : http://muslimah.or.id/kisah/usia-khadijah-ketika-menikah-dengan-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/usia-khadijah-bukan-40-tahun-ketika-dinikahi-oleh-rasulullah-itu-adalah-kisah-yang-tidak-benar/

Kemuliaan dan Keutamaan Aisyah


Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi.

Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun.

Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435).

Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammeninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.

Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau.

Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya.

Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.

Kedudukan Aisyah di Sisi Rasulullah

Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.” Maka beliau pun tetap berdiri.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))

Canda Nabi kepada Aisyah

Aisyah bercerita, “Suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa ini wahai Aisyah.” Lalu aku katakan, “Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban (13/174))

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238))

Keutamaan-keutamaan Aisyah

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ibunda Aisyah, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:

“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Beberapa kemuliaan itu di antaranya:
Pertama: Beliau adalah satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi tatkala gadis, berbeda dengan istri-istri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain karena mereka dinikahi tatkala janda.

Aisyah sendiri pernah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilahirkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengan ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))

Kedua: Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan wanita.

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab,Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))

Maka pantaskah kita membenci apalagi mencela orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!!

Mencela Aisyah berarti mencela, menyakiti hati, dan mencoreng kehormatan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Na’udzubillah.

Ketiga: Aisyah adalah wanita yang paling alim daripada wanita lainnya.

Berkata az-Zuhri, “Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))

Berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11))

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehatan, dan ilmu syair.”

Keempat: Para pembesar sahabat apabila menjumpai ketidakpahaman dalam masalah agama, maka mereka datang kepada Aisyah dan menanyakannya hingga Aisyah menyebutkan jawabannya.

Berkata Abu Musa al-Asy’ari, “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.” (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3044))

Kelima: Tatkala istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kehidupan apa adanya, atau diceraikan dan akan mendapatkan dunia, maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimanapun kondisi beliau sehingga istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain mengikuti pilihan-pilihannya.

Keenam: Syari’at tayammum disyari’atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu Shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum.

Berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” (HR. Bukhari (334))

Ketujuh: Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh.

Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik.

Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari (4141))

Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, beliau selalu mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Shiddiqoh binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.”

Kedelapan: Barang siapa yang menuduh beliau telah berzina maka dia kafir, karena Al-Quran telah turun dan menyucikan dirinya, berbeda dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

Kesembilan: Dengan sebab beliau Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh wanita muhshanat (yang menjaga diri) berzina, tanpa bukti yang dibenarkan syari’at.

Kesepuluh: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, Beliau memilih tinggal di rumah Aisyah dan akhirnya Beliau pun meninggal dunia dalam dekapan Aisyah.

Berkata Abu Wafa’ Ibnu Aqil, “Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk tinggal di rumah Aisyah tatkala sakit dan memilih bapaknya (Abu Bakr) untuk menggantikannya mengimami manusia, namun mengapa keutamaan agung semacam ini bisa terlupakan oleh hati orang-orang Rafidhah padahal hampir-hampir saja keutamaan ini tidak luput sampaipun oleh binatang, bagaimana dengan mereka…?!!”

Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat untuk dishalati oleh Abu Hurairah dan dikuburkan di pekuburan Baqi pada malam itu juga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Aamiin.

Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang telah dicontohkan Aisyah kepada kita di antaranya:

  1. Perlakuan baik seorang istri dapat membekas pada diri suami dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami yang akan selalu ia kenang hingga ajal menjemputnya.
  2. Hendaklah para wanita menjaga mahkota dan kesuciannya, karena kecantikan dan keelokan itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa ia jaga dan tidaklah boleh dia peruntukkan kecuali kepada yang berhak atasnya.
  3. Hendaklah para istri mereka belajar dan mencontoh keshalihan suaminya. Istri, pada hakikatnya adalah pemimpin yang di tangannya ada tanggung jawab besar tentang pendidikan anak dan akhlaknya, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 06 Tahun kiadhan 1427 H / Oktober 2006

Artikel http://www.KisahMuslim.com

sumber : http://kisahmuslim.com/kemuliaan-dan-keutamaan-aisyah/

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/aisyah-wanita-yang-mulia-cerdas-dan-merupakan-istri-nabi-di-dunia-dan-di-akherat/

Selfie Cadar: Menutupi Tetapi Hakikatnya Ingin Dilihat


cadar-204x240Ada juga ya, wanita yang pakai cadar tapi upload wajah diri dengan cadarnya, plus gaya centil pula”

Berfoto selfie cadar sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern saat ini. Untuk berbagai momen dan kebutuhan akun media sosial atau sekedar ingin menunjukkan eksistensi diri. Namun, bagi wanita yang sudah berkomitmen memakai cadar dan berusaha mencapai puncak kemuliaan wanita, tidak selayaknya melakukan hal ini. Berfoto ria dengan menampakkan muka memakai cadar, menggunakan gaya-gaya yang tidak kalah (maaf) “narsisnya” dengan foto model ataupun minimal gerakan mata dan alis yang mewakili ekspresi mereka.

Bahkan ada juga yang ramai-ramai, beberapa wanita dengan sunah memakai cadar, berfoto bareng dengan berbagai ekpresi eksistensi dengan gaya yang menunjukkan seolah-olah mereka belum paham sunnah. Kemudian foto tersebut diupload di media sosal atau dijadikan gambar akun peribadi. tentunya menjadi foto “milik bersama” dan menjadi konsumsi publik. Tentu ini tidak selayaknya dilakukan oleh wanita dengan komitmen menerapkan sunnah memakai cadar.

Hakikat cadar adalah menutupi diri dari laki-laki yang bukan mahram

Ulama yang menyimpulkan hukum sunnah untuk cadar atau yang mewajibkan cadar sama-sama sepakat bahwa wajah dan kecantikan wanita bisa menjadi fitnah bagi laki-laki. Karena wajah wanita selayaknya ditutup, semua laki-laki pasti setuju hal ini. Tentu para istri tidak rela, suaminya menikmati kecantikan wajah wanita lainnya kemudian terbesit sesuatu dalam hati suaminya.

Daya tarik utama bagi laki-laki adalah wajah wanita. Ulama mengatakan,

فالرجل الذي يريد أن يتعرف على جمال المرأة إنما ينظر إلى وجهها

“Laki-laki jika ingin mengetahui kecantikan seorang wanita maka ia pasti akan memandang ke wajahnya.”[1]

karenanya seorang Sahabat bernama Al-Fadhl diperintahkan agar memalingkan pandangan dari kecantikan wajah wanita karena berpotensi menjadi fitnah.

Fadhl bin Abbas (saudaranya Ibn Abbas) pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di belakang beliau, karena tunggangan Fadhl kecapekan. Fadhl adalah pemuda yang cerah wajahnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di atas tunggangannya, untuk menjawab pertanyaan banyak sahabat yang mendatangi beliau. Tiba-tiba datang seorang wanita dari Bani Khats’am, seorang wanita yang sangat cerah wajahnya untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas melanjutkan,

فَطَفِقَ الفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا، فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الفَضْلِ، فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا

Maka Fadhl-pun langsung mengarahkan pandangan kepadanya, dan takjub dengan kecantikannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah beliau, namun Fadhl tetap mengarahkan pandangannya ke wanita tersebut. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang rahang Fadhl dan memalingkan wajahnya agar tidak melihat si wanita.[2]

Para laki-laki yang penasaran dan Pandangan yang sulit ditahan di dunia maya

Banyaknya foto-foto tersebut semisal wanita yang mengupload foto selfie. Ternyata mengundang juga penasaran para laki-laki karena memang fitnah/ujian wanita yang cukup besar dan menjadi fitnah terbesar laki-laki.

Jika foto selfie cadar wanita, maka ada-ada saja terbesit dalam hati laki-laki
“Alisnya bagus ya, pasti cantik ni”
“wah tinggi juga ternyata, bodinya pas sepertinya”

Masa’ sih laki-laki sampai segitunya?

Iya bisa, apalagi bagi laki-laki yang dalam hatinya ada peyakit “syahwat terhadap wanita”

Allah Ta’ala berfirman :,

إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu (wanita) tunduk (menghaluskan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab :32)

Ya demikianlah, wanita yang apa adanya dengan cadar selalu dihias-hiasi yang bisa jadi dengan hiasan semu oleh setan yang sudah bersumpah akan mencari teman manusia di nereka.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المَرْأَةُ عَوْرَةٌ إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَ فَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Bila ia keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki).[3] 

Syaikh Abul ‘Ala Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء

“Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki), maknanya adalah setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu.”[4] 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

 Pandangan adalah satu anak panah di antara anak panah-anak panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan keimanan dan ia merasakan manisnya di hatinya”[5]

Telah dijelaskan juga, bahwa wanita bisa menjadi fitnah dan menghilangkan akal sehat laki-laki yang telah istiqamah dan teguh imannya sekalipun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[6]

Wanita bercadar atau tidak, jangan upload gambar dan wajah diri di media sosial

Setelah tahu fitnah dan ujian pandangan mata, maka tidak selayaknya wanita baik yang bercadar atau tidak meng-upload gambar dan foto diri di dunia maya. Begitu juga laki-laki, sebaiknya jangan mengupload karena wanitapun diperintahkan agar menundukkan pandagannya.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An Nur: 30)

Wanita juga perlu menundukkan pandangan, Allah Ta’ala berfirman,

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nuur : 31)

Bahkan kita diperintahkan memalingkan pandangan kita jika melihat, akan tetapi dengan bertebarannya gambar-gambar foto para wanita.

Cukup sulit menerapkan hadits ini:

Dari Jarir bin Abdillah radliyallahu ‘anhu , ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجَاءَةِ, فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَِصْرِفَ بَصَرِيْ

“Saya bertanya  kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahan aku untuk memalingkan pandanganku”[7]

Demikian semoga bermanfaat

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB ,  follow twitter , Follow Akun Faceebook

[1] Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=26290

[2] HR. Bukhari, no.6228

[3] HR. At-Tirmidzi no. 1173, dishahihan oleh Al-Albani mengatakan dalam Misykatul Mashabih no. 3109

[4] Tuhfatul Ahwadzi 4/283, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Asy-Syamilah

[5] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875, dia berkata: sanad hadist shahih dan tidak dikeluarkan oleh bukhari dan muslim, tahqiq Musthofa Abdul Qodir Atha

[6] HR. Bukhari no. 304

[7] HR. Muslim no. 2159

reposting dari http://muslimafiyah.com/selfie-cadar-menutupi-tetapi-hakikatnya-ingin-dilihat.html

Temukan Rahasianya Kenapa Rumput Tetangga Lebih Hijau ?


::: RAHASIA RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU :::betulkah-rumput-tetangga-lebih-hijau

Sobat, anda pernah melihat wanita yang aduhai cantiknya, sehingga memikat hati anda ?

Atau barang kali anda merasa bahwa “ladang tetangga” senantiasa nampak lebih hijau nan menyegarkan dibanding “ladang anda “sendiri ?

Pernahkah anda berpikir, mengapa semua itu bisa terjadi ?

Ketahulah sobat !

Sejatinya yang menyebabkan anda begitu tergoda dan “ladang tetangga” nampak lebih hijau dibanding “ladang” sendiri adalah nafsu birahi setan.

Setan menipu pandangan anda dan menggoyang-goyang jantung anda sehingga setiap melihat “ladang tetangga” atau wanita yang tidak halal spontan jantung anda terasa berdebar-debar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان

“Sejatinya wanita itu adalah aurat, sehingga setiap kali mereka keluar dari rumahnya, maka setan pasti mengesankan mereka nampak begitu cantik rupawan. (Ahmad)

Inilah yang terjadi, jantung anda berdebar-debar karena sedang digoyang-goyang oleh setan sehingga darah anda mengalir dengan deras dan nafsu andapun bangkit.

Segera baca ta’awuz (memohon perlindungan kepada Allah) dari godaan setan dan segera palingkan pandangan anda setiap melihat wanita yang tidak halal, agar setan tidak terus menggoyang-goyang jantung anda.

Dan kalau sudah menikah, segera pulang karena istri anda memiliki semua yang dimiliki oleh wanita yang anda anggap aduhai tersebut. Bahkan bisa jadi istri anda lebih spesial dibanding wanita tersebut.

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ الَّتِي تُعْجِبُهُ فَلْيَرْجِعْ إِلَى أَهْلِهِ حَتَّى يَقَعَ بِهِمْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مَعَهُمْ»

“Bila engkau melihat seorang wanita yang menjadikanmu tertegun kagum maka segeralah engkau pulang menjumpai istrimu dan lampiaskanlah hasratmu padanya, karena semua yang ada pada wanita tersebut ada pula pada istrimu. (Ibnu Hibban dan lainnya).

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

sumber : https://www.facebook.com/khusus.ikhwan.5/posts/1527769624135885?fref=nf

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2014/11/23/temukan-rahasianya-kenapa-rumput-tetangga-lebih-hijau/

Wanita Begitu Berharga, Inilah Rahasia Penjagaan Islam Terhadap Wanita


Ini rahasianya,..

wanita ahli surgaKaum ‘FEMINIS’ bilang susah jadi wanita, karena melihat peraturan dibawah ini saja:

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA”.

Pernahkah Kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

 

1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.

2.Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib jg menggunakan hartanya utk isteri dan anak-anak.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal dunia karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung- jawabkan terhadap! 4 wanita, yaitu: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jwb terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bln Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung-jawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita!!

KELEMAHAN WANITA ITU ADALAH:
“Wanita selalu lupa betapa berharga dirinya”

Al-Ilmu 488
(Grup WA)

sumber : htetapis://www.facebook.com/fadilfb

Reposting dari http://aslibumiayu.wordpress.com/2014/08/11/wanita-begitu-berharga-inilah-rahasia-penjagaan-islam-terhadap-wanita/

Apa Arti Cinta Sejati? Benarkah Cinta Anda Merupakan Cinta Sejati?? Buktikan..!


Cinta Sejati Dalam Islam

arti cinta sejatiMakna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.

Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami:

Apa itu cinta?

Adakah cinta sejati dan cinta suci?

Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?

Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis.

Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.

Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: http://www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).

Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda?

Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda?

Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.

Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya?

Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?

Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.

Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.

Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.

Saudaraku!

bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?

Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakarradhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya.

Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna.

Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Bagaimana saudaraku!

Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi?

Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)

Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik:

Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.

Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?

Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره

“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:

كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ

Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).

Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta.

Dalam pepatah arab dinyatakan:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.

Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah.

Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya.

Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda.

Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102

“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)

Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?

Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.

Mungkin anda kembali bertanya:

Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya?

Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?

Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه

“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadits lain beliau bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.

“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67

“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Saudaraku!

Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi.

Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat?

Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku!

Hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati.

Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.

Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.”

Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah.

Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.

Saudaraku!

Setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya:

Benarkah cinta anda suci?

Benarkah cinta anda adalah cinta sejati?

Buktikan saudaraku…

Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.

***

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari http://www.pengusahamuslim.com

Footnote:

1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga.

Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf.

Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

sumber : http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/cinta-sejati-dalam-islam.html

Reposting dari http://aslibumiayu.wordpress.com/2014/08/11/apa-arti-cinta-sejati-benarkah-cinta-anda-merupakan-cinta-sejati-buktikan/