Istri-Istri Rasulullah, Sejarah Pernikahannya, Dan Jangan Tertipu Dengan Sejarah Yang Salah Tentangnya


Silsilah Sejarah Pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam

Silsilah-Sejarah-Pernikahan-Nabi-shalallahu-‘alaihi-wa-sallamSebelum kita menelusuri sebagian kehidupan rumah tangga Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam bersama istri-istrinya maka sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu siapakah para ummahatul mukminin tersebut. Bagaimanakah silsilah sejarah pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam dengan mereka, sehingga kita memiliki sedikit gambaran tentang kehidupan rumah tangga Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam.

1) Khadijah binti Khuwailid

Istri pertama Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad. dan umur beliau shalallahu  ‘alaihi wa sallam tatkala menikahi Khadijah adalah dua puluh lima tahun, sedangkan Khadijah berumur dua puluh delapan tahun.

Khadijah adalah istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang paling dekat nasabnya dengan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Semua anak-anak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallamdilahirkan dari rahim Khadijah kecuali Ibrohim.

Khadijah adalah seorang wanita yang kaya, cantik, serta memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat, sehingga banyak orang Quraisy yang ingin menikahinya akan tetapi hatinya terpikat pada sosok seorang pemuda yang tidak memiliki harta namun memiliki budi pekerti yang luhur dan tinggi. Dialah Muhammad shalallahu  ‘alaihi wa sallam.

Khadijah telah mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela risalah kenabian. Ia lah wanita yang selalu menenangkan sang kekasih dikala dirundung duka dan gelisah. Ia menguntaikan mutiara-mutiara kata yang indah sebagai penyejuk di kala susah, penenang di kala bimbang, dan membakar semangat di kala lesu dan kecewa. Kata-kata indahnya telah diriwayatkan dan dicatat oleh perawi dan penulis, sebagai ibrah bagi para istri dan wanita yang hendak meneladani sang kekasih penghulu manusia.

Tatkala Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya “Aku mengkhawatirkan diriku”, Khadijah pun menanggapi curhatan sang kekasih dengan mengatakan,

“Tidak demikian, bergembiralah, Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa, engkau menolong orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang tak berdaya ditimpa musibah.”

Demikianlah ia menghibur sang suami yang kala itu khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya. Ia memotivasi, memuji, dan member kabar gembira.

Tidak heran Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya, selalu menyebut namanya, kemuliaannya, dan jasa-jasanya, meski ia telah tiada. sampai-sampai Aisyah berkata,

“Aku tidak pernah cemburu pada seorang pun dari istri-istri Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam seperti kecemburuanku pada Khadijah. aku tidak pernah melihanya, akan tetapi Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallamselalu menyebut namanya.

Terkadang Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallammenyembelih seekor kambing kemudian mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Ada kalanya aku berkata kepadanya, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita bagi Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallamkecuali Khadijah”, lalu Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia itu wanita yang demikian dan demikian dan aku dahulu memiliki seorang putra darinya…’” Aisyah cemburu kepada Khadijah padahal Khadijah telah meninggal dunia.

Khadijah wafat tiga tahun sebelum hijrah. Pada hari wafatnya Khadijah. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam merasakan kesedihan yang sangat dalam hingga tahun wafatnya disebut dengan “Tahun Kesedihan”.

selanjutnya marilah kita cermati perkataan Ibnul Qoyim rhimahullah yang menceritakan silsilah sejarah pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. beliau berkata,

2) Kemudian beberapa hari setelah itu beliau menikahi Saudah binti Zam’ah Al-Qurosyiah, dia lah yang telah menghadiahkan hari gilirannya (giliran menginap Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam di rumahnya) untuk Aisyah.

3) Setelah menkahi Saudah, beliau menikah dengan Ummu Abdillah Aisyah Ash-Siddiqoh binti Ash-Shiddiq yang telah dinyatakan kesuciannya oleh Allah dari atas langit ketujuh. kekasih Rasulullahshalallahu  ‘alaihi wa sallam, putri Abu bakar Ash-Shiddqi, malaikat telah menampakkan Aisyah kepada Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam sebelum menikah dengannya. Dalam mimpi beliau shalallahu  ‘alaihi wa sallammelihat Aisyah tertutup wajahnya dengan selembar kain dari sutra lalu malaikat itu berkata, “Inilah istrimu (bukalah kain penutup wajahnya)”. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Syawal dan umur Aisyah kala itu adalah enam tahun. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menggaulinya pada Syawwal pada tahun pertama hijrah ketika umurnya sembilan tahun. Beliau tidak menikahi seorang perawan  pun selainnya. Tidak pernah ada wahyu yang turun ketika nabi berselimut bersama salah seorang di antara istrinya kecuali Aisyah. Ia merupakan wanita yang paling dicintai nabi. Allah pun mencintainya dan membela serta menyucikan namanya dari tuduhan dusta. Telah turun wahyu dari langit menjelaskan terbebasnya Aisyah dari tuduhan zina dan umat sepakat akan kafirnya orang yang menduduh Aisyah berzina. Dia adalah istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang paling paham agama dan yang paling pandai, bahkan terpandai di antara para wanita umat ini secara mutlak. Tokoh-tokokh para sahabat pun menjadikan pendapatnya sebagai landasan beragama dan mereka sering meminta fatwa keadanya. Ada sebuah kabar yang menyatakan bahwa beliau pernah mengalami keguguran, namun pendapat ini tidak benar sama sekali.

4) istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang keempat adalah Hafshah binti Umar bin Al-Khattab. Abu Dawud menyebutkan bahwa Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam pernah menceraikannya kemudian ruju’ (kembali) lagi kepadanya.

5) Kemudian Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab binti Khuzaimah bin Al-Harits Al-Qurosyiah dari bani Hilal bin Amir. dan beliau wafat di sisi Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam setelah tinggal bersama selama dua bulan.

6) kemudian beliau menikah dengan Ummu Salamah Hind binti Abi Umayyah Al-Qurosyiah Al-Makhzumiah, nama Abu Umayyah adalah Hudzaifah bin Al-Mughiroh. Ummu Salamah merupakan istri Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam yang paling terakhir wafatnya menurut sebagian ulama, ada pula yang berpendapat Shafiah yang terakhir wafat di antara istri-istri  Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

7) Kemudian beliau menikahi Zainab binti Jahsy dari bani Asad bin Khuzaimah dan dia adalah anak Umayyah bibi Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Allah telah menurunkan firman-Nya berkaitan dengan dirinya,

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia.” (Q.s. Al-Ahzab: 37)

Peristiwa Allah langsung yang menikahkannya dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kebanggan tersendiri bagi Zainab binti Jahsy. Bagaimana tidak, Allah telah menjadi wali nikahnya, tentunya wajar apabila ia berbangga.

Ia pun sering membanggakannya di hadapan istri-istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam yang lain.

Ia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, adapaun aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang ke tujuh.”

Oleh karena itu, di antara keistimewaannya adalah Allah lah yang telah menikahkannya dengan Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Ia wafat di awal kekhalifahan Umar bin Al-Khatthab. Dahulunya ia adalah istri Zaid bin Haritsah dan Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya.

Tatkala Zaid menceraikannya maka Allah pun menikahkannya dengan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam agar umat Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam bisa mencontohnya atau agar anggapan haramnya menikahi istri anak angkat tidaklah menjadi isu yang benar, pendapat-itu hanya merupakan warisan budaya jahiliyah.

8) Kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhiror Al-Mushtoliqiah. Awalnya  ia merupakan seorang tawanan bani Mushtholiq (Kabilah Yahudi) lalu ia pun datang menemui Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam meminta agar Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam membantu penebusannya. Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam kemudian menebusnya dan menikahinya.

9) Kemudian Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah , namanya adalah Romlah binti Abi Sufyan Sokhr bin Harb Al-Qurosyiah Al-Umawiah. Ada pula yang mengatakan namanya adalah Hindun. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahinya pada saat Ummu Habibah sedang berada di negeri Habasyah karena berhijrah dari Mekah ke negeri Habasyah. Najasyi memberikan mahar atas nama Nabishalallahu  ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Habibah sebanyak empat ratus dinar. Lalu ia dibawa dari Habasyah kepada Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam (di Madinah). Ummu Habibah meninggal di masa pemerintahan saudaranya, Mu’awiyah.

10) Kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Shafiyah binti Huyai bin Akhtab pemimpin bani Nadhir dari keturunan harun bin Imron saudara Musa. Ia adalah putri (keturunan) Nabi (Harun) dan istri Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Ia termasuk wanita tercantik di dunia. Dahulu ia merupakan tawanan atau seorang budak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam kemudian Nabi memerdekakannya dan menjadikan pembebasannya sebagai maharnya.

11) Kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah binti Al-Haritsah Al-Hilaiah dan ia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shalallahu  ‘alaihi wa sallam menikahinya di Mekah pada waktu Umroh Al-Qadha setelah ia bertahallul -menurut pendapat yang benar-, Maimunah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah.

12) Ada pula yang memasukkan nama Raihanah binti Zaid An-Nasraniah di antara istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Raihanah binti Zaid An-Nasraniah ada juga yang menyatakan Al-Qurazhiah yakni dari kalangan Yahudi bukan Nasrani.

Ia merupakan tawanan pada waktu perang Bani Quraizhah. Saat itu ia adalah tawanan Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam kemudian Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallammemerdekakannya dan menikahinya. Rasulullah menceraikannya sekali kemudian ruju (kembali) kepadanya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Raihanah adalah budak Rasulullah yang digauli oleh beliau dan terus menjadi budaknya hingga Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wa sallam wafat. Oleh Karena itu, dia terhitung termasuk budak-budak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam dan bukan termasuk istri-istrinya.

Al-Waqidi lebih cenderung kepada pendapat yang pertama, yakni ia merupakan istri nabi. Pendapatnya disetujui oleh Syarifuddin Ad-Dimyathi. Ia mengatakan bahwa pendapat inilah yang lebih kuat meurut para ahli ilmu. Namun, perkataannya itu perlu dicek kembali karena yang dikenal bahwasanya Raihanah termasuk budak-budak Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam.

Sumber: Suami Idaman Istri Pilihan, Firanda, Pustaka Muslim dengan perubahan bahasa seperlunya.

Artikel www.KisahMuslim.com

Materi terkait pernikahan Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam:

1. Romantisme Rasulullah Bersama Istri-istrinya.

2. Aisyah Istri Nabi.

sumber : http://kisahmuslim.com/silsilah-sejarah-pernikahan-nabi/

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/istri-istri-rasulullah-sejarah-pernikahannya-dan-jangan-tertipu-dengan-sejarah-yang-salah-tentangnya/

Berapa Umur Aisyah Ketika Dinikahi, Dan Berapa Umurnya Ketika Tinggal Di Rumah Rasulullah?


pink-roseBismillah,
Hadits-hadits yang meriyawatkan bahwa Ummul Mukminin, Aisyah radiyallahu anha, dinikahi oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, pada saat beliau masih berusia enam atau tujuh tahun adalah hadits-hadist yang derajatnya SAH (Shahih), karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim didalam kitab Shahih mereka.

Barangsiapa mengatakan hadits ini lemah atau tidak kuat lantaran tidak layak seorang Nabi menikahi anak dibawah umur, mereka HARUS mendatangkan dalil, yang menurut saya tidak akan bisa lantaran telah SAH khabar dari Nabi, sebagaimana hadits-hadits berikut ini.

Hadits Pertama :

Dari Aisyah radiyallahu anha berkata:
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menikahiku pada saat aku berusia enam tahun. Ketika aku tiba di Madinah, aku berhenti di Bani Al-Harits bin Al-Khajraj. Aku menderita sakit panas hingga rambutku rontok dan tumbuh lagi. Setelah itu, ibuku, Ummu Ruman, datang kepadaku. Ketika itu, aku berada di ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggilku, kemudian aku datang kepadanya. Aku tidak tahu apa yang diinginkan ibuku terhadapku.
Ibuku menyuruhku berdiri disamping pintu dan aku dalam keadaan terengah-engah. Aku berkata,’Hah,hah,’ agar nafasku kembali teratur. Ibuku mengambil sedikit air, mengusapkannya ke wajah dan kepalaku, kemudian membawaku masuk ke rumah yang ternyata didalamnya terdapat sejumlah wanita dari kaum Anshar. Mereka berkata,”Selamat, mudah-mudahan baik dan penuh berkah.’” Ibuku menyerahkanku kepada wanita-wanita kaum Anshar tersebut, kemudian mereka membersihkan kepalaku dan mendandaniku. Tidak ada yang membuatku grogi melainkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang sedang duduk di atas kasur rumah kami.
Setelah itu wanita-wanita Anshar tersebut menyerahkanku kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan beliau menggauliku di rumah kami. Unta dan kambing tidak disembelih untukku hingga suatu saat Sa’ad bin Ubadah mengirimkan piring berisi makanan, karena ia terbiasa mengirimkannya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika beliau menggilir istri-istri beliau. Ketika itu aku berusia sembilan tahun.
[Diriwayatkan Al Bukhari di kitab manaqib kaum Anshar, bab pernikahan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dengan Aisyah hadits nomor 3894, Muslim di kitab Nikah, bab ayah menikahkan gadis kecilnya hadits nomor 1422 dan Ibnu Hibban di buku al Ihsan hadits nomor 7055].
Hadits Kedua :
Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah Radiyallahu anha,
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menikahi Aisyah Radiyallahu anha pada saat ia berumur tujuh tahun, kemudian ia diserahkan kepada beliau saat ia berumur sembilan tahun dan masih membawa bonekanya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam wafat saat Aisyah berumur delapan belas tahun.
[Diriwayatkan oleh Muslim nomor 1422]
Hadits Ketiga :
Muslim dan An Nasai meriwayatkan hadits dari Aisyah Radiyallahu anha yang berkata,
“Rasululah Shallallahu alaihi wasallam menikahiku pada saat aku berusia tujuh tahun dan menggauliku pada saat aku berusia sembilan tahun. Ketika itu aku bermain dengan teman-teman wanitaku dan mereka sering datang kepadaku. Jika mereka melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mereka lari dari beliau. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sering memanggil mereka untukku.”
[Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan lain-lain].
Hadits Keempat :
Ibnu Abu Khaitsamah meriwayatkan dari Aisyah Radiyallahu anha yang berkata,
“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menikahiku di Makkah pada saat aku berumur enam tahun, kemudian beliau meninggalkanku selama tiga tahun. Kemudian beliau masuk kepadaku di Madinah saat aku berusia sembilan tahun. Saat itu, aku bersama boneka-bonekaku dan teman-teman wanita sepermainanku yang biasa datang kepadaku. Jika mereka melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, mereka langsung pulang kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memanggil mereka untukku.
Hadits Kelima :
Dari Hisyam dari ayahnya, ia berkata:”Khadijah meninggal sebelum kepergian Nabi Shallallahu alaihi wasallam ke Madinah dengan (selisih) tiga tahun. Lalu beliau tinggal (disana) dua tahun atau kurang lebih dari itu dan memperistri Aisyah, di saat ia berumur enam tahun. Kemudian beliau membangun kota Madinah di saat Aisyah berumur sembilan tahun.
[HR Bukhari]
Demikianlah lima buah hadits yang secara gamblang dan nyata menceritakan bahwa Rasulullah menikahi Aisyah pada saat ia berumur enam atau tujuh tahun. Beliau menggauli Aisyah pada saat berumur 9 tahun.
Sekali lagi, barangsiapa yang mengatakan bahwa hadits-hadits diatas TIDAKLAH BENAR, maka ia harus mendatangkan dalil-dalil yang SAH dan KUAT. Karena hadits-hadits tersebut tercantum dalam kitab-kitab yang shahih. Sebagaimana kitab shahih Bukhari, yang dikenal sebagai kitab paling shahih setelah Al Qur’anul Karim.
Wallahu a’lam.

sumber : http://abuayaz.blogspot.com/2011/07/hadits-hadits-aisyah-dinikahi-nabi-pada.html#ixzz3P91CwX3j

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/berapa-umur-aisyah-ketika-dinikahi-dan-berapa-umurnya-ketika-tinggal-di-rumah-rasulullah/

Usia Khadijah Bukan 40 Tahun Ketika Dinikahi Oleh Rasulullah, Itu Adalah Kisah Yang Tidak Benar


Usia Khadijah ketika Menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

bunga9Dari pernikahan dengan Khadijah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai 6 putra. Realita ini menuai tanda tanya, di usia berapakah Khadijah menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Keterangan yang banyak tersebar di buku-buku sirah, usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 40 tahun. Dan beliau meninggal di usia 65 tahun.
Keterangan ini berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat Al-Kubro, dari Al-Waqidi. Dalam riwayat itu dinyatakan:

وتزوجها رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو بن خمس وعشرين سنة وخديجة يومئذ بنت أربعين سنة ولدت قبل الفيل بخمس عشرة سنة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 1/132)

Sementara itu, para perawi hadis menegaskan bahwa Al-Waqidi perawi yang matruk(ditolak hadisnya). Yahya bin Main mengatakan tentang Al-Waqidi:

كان الواقدي يضع الحديث وضعاً

“Al-Waqidi benar-benar telah memalsu hadis.” (Masyikhatun Nasai, hlm. 76).

Di sisi lain, terdapat riwayat yang berbeda dengan keterangan dari Al-Waqidi. Al-Hakim dengan sanadnya, meriwayatkan dari Muhammad Ibnu Ishaq, beliau menyatakan:

وكان لها يوم تزوجها ثمان وعشرون سنة

“Pada hari pernikahannya (Khadijah), beliau berusia 28 tahun.” (Al-Mustadrak Al-Hakim, 11/157)

Hanya saja Ibnu Ishaq tidak menyertakan sanad berita ini.

Kemudian Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwah menukil perkataan Al-Hakim:

قرأت بخط أبي بكر بن أبي خيثمة قال : حدثنا مصعب بن عبد الله الزبيري قال : أكبر ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم القاسم ، ثم زينب ، ثم عبد الله ، ثم أم كلثوم ، ثم فاطمة ، ثم رقية ….. ثم مات القاسم وهو أول ميت من ولده ، مات بمكة ، ثم مات عبد الله ، ثم بلغت خديجة خمسا وستين سنة ، ويقال خمسين سنة وهو أصح …

Aku membaca tulisan Abu Bakr bin Abi Khaitsamah yang mengatakan, bahwa Mus’ab bin Abdillah Az-Zubairi mengatakan:
Anak tertua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qosim, kemudian Zainab, kemudian Abdullah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fatimah, lalu Ruqayyah…. kemudian Al-Qosim meninggal, dan beliau adalah putra beliau pertama yang meninggal, dan meninggal di Mekah. Kemudian Abdullah meninggal, kemudian usia Khadijah menginjak 65 tahun. Ada yang mengatakan, (usia beliau) 50 tahun, dan itulah yang lebih kuat. (Ad-Dalail, no. 404)

Sementara itu, dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengatakan

وهكذا نقل البيهقي عن الحاكم أنه كان عمر رسول الله صلى الله عليه و سلم حين تزوج خديجة خمسا وعشرين سنة وكان عمرها إذ ذاك خمسا وثلاثين وقيل خمسا وعشرين سنة

“…demikianlah dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun, ada juga yang mengatakan, 25 tahun…” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2/295)

Kemudian, ketika Ibnu Katsir membahas tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau membawakan dua riwayat,

وعن حكيم بن حزام قال كان عمر رسول الله يوم تزوج خديجة خمسا وعشرين سنة وعمرها أربعون سنة وعن ابن عباس كان عمرها ثمانيا وعشرين سنة رواهما ابن عساكر

Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Usia Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikahi Khadijah adalah 25 tahun. Sedangkan usia Khadijah 40 tahun.” Sementara dari Ibnu Abbas, bahwa usia Khadijah 28 tahun. Keduanya diriwayatkan Ibnu Asakir. (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/293).

Dr. Akram Dhiya Al-Umri memberi kesimpulan:
“Khadijah melahirkan anak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua lelaki dan empat perempuan, yang ini menguatkan riwayat Ibnu Ishaq (bahwa usia beliau 28 tahun). Karena umumnya wanita sudah berada di usia menapaus sebelum 50 tahun.” (As-Sirah An-Nabawiyah As-Shahihah, 1/113).

Catatan:
Az-Zubair bin Bakkar (wafat 256 H) mengatakan:

هند بنت أبي عبيدة بن عبد الله بن زمعة حملت بموسى بن عبد الله بن حسن بن حسن بعد ستين سنة قال الزبير وسمعت علماءنا يقولون لا تحمل امرأة بعد ستين سنة إلا من قريش ولا بعد خمسين إلا عربية.

“Hindun bintu Abu Ubaidah mengandung Musa bin Abdillah bin Hasan di atas usia 60 tahun. Kami mendengar para ulama kami mengatakan: ‘Tidak ada wanita yang bisa hamil di atas 60 tahun, kecuali dari suku Quraisy. dan tidak ada yang bisa hamil di atas 50 tahun, selain wanita arab.’” (Tarikh Baghdad, 5/462).
Allahu a’lam

Oleh: Ust. Ammi Nur Baits

Maraji’.: Ma Syaa’a wa lam Yatsbut fi As-Shirah An-Nabawiyah, Muhammad bin Abdullah Al-Ausyan, Dar Thaibah, 1428 H.

***
Artikel muslimah.or.id

sumber : http://muslimah.or.id/kisah/usia-khadijah-ketika-menikah-dengan-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/usia-khadijah-bukan-40-tahun-ketika-dinikahi-oleh-rasulullah-itu-adalah-kisah-yang-tidak-benar/

Kemuliaan dan Keutamaan Aisyah


Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi.

Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun.

Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435).

Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammeninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.

Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau.

Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya.

Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.

Kedudukan Aisyah di Sisi Rasulullah

Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.” Maka beliau pun tetap berdiri.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))

Canda Nabi kepada Aisyah

Aisyah bercerita, “Suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa ini wahai Aisyah.” Lalu aku katakan, “Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban (13/174))

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238))

Keutamaan-keutamaan Aisyah

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ibunda Aisyah, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:

“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Beberapa kemuliaan itu di antaranya:
Pertama: Beliau adalah satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi tatkala gadis, berbeda dengan istri-istri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain karena mereka dinikahi tatkala janda.

Aisyah sendiri pernah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilahirkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengan ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))

Kedua: Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan wanita.

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab,Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))

Maka pantaskah kita membenci apalagi mencela orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!!

Mencela Aisyah berarti mencela, menyakiti hati, dan mencoreng kehormatan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Na’udzubillah.

Ketiga: Aisyah adalah wanita yang paling alim daripada wanita lainnya.

Berkata az-Zuhri, “Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))

Berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11))

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehatan, dan ilmu syair.”

Keempat: Para pembesar sahabat apabila menjumpai ketidakpahaman dalam masalah agama, maka mereka datang kepada Aisyah dan menanyakannya hingga Aisyah menyebutkan jawabannya.

Berkata Abu Musa al-Asy’ari, “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.” (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3044))

Kelima: Tatkala istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kehidupan apa adanya, atau diceraikan dan akan mendapatkan dunia, maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimanapun kondisi beliau sehingga istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain mengikuti pilihan-pilihannya.

Keenam: Syari’at tayammum disyari’atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu Shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum.

Berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” (HR. Bukhari (334))

Ketujuh: Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh.

Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik.

Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari (4141))

Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, beliau selalu mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Shiddiqoh binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.”

Kedelapan: Barang siapa yang menuduh beliau telah berzina maka dia kafir, karena Al-Quran telah turun dan menyucikan dirinya, berbeda dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

Kesembilan: Dengan sebab beliau Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh wanita muhshanat (yang menjaga diri) berzina, tanpa bukti yang dibenarkan syari’at.

Kesepuluh: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, Beliau memilih tinggal di rumah Aisyah dan akhirnya Beliau pun meninggal dunia dalam dekapan Aisyah.

Berkata Abu Wafa’ Ibnu Aqil, “Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk tinggal di rumah Aisyah tatkala sakit dan memilih bapaknya (Abu Bakr) untuk menggantikannya mengimami manusia, namun mengapa keutamaan agung semacam ini bisa terlupakan oleh hati orang-orang Rafidhah padahal hampir-hampir saja keutamaan ini tidak luput sampaipun oleh binatang, bagaimana dengan mereka…?!!”

Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat untuk dishalati oleh Abu Hurairah dan dikuburkan di pekuburan Baqi pada malam itu juga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Aamiin.

Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang telah dicontohkan Aisyah kepada kita di antaranya:

  1. Perlakuan baik seorang istri dapat membekas pada diri suami dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami yang akan selalu ia kenang hingga ajal menjemputnya.
  2. Hendaklah para wanita menjaga mahkota dan kesuciannya, karena kecantikan dan keelokan itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa ia jaga dan tidaklah boleh dia peruntukkan kecuali kepada yang berhak atasnya.
  3. Hendaklah para istri mereka belajar dan mencontoh keshalihan suaminya. Istri, pada hakikatnya adalah pemimpin yang di tangannya ada tanggung jawab besar tentang pendidikan anak dan akhlaknya, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 06 Tahun kiadhan 1427 H / Oktober 2006

Artikel http://www.KisahMuslim.com

sumber : http://kisahmuslim.com/kemuliaan-dan-keutamaan-aisyah/

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/18/aisyah-wanita-yang-mulia-cerdas-dan-merupakan-istri-nabi-di-dunia-dan-di-akherat/

Selfie Cadar: Menutupi Tetapi Hakikatnya Ingin Dilihat


cadar-204x240Ada juga ya, wanita yang pakai cadar tapi upload wajah diri dengan cadarnya, plus gaya centil pula”

Berfoto selfie cadar sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern saat ini. Untuk berbagai momen dan kebutuhan akun media sosial atau sekedar ingin menunjukkan eksistensi diri. Namun, bagi wanita yang sudah berkomitmen memakai cadar dan berusaha mencapai puncak kemuliaan wanita, tidak selayaknya melakukan hal ini. Berfoto ria dengan menampakkan muka memakai cadar, menggunakan gaya-gaya yang tidak kalah (maaf) “narsisnya” dengan foto model ataupun minimal gerakan mata dan alis yang mewakili ekspresi mereka.

Bahkan ada juga yang ramai-ramai, beberapa wanita dengan sunah memakai cadar, berfoto bareng dengan berbagai ekpresi eksistensi dengan gaya yang menunjukkan seolah-olah mereka belum paham sunnah. Kemudian foto tersebut diupload di media sosal atau dijadikan gambar akun peribadi. tentunya menjadi foto “milik bersama” dan menjadi konsumsi publik. Tentu ini tidak selayaknya dilakukan oleh wanita dengan komitmen menerapkan sunnah memakai cadar.

Hakikat cadar adalah menutupi diri dari laki-laki yang bukan mahram

Ulama yang menyimpulkan hukum sunnah untuk cadar atau yang mewajibkan cadar sama-sama sepakat bahwa wajah dan kecantikan wanita bisa menjadi fitnah bagi laki-laki. Karena wajah wanita selayaknya ditutup, semua laki-laki pasti setuju hal ini. Tentu para istri tidak rela, suaminya menikmati kecantikan wajah wanita lainnya kemudian terbesit sesuatu dalam hati suaminya.

Daya tarik utama bagi laki-laki adalah wajah wanita. Ulama mengatakan,

فالرجل الذي يريد أن يتعرف على جمال المرأة إنما ينظر إلى وجهها

“Laki-laki jika ingin mengetahui kecantikan seorang wanita maka ia pasti akan memandang ke wajahnya.”[1]

karenanya seorang Sahabat bernama Al-Fadhl diperintahkan agar memalingkan pandangan dari kecantikan wajah wanita karena berpotensi menjadi fitnah.

Fadhl bin Abbas (saudaranya Ibn Abbas) pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di belakang beliau, karena tunggangan Fadhl kecapekan. Fadhl adalah pemuda yang cerah wajahnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di atas tunggangannya, untuk menjawab pertanyaan banyak sahabat yang mendatangi beliau. Tiba-tiba datang seorang wanita dari Bani Khats’am, seorang wanita yang sangat cerah wajahnya untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas melanjutkan,

فَطَفِقَ الفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا، فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الفَضْلِ، فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا

Maka Fadhl-pun langsung mengarahkan pandangan kepadanya, dan takjub dengan kecantikannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah beliau, namun Fadhl tetap mengarahkan pandangannya ke wanita tersebut. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang rahang Fadhl dan memalingkan wajahnya agar tidak melihat si wanita.[2]

Para laki-laki yang penasaran dan Pandangan yang sulit ditahan di dunia maya

Banyaknya foto-foto tersebut semisal wanita yang mengupload foto selfie. Ternyata mengundang juga penasaran para laki-laki karena memang fitnah/ujian wanita yang cukup besar dan menjadi fitnah terbesar laki-laki.

Jika foto selfie cadar wanita, maka ada-ada saja terbesit dalam hati laki-laki
“Alisnya bagus ya, pasti cantik ni”
“wah tinggi juga ternyata, bodinya pas sepertinya”

Masa’ sih laki-laki sampai segitunya?

Iya bisa, apalagi bagi laki-laki yang dalam hatinya ada peyakit “syahwat terhadap wanita”

Allah Ta’ala berfirman :,

إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu (wanita) tunduk (menghaluskan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab :32)

Ya demikianlah, wanita yang apa adanya dengan cadar selalu dihias-hiasi yang bisa jadi dengan hiasan semu oleh setan yang sudah bersumpah akan mencari teman manusia di nereka.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المَرْأَةُ عَوْرَةٌ إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَ فَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Bila ia keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki).[3] 

Syaikh Abul ‘Ala Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء

“Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki), maknanya adalah setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu.”[4] 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

 Pandangan adalah satu anak panah di antara anak panah-anak panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan keimanan dan ia merasakan manisnya di hatinya”[5]

Telah dijelaskan juga, bahwa wanita bisa menjadi fitnah dan menghilangkan akal sehat laki-laki yang telah istiqamah dan teguh imannya sekalipun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[6]

Wanita bercadar atau tidak, jangan upload gambar dan wajah diri di media sosial

Setelah tahu fitnah dan ujian pandangan mata, maka tidak selayaknya wanita baik yang bercadar atau tidak meng-upload gambar dan foto diri di dunia maya. Begitu juga laki-laki, sebaiknya jangan mengupload karena wanitapun diperintahkan agar menundukkan pandagannya.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An Nur: 30)

Wanita juga perlu menundukkan pandangan, Allah Ta’ala berfirman,

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nuur : 31)

Bahkan kita diperintahkan memalingkan pandangan kita jika melihat, akan tetapi dengan bertebarannya gambar-gambar foto para wanita.

Cukup sulit menerapkan hadits ini:

Dari Jarir bin Abdillah radliyallahu ‘anhu , ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجَاءَةِ, فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَِصْرِفَ بَصَرِيْ

“Saya bertanya  kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahan aku untuk memalingkan pandanganku”[7]

Demikian semoga bermanfaat

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB ,  follow twitter , Follow Akun Faceebook

[1] Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=26290

[2] HR. Bukhari, no.6228

[3] HR. At-Tirmidzi no. 1173, dishahihan oleh Al-Albani mengatakan dalam Misykatul Mashabih no. 3109

[4] Tuhfatul Ahwadzi 4/283, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Asy-Syamilah

[5] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875, dia berkata: sanad hadist shahih dan tidak dikeluarkan oleh bukhari dan muslim, tahqiq Musthofa Abdul Qodir Atha

[6] HR. Bukhari no. 304

[7] HR. Muslim no. 2159

reposting dari http://muslimafiyah.com/selfie-cadar-menutupi-tetapi-hakikatnya-ingin-dilihat.html

Apa Yang Harus Ku Lakukan Dengan Pernikahan Mut’ahku?


imagesPertanyaan:

Aku telah memeluk agama Islam tiga tahun yang lalu. Tak lama setelah itu, aku menikah dengan seorang lelaki Syi’ah nikah mut’ah di Pengadilan Amerika. Tidak ada kecockan diantara kita selama bertahun-tahun, dan aku ingin berpisah darinya. Akan tetapi, dia berulang kali bilang kepadaku, “Allah memurkai talak.”

Apakah pernikahan kami itu sah? Jika aku berpisah dengannya, apakah itu dianggap sebagai perceraian? Jika pernikahan itu memang tidak sah, apa yang harus aku lakukan?

Jawaban:

Alhamdulillah. Kita memuji Allah – Mahasuci Dia – yang telah memberi Anda hidayah untuk memeluk agama Islam. Itu adalah nikmat  terbesar yang diberikan Tuhan semesta alam bagi Anda. Aku mohon kepada Allah – Dzat yang Mahasuci – agar Dia menyempurnakan nikmat tersebut dengan mengaruniakan (hidayah bagi) Anda untuk selalu istiqomah. Dia Mahasuci lagi Mahamulia.

Ketahuilah wahai Ibu penanya, bahwa prinsip pernikahan dalam syariat Islam adalah membina keberlangsungan dan kelanggengan (rumah tangga). Adapun pernikahan yang memiliki batasan waktu – yaitu nikah mut’ah – dulu memang dibolehkan (mubah) pada masa awal dakwah Islam, kemudian status mubah tersebut telah dihapus sehingga statusnya menjadi haram sampai hari kiamat.

Diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan (mengonsumsi) daging keledai jinak sejak masa perang Khaibar.” – Dalam riwayat lain, “Beliau melarang nikah mut’ah dengan para wanita pada masa Perang Khaibar dan melarang (makan) daging keledai jinak.” (HR. Bukhari, no. 3979; Muslim, no.1407)

Diriwayatkan dari Rabi’ bin Sabrah Al-Juhani, ayahnya menceritakan bahwa dia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam, lalu beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sungguh aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para wanita, dan sesungguhnya Allah (kini) telah mengharamkan hal tersebut hingga hari kiamat. Oleh karena itu, barang siapa yang memiliki istri mut’ah maka dia wajib melepaskannya dan tidak boleh mengambil mahar sedikit pun dari mereka.” (Muslim no.1406)

Allah Ta’ala telah menjadikan pernikahan sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung. Allah Ta’ala juga telah menciptakan rasa cinta dan kasih sayang di antara dua insan yang terikat pernikahan. Allah jadikan istri sebagai ketenangan bagi suaminya. Allah memotivasi untuk memperbanyak keturunan, dan Allah tetapkan bagi wanita untuk menjalani masa ‘iddah dan berhak mendapatkan warisan. Dan semua itu, tidak ada dalam nikah mut’ah yang haram ini.

Termaktub dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, 41:335, “Karena pernikahan tidaklah disyariatkan untuk sebatas memuaskan syahwat, namun disyariatkan untuk tujuan dan maksud tertentu, sementara melampiaskan syahwat dengan cara nikah mut’ah bukan sarana untuk mendapatkan tujuan tersebut. Oleh sebab itu, nikah mut’ah tidak disyariatkan.”

Dari penjabaran ini bisa kita ketahui bahwa pernikahan yang telah berlangsung antara Anda dengan lelaki tersebut adalah pernikahan yang bathil, dan tidak sah. Pernikahan tersebut wajib dipisahkan (fasakh) baik sebelum terjadi hubungan badan maupun setelahnya. Hanya saja para ahli fikih berbeda pendapat mengenai cara memisahkannya (fasakh-nya), apakah dengan cara talak atau tanpa talak. Al-Kharsyi Al-Maliki menjelaskan dalam Syarah Mukhtashar Khalil, 3:196, “Nikah mut’ah dipisahkan setelah terjadi hubungan badan, sebagaimana pernikahan tersebut juga harus dipisahkan sebelumnya (sebelum terjadi hubungan). Pasangan lelaki dan perempuan tersebut dikenai hukuman, namun bukan hukuman had. Anak yang lahir dari “pernikahan” tersebut dinasabkan kepada ayah biologisnya. Cara fasakh-nya adalah tanpa melalui talak, dan ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengannya.”

Makna “ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengannya” maksudnya: ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengan cara talak.

Adapun pembahasan tentang mahar, para ulama telah sepakat bahwa si wanita tidak berhak mendapatkan mahar apa pun jika perpisahan terjadi sebelum adanya hubungan badan. Sedangkan jika hubungan badan telah terjadi, para ulama tersebut berbeda pendapat: Apakah si wanita berhak mendapat mahar musamma (mahar yang disepakati suami-istri sebelum atau pada saat akad, pen.), mahar mitsil (mahar standar masyarakat, ed.), atau lebih sedikit dibandingkan mahar mitsil maupun mahar musamma.

Tertulis dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, 41:341,

Para ulama fikih sepakat bahwa lelaki yang menikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib memberikan mahar, hadiah penghibur (secara bahasa, mut’ah berarti “hadiah penghibur”, pen.), maupun nafkah, selama si lelaki belum berhubungan badan dengan si wanita.

Jika sudah berhubungan badan, si wanita berhak memperoleh mahar mitsil, meskipun ketika akad disebutkan mahar musamma. Ini menurut ulama Mazhab Syafi’i, dan sebuah keterangan dari Imam Ahmad, serta salah satu pendapat dalam Mazhab Maliki. Karena disebutkannya batas waktu pernikahan menyebabkan mahar menjadi berkurang.

Ulama Mazhab Hanafi berpendapat lain, bahwa jika telah terjadi hubungan badan – jika maharnya disebutkan sebelum atau pada saat akad nikah – maka si wanita berhak mendapat jumlah mahar yang lebih sedikit dari mahar musamma maupun mahar mitsil. Adapun jika maharnya tidak disebutkan sebelum atau pada saat akad nikah maka si wanita berhak memperoleh mahar mitsil. Dia memperoleh sesuatu yang menjadi haknya.

Ulama Mazhab Maliki dan madzhab Hanbali berpendapat bahwa si wanita berhak mendapat mahar musamma jika dia telah disetubuhi.

Terkait pembahasan ‘iddah, si wanita wajib menjalani masa ‘iddah setelah berpisah dari suami mut’ah-nya. Salah satu hikmah adanya masa ‘iddah adalah membersihkan rahim. Adanya kewajiban masa iddah — untuk membersihkan rahim — berlaku untuk pernikahan yang sah maupun yang batal.

Ibnu ‘Abdil Bar berkomentar tentang hadits nikah mut’ah, “Tidak ada hukuman had (setelah fasakh), anak dinasabkan ke ayahnya, dan si wanita wajib menjalani masa ‘iddah sampai selesai.” (Al-Kafiyah di Fiqhi Ahlil Madinah, 2:533)

Kesimpulannya, Anda tidak boleh terus melanjutkan pernikahan yang batal ini. Bahkan Anda wajib menghentikannya. Kemudian Anda juga wajib menjalani masa ‘iddah (setelah perceraian) sebagaimana yang berlaku pada pernikahan yang sah. Jika masa ‘iddah Anda telah selesai, Anda boleh menikah lagi dengan lelaki lain yang Anda cintai untuk menjadi suami.

Wallahu a’lam.

Fatawa Sual wa Jawab

Diasuh oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid

Sumber: http://islamqa.info/ar/194866 (iz)

Repoting dari http://koepas.org/index.php/fiqbanding/632-apa-yang-harus-ku-lakukan-dengan-pernikahan-mut-ahku

Apa Yang Disebut Romantis, Dan Bagaimana Membangun Romantisme Dalam Rumah Tangga? Temukan Kiat-Kiatnya.. SSt.. Yang Belum Nikah Jangan Baca Ya..


KHUSUS BACAAN YG SUDAH DEWASAromantisme2
*****************************
Sharing dari milis sebelaah Seorang ibu setengah baya pd sebuah pengajian rutin bertanya kpd ustadnya; ‘stad bgmn membangun romantisme dlm keluarga” pertanyaan yg membuat keringat sang ustad mengalir deras….namun tetap mencoba menjawab;

Romantisme itu….
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

sumber : https://www.facebook.com/iwan.darmawan.587?fref=nf

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2014/12/02/apa-yang-disebut-romantis-dan-bagaimana-membangun-romantisme-dalam-rumah-tangga-temukan-kiat-kiatnya-sst-yang-belum-nikah-jangan-baca-ya/

Temukan Rahasianya Kenapa Rumput Tetangga Lebih Hijau ?


::: RAHASIA RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU :::betulkah-rumput-tetangga-lebih-hijau

Sobat, anda pernah melihat wanita yang aduhai cantiknya, sehingga memikat hati anda ?

Atau barang kali anda merasa bahwa “ladang tetangga” senantiasa nampak lebih hijau nan menyegarkan dibanding “ladang anda “sendiri ?

Pernahkah anda berpikir, mengapa semua itu bisa terjadi ?

Ketahulah sobat !

Sejatinya yang menyebabkan anda begitu tergoda dan “ladang tetangga” nampak lebih hijau dibanding “ladang” sendiri adalah nafsu birahi setan.

Setan menipu pandangan anda dan menggoyang-goyang jantung anda sehingga setiap melihat “ladang tetangga” atau wanita yang tidak halal spontan jantung anda terasa berdebar-debar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان

“Sejatinya wanita itu adalah aurat, sehingga setiap kali mereka keluar dari rumahnya, maka setan pasti mengesankan mereka nampak begitu cantik rupawan. (Ahmad)

Inilah yang terjadi, jantung anda berdebar-debar karena sedang digoyang-goyang oleh setan sehingga darah anda mengalir dengan deras dan nafsu andapun bangkit.

Segera baca ta’awuz (memohon perlindungan kepada Allah) dari godaan setan dan segera palingkan pandangan anda setiap melihat wanita yang tidak halal, agar setan tidak terus menggoyang-goyang jantung anda.

Dan kalau sudah menikah, segera pulang karena istri anda memiliki semua yang dimiliki oleh wanita yang anda anggap aduhai tersebut. Bahkan bisa jadi istri anda lebih spesial dibanding wanita tersebut.

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ الَّتِي تُعْجِبُهُ فَلْيَرْجِعْ إِلَى أَهْلِهِ حَتَّى يَقَعَ بِهِمْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مَعَهُمْ»

“Bila engkau melihat seorang wanita yang menjadikanmu tertegun kagum maka segeralah engkau pulang menjumpai istrimu dan lampiaskanlah hasratmu padanya, karena semua yang ada pada wanita tersebut ada pula pada istrimu. (Ibnu Hibban dan lainnya).

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

sumber : https://www.facebook.com/khusus.ikhwan.5/posts/1527769624135885?fref=nf

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2014/11/23/temukan-rahasianya-kenapa-rumput-tetangga-lebih-hijau/

Hasil Tes DNA Tidak Diterima Dalam Hukum Islam (nasab syar’i)


dnaSering kita mendengar tes DNA untuk memastikan siapkah orang tua (bapak) dari anak yang dikandung oleh seorang wanita. Tes ini diklaim cukup valid, sehingga sering dipakai dalam berbagai kasus bahkan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengadilan. Terlepas dari permasalahan validitas, kita melihat bagaimana kacamata syariat melihat hal ini.

Membedakan Nasab biologis dan nasab syar’i

Dua hal ini berbeda, sebagai contoh kasus anak yang  lahir dari hasil perzinahan. Maka anak tersebut tidak dinasabkan kepada bapaknya secara syariat. Anak tersebut memang adalah anak biologis dari bapaknya (lahir dari benih sperma bapaknya), akan tetapi bukan anak bapak tersebut secara syariat. Berikut penjelasan yang lebih rinci:

Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan,

قَضَى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا ، أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لا يَلْحَقُ بِهِ وَلا يَرِثُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka, tidak dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya.”[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

“Anak yang lahir adalah bagi pemilik kasur (dinasabkan kepada suami yang sah), dan seorang pezina tidak punya hak (pada anak hasil perzinaannya).”[2]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

فمعناه أنه إذا كان للرجل زوجة أو مملوكة صارت فراشا له فأتت بولد لمدة الإمكان منه لحقه الولد وصار ولدا يجري بينهما التوارث وغيره من أحكام الولادة سواء

“Jika seorang laki-laki memiliki istri atau seorang budak wanita, maka wanita tersebut menjadi firasy bagi suaminya (anak yang dikandung dinasabkan kepada suaminya atau pemilik budak). Selama sang wanita menjadi firasy lelaki maka setiap anak yang terlahir dari wanita tersebut adalah anaknya.[3]

Jadi, anak tersebut tetap dinasabkan (nasab syar’i) kepada pemilik kasur (suaminya yang sah) walaupun misalnya istrinya selingkuh dan anak tersebut lahir bukan dari benih suaminya, maka anak tersebut tetap anak suaminya secara syariat (walaupun nasab biologisnya bukan anak suaminya)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

حتى لو أن امرأة أتت بولد وزوجها غائب عنها منذ عشرين سنة لحقه ولدها

“walaupun hingga seorang istri melahirkan anak suaminya yang sedang pergi (tidak ada) selama 20 tahun, makan anak tersebut dinasabkan (nasab syariat) kepada suaminya.”[4]

Dan laki-laki yang berzina tidak berhak atas anak zinanya tersebut, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

بمعنى أنه لو كانت المزني بها لا فراش لها، وادعى الزاني أن الولد ولده فهل يلحق به؟ الجمهور على أنه عام، وأنه لا حق للزاني في الولد الذي خلق من مائه

“Maknanya jika seorang berzina dengan bukan firasy-nya (bukan istri sah), kemudian ia mengklaim anak tersebut adalah anaknya, apakah anak tersebut dinisbatkan kepadanya? Pendapat jumhur ulama bahwa lafadz (hadits) umum, tidak ada hak bagi pezina pada anak tersebut yang (walaupun) diciptakan dari maninya.”[5]

Dengan demikian, seluruh hukum nasab antara anak zina dengan bapaknya tidak berlaku, yaitu:

1. Bapak dan anak zinanya tidak saling mewarisi.

2. bapaknya tidak wajib memberi nafkah kepada anak zinanya.

3. Bapaknya bukan mahram bagi anak zinanya (jika dia wanita),

kecuali jika bapaknya menikah dengan ibu anak tersebut dan telah melakukan hubungan jimak suami-istri (keduanya bertaubat dari zina dan menikah sah)  maka anak zina tersebut statusnya adalah rabibah (anak perempuan istri dari suami sebelumnya, yang menjadi asuhannya dan anak perempuan yang dibawa oleh istrinya adalah mahram baginya)

Sebagimana dalam ayat,

وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

“ (diharamkan bagimu) anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu/pengasuhanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.” (An-Nisa’ :23)

4. Bapaknya tidak bisa menjadi wali, menikahkan anak zinanya itu dalam pernikahan.

Yang menikahkan adalah qhadi (hakim pemerintah, dalah hal ini adalah KUA), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَالسُّلْطَانُ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَهُ

“Penguasa adalah wali nikah bagi perempuan yang tidak memiliki wali nikah”[6]

Jangan sampai bapaknya menikahkan anak zinanya (perempuan), maka status pernikahan tidak sah, maka anak yang lahir dari pernikahan tersebut juga statusnya anak zina secara syariat.

Hasil tes DNA untuk menetapkan nasab biologis tidak untuk nasab syar’i

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya mengenai anak hasil zina kemudian bapaknya ditentukan dengan pemeriksaan DNA, beliau menjawab:

والحاصل أن الولد لأبيه وإن أظهرت التحاليل أنه ليس منه.

“kesimpulannya, anak tersebut dinasabkan (nasab syar’i) kepada bapaknya (pemilik kasur), walaupun hasil tes pemeriksaan (DNA) menunjukkan bahwa anak tersebut bukan anaknya.”[7]

Kesimpulannya:

-Jika sepasang pemuda-pemudi berzina

Kemudian lahir anak zina, maka anak tersebut dinasabkan (secara syar’i) kepada Ibunya tidak kepada bapaknya. Dan tidak berlaku hukum-hukum yang berkaitan dengan hukum bapak-anak sebagaimana telah dijelaskan.

-Jika suami tidak mengakui anak yang dikandung istrinya

Misalnya suami menuduh istrinya berzina. Maka hukum asalnya anak dalam kandungan istrinya itu adalah anaknya secara syariat, meskipun suaminya tidak mengakui anak tersebut anaknya, akan tetapi secara syariat anak dalam kandungan istrinya adalah anaknya secara syar’i (nasab syar’i), meskipun ia bukan bapak biologis dari anak tersebut. Meskipun dengan pemeriksaan tes DNA anak tersebut bukan anaknya.

Jika ia (suami) ingin tidak mengakui anak tersebut secara syar’i dan biologis, maka ia menuduh istrinya berzina dan wajib mendatangkan bukti, jika tidak ada bukti maka sang suami akan dijatuhi hukuman hadd cambuk. Jika ingin tidak dicambuk, maka ia akan melakukan li’an (saling melaknat).

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِن كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atas-nya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” [An-Nuur: 6-9]

Alhamdulillah, Semoga bermanfaat.

wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam

@pogung Lor-Jogja, 18 Rabi’ul Awwal 1434 H

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com


[1] HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth

[2]  Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah dan ‘Aisyah

[3] Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi, 10:37, Darul Ihya’ AT-Turast, Beirut, cet.II, 1392 H, syamilah

[4] Al-Mughni  6/420, Darul Fikr, Beirut, cet. I, 1405 H, syamilah

[5] Syarhul Mumti’ 12/17, Dar Ibnul Jauzi, cet. I, 1422 H, syamilah

[6] HR Abu Daud no 2083 dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

[7] Al-Irsyad lii Thabibil Muslim pertanyaan no.19, syamilah

Reposting dari http://muslimafiyah.com/hasil-tes-dna-tidak-diterima-dalam-hukum-islam-nasab-syari.html

MSG Berbahaya? Masa’ Sih..


MSG

Ketika kerja di puskesmas dulu, ada penyuluhan resmi dari DEPKES yang menyatakan bahwa anggapan MSG berbahaya salah total sehingga orang harus antipati MSG
menurut penyuluhan itu MSG tidak berbahaya dengan alasan (yang masih saya ingat)
1. Selain cita rasa manis, asin dll ada lagi cita rasa “umami” yaitu cita rasa gurih di lidah kita, inilah rasa dari MSG dan ini normal, bukan seperti anggapan rasa vetsin/MSG yang indentik dengan bahaya
2. Beberapa makanan juga ada kandungan monosodium glutamatnya
3. Bnggapan bahwa makanan ringan yang ada MSG berbahaya, itu bukan karena MSGnya tetapi karena pengolahannya (fastfood) dan anak-anak kalau sering makan jajanan jadi tidak mau makan nasi dan sayur bergizi
4. Bampai sekrang belum ada jurnal ilmiah yang mengatakan MSG bisa menyebabkan kanker dan berbahaya, hanya asumsi-asumsi saja

Nah, saya mengambl pendapat pertengahan , tetap tidak berlebihan MSG dan tidak antitotal dengan penggunaan MSG (karena memang kenyataann yang tidak dipungkiri MSG bikin enak masakan hehe)

note:
Istri saya termasuk yang “agak” antitotal MSG, katanya cukup garam, gula dan bawang udah enak kok

dan perbedaan pendapat saya dan istri tidak mengurangi keharmonisan sama sekali, karena ajaran Islam adalah menghormati perbedaan pendapat para ulama mut’tabar/teranggap ilmunya
tapi masakan istri pasti tetap enak (ada bumbu tambahan curahan kasih sayang dan penantianketika memasaknya (lha kok sampe sini pembahasannya ^^)

silahkan yang punya ilmu, kita berbagi mengenai hal ini

Demikian semoga bermanfaat

@Perpus FK UGM,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB ,  follow twitter , Follow Akun Faceebook

Add Pin BB www.muslimafiyah.com ketiga 7F39E247

Reposting dari http://muslimafiyah.com/msg-berbahaya-masa-sih.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.