Melahirkan dengan Lotus Birth (syariat dan Medis)


lotus-birthLotus birth adalah proses melahirkan dengan membiarkan plasenta tetap terhubung dengan tali pusat (tidak dipotong) selama beberap hari. Tali plasenta tidak dipotong langsung beberapa saat setelah melahirkan, tetapi dibiarkan mengering dan lepas sendiri. Konsekuensinya, plasenta dengan wadahnya harus di bawa terus menyertai bayi (ketika digendong, tidur dan dimandikan) dan diberi wewangian agar tidak bau.

Beritanya ini adalah tradisi di negara Tibet dan suku Aborigin Australia. Diberitakan pula bahwa lotus birth adalah cara kelahiran dewa wisnu untuk mempertahankan status kesuciannya sebagai anak dewa (mohon maaf jika berita ini salah). Dunia medis modern memperkenalkan metode ini di Amerika kemudian Australia

Berikut klaim kelebihan dari metode lotus birth:

1.Lebih alami

2.Bayi mendapatkan tambahan darah lebih

3.Ada keyakinan yang mengatakan bahwa plasenta masih bagian dari bayi sehingga tidak boleh diputus secara paksa

Berikut kekurangannya:

1.Lebih repot, karena harus membawa plasenta dengan wadahnya ke mana-mana bersama bayi, saat makan, tidur, mandi dan digendong

2.Mungkin agak terganggu dengan bau plasenta yang mengering

3. Jika tidak hati-hati, bisa menjadi sumber infeksi

Bagaimana secara medis?

Sebenarnya ini adalah urusan dunia, sehingga mengenai ini perlu kita serahkan kepada ahlinya sebagaimana hadits,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” (HR. Bukhari)

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu” (An Nahl: 43)

Setelah membaca-baca beberapa pendapat secara medis, kami lebih memilih sebaiknya TIDAK melakukan lotus birth. Dengan alasan:

1.Untuk mencegah kurangnya darah yang mengalir dari plasenta, bisa dilakukan dengan cara menunda pemotongan plasenta beberapa saat sehingga darah dari plasenta mengalir ke bayi

2.Plasenta yang sudah mulai mengering sudah tidak bisa lagi mengalirkan darah ke bayi

3.Tidak praktis untuk kehidupan modern sekarang karena harus membawa plasenta beserta wadahnya

4.Jika anda mempunya bayi atau anak kecil maka tidak boleh dekat-dekat dengan adik bayi karena plasenta yang sudah mengering dan terkadang bau, bisa menjadi sumber infeksi terutama bagi anak-anak

5. Bisa putus tiba-tiba jika tidak sengaja atau lalai

Hukum secara syariat

Sebenarnya boleh-boleh saja melakukan lotus birth, karena ini adalah masalah dunia hukum asalnya halal dan boleh sebagaimana kaidah fikh,

الأصل في الأشياء الإباحة

“hukum asal urusan dunia adalah mubah/boleh”

Akan tetapi lotus birth TIDAK BOLEH:

1. JIka terbukti bisa membahayakan, misalnya karena sebagai sumber infeksi

Jika ini memang benar maka terlarang dalam agama. Sebagaimana hadits,

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan/ merugikan diri sendiri ataupun orang lain“ (HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani)

2. Jika terbukti benar bahwa ini asalnya adalah ada keyakinan bahwa ini cara dilahirkannya dewa wisnu dan ada keyakinan mengenai hal ini.

Jika memang benar, maka ini dilarang dalam agama karena tasyabbuh menyerupai orang non-muslim. Sebagaimana hadits,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”  (HR. Abu Daud, Hasan)

Tapi kita tidak berniat menyerupai mereka? Mohon maaf, ulama menjelaskan bahwa tasyabbuh tidak mesti harus dengan niat, karena inti dari tasyabbuh adalah adanya persamaan yang cepat atau lambat bisa mempengaruhi seseorang dan akan ada ikatan hati. Inilah yang berusaha ditutup celahnya oleh syariat.

Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata,

الحذر من مشابهة المشركين في أعيادهم ولو لم يقصده

“Peringatan dari tasyabbuh/meniru orang musyrik dalam hari raya (dan kepercayaan mereka) walaupun tidak berniat meniru mereka.” (Kitabut Tauhid syaikh At-Tamimi)

Kesimpulan:

Sebaiknya TIDAK mengunakan metode lotus birth ketika melahirkan. Jika memang ingin melakukan, maka konsekuensi kembali kepada individu masing-masing.

NOTE:

Mohon maaf, yang kami maksud dalam tulisan adalah lotus birth murni yaitu dibiarkan lepas alami

Bukan “semi” lotus birth yaitu dipotong setelah 1 x 24 jam setelah kelahiran

Demikian semoga bermanfaat

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

Reposting dari http://muslimafiyah.com/melahirkan-dengan-lotus-birth-syariat-dan-medis.html

Negara Mana Yang Pergantian Pemimpinnya Super Cepat Dan Super Murah??


Pergantian Pemimpin Negara Super Cepat Dan Super Murah Di Negara Kaya

saudi arabiaTahukah kita bahwa pergantian Raja di Arab Saudi hanya sekitar 5 menit saja.

Yakni seorang yang telah ditunjuk membaca surat keputusan bahwa raja setelahnya adalah Raja Salman hafizhahullah.

Kemudian diiringi Baiat atau sumpah yang tidak lebih satu menit kemudian salam-salaman.

Bahkan setiap PNS di sini mendapat uang bonus gaji dua bulan, kami selaku mahasiswa kecipratan bonus dua bulan hingga hampir 8 juta rupiah.

Jangan kita bayangkan di negeri kita.
Walau sebenarnya tanahnya hijau dan berair..
Namun manusianya tandus dan kering.

Ya Allah..
Dana pemilu 2009 sebanyak 8,5 Triliun.
Dana pemilu 2014 sebanyak 16 Triliun.
Lalu apa hasilnya.?

Rakyat saling membenci..
Pemerintah selalu dimaki..
Sudah berbulan-bulan kita selalu menyalahkan pemerintah.
Karena harga naik..korupsi…Pungli…beras..BBM…

Berbulan-bulan pula media saling tusuk menusuk…

Mengadu domba rakyat dengan membabi buta.

Padahal kita negara kaya..
Negara kita indah..
Negara kita ramah..
Tapi kenapa kita saling memakan sesama..

Syaikh syaikh kami di Madinah selalu memuji muji Indonesia.
Tanahnya itu memang hidup..
Alamnya segar..penduduknya ramah..
Bahkan…kalau anda lempar batu di Indonesia
Batu pun akan HIDUP..sampai berwarna hijau karena lumut.

Kenapa kita dalam masalah..
Itu semua karena sikap kita yang jauh dari agama…

Lihat di zaman Rasulullah. .
Kering kerontang…tumbuhan sulit hidup..
Manusianya kasar dan keras karena kondisi alam..

Tapi dengan agama yang beliau bawa..
Seorang Umar pun bisa menangis..
Imperial persia dan romawi dikalahkan oleh bangsa gurun yang hanya kenal Onta dan pasir saja.
Padahal persia dan romawi hidup dalam kemewahan namun jauh dari agama.
Rakyat saling menzalimi…
Sang kaya dibebaskan dari hukum..
Yang miskin tidak salah justru dihukum..
Pendetanya menghalakan apa yang dihalalkan raja.
Pedagangnya menipu yang lain..
Dan rentenir dipelihara.
Akhirnya mereka jatuh ditangan orang muslim yang ketika itu miskin harta namun kaya agama.

Sehingga dunia akan datang meringkuk di kaki mereka..

Kata ibnu Qayyim :” Dunia itu mirip bayangan badan..jika kau kejar..ia pasti menjauh..namun jika kau menjauh maka ia tidak ada pilihan lain selain mengikutimu.”
—-

Admin Suara Madinah

reposting : https://www.facebook.com/raehanul.bahraen/posts/10202815083897787

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/05/21/negara-mana-yang-pergantian-pemimpinnya-super-cepat-dan-super-murah/

Wahai Wanita, Auratmu Untuk Siapa? Jangan Kau Obral Sedemikian Murahnya


Kau Akan Semakin Terjaga…

gambar wanitaBismillaahirrahmaanirrahiim..

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklahmereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka,yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karenamereka itu tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…” (QS. Al Ahzab : 59).

Begitulah firman Allah yang diturunkan kepada kekasihNya, Baginda Nabi Shalallahu ‘Allaihi Wassalam. Ayat yang merupakan petunjuk menuju keselamatan dan penghormatan yang agung bagi kaum wanita. Surat tersebut merupakan ayatul hijab dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan perintah kepada kaum wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya dengan jilbab/hijab. Banyak untaian dan lembaran tentang sirah mengenai kewajiban bagi setiap muslimah untuk menjaga dirinya dan menutup auratnya dengan hijab syar’i.

Dan dengarlah salah satunya kisah para shahabiyah ketika mereka mendengar perintah untuk berhijab, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan “ketika kami mendengar perintah tersebut, mereka (para wanita) berlari-lari mencari kain untuk menutupi wajah dan kepalanya, dan mereka menggunakan kain yang berwarna hitam ketika mereka keluar rumah..”

Maka sungguh..para wanita yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala ketika mereka mendengar perintah dari RabbNya,maka mereka akan segera bergegas dan berlomba untuk melakukannya.

Adapun maksud dari diperintahkannya seorang wanita muslimah untuk berhijab sebagaimana firman Allah pada surat tersebut adalahagar wanita muslimah lebih mudah dikenal dan dibedakan(dengan wanita kafir dan wanita yang fasik)juga sebagai pelindung agar mereka tidak lagi diganggu sehingga lebih merasa aman dan tetap terjaga. Merasa aman terutama dari gangguan laki-laki yang didalam hatinya terdapat penyakit syahwat.

Dan tahukah??ketika seorang wanita keluar dari rumahnya, setan telah bersiap mengikutinya. Mengikuti dari segala arah yang dia mau. setan akan menghiasi wanita sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik (bagi lawan jenis tentunya). Simaklah perkataan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadist,

Wanita adalah aurat, jika ia keluarsetan akan mengikutinya..”

(HR. At Tirmidzi)

Karena hanya di wanita sajalah Allah mengaruniai segala keindahan yang ada dalam dirinya dan itu akan menjadi daya magnetik tersendiri. Maka, bila seorang laki-laki yang mempunyai penyakit hati didalamnya pasti akan tertarik gaya tersebut, dan sudah dipastikan.. setan akan tersenyum karena kini dia telah memiliki sasaran.

Tidak jarang kita melihat pemandangan di sekitar kita, seorang wanita dengan pakaiannya yang serba terbuka penuh syarat dengan keindahan dan tidak ketinggalan mode tentunya (menurut pendapat mereka) akan sering sekali mendapat“sapaan tak diundang”seperti siulan, panggilan dengan nada nakal, colekan,bahkan ada yang tak segan-segan menghampiri dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan…na’udzubillah..

Mungkin ada sebagian dari kita yang masih mengingat atau mungkin pernah mendengar sebuah kejadian beberapa pekan yang lalu yang terekspos di media massa, dimana salahseorang wanita yang perprofesi sebagai publik figur mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dan sungguh memalukan(bukan bermaksud meng-ghibah, hanya memberikan fakta yang ada dan terjadi sekarang ini -red)..seorang pria dengan bebasnya menyolek salah satu bagian tubuhnya yang memang saat itu “sangat terbuka” dan seketika itu dia marah dengan keadaan emosinya serta-merta langsung membuncah,meluap-luap dan tanpa disadari air matanya pun mengalir begitu saja…..

Masya Allah, inikah pelecehan terhadap kaum hawa??

Inikah bentuk penghormatan kepada mereka yang mengusung jargon “kebebasan berekspresi” termasuk dalam hal berbusana??

Apakah air mata itu bentuk penyesalan??

Apakah ini merupakan bukti bahwa wanita itu lemah???

WAllahu Ta’alla A’lam..Engkaulah Rabb yang Maha Mengetahui.

Terkait berita tersebut, ada salah seorang teman mengatakan kepada saya (penulis –red), salah seorang keponakannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut menanggapi berita tersebut, dengan keluguan dan informasi yang dia dapatkan dari sebuah tayangan infotainment.

Ia berkata “mbak…jahat ya laki-lakinya..masa c, kaya gitu? Usil !! Main colak-celek sama si X…kan kasian si X….”

Sambil tersenyum teman saya pun menanggapinya “adik…coba sekarang mbak tanya, kalau adik punya makanan favorit ayam goreng. Suatu hari, mbak punya ayam goreng..saat adik melihatnya, adik jadi ingin. Tapi saat itu mbak cuma punya 1 potong ayam , padahal saat itu adik ingiiiinnn sekali makan, eh tapi mbak makan dengan enaknya didepan adik.

Tanpa tau klo adik itu juga ingin makan, mbak makan dengan pelan, menikmati setiap gigitannya…adik jadi tambah peeengen deh. Trus klo gitu adik ngapain??.”

Maka si anak kecil itupun menjawab dengan polosnya..”minta ayamnya ke mbak, bilang klo aku pegen…” lalu saya menjawab “klo gak boleh juga? Tapi mbak tetep makan didepan adik??” dia menjawab dengan spontan“ayamnya tak rebut…..trus tak makan!! Wong pengen…salah siapa pamer???”begitu jawaban si adik dengan antusiasnya.

Dengan bijak teman ana melanjutkan “ya begitulah dik…kira-kira seperti itu kejadian yang menimpa si X..mbak ibaratkan seperti ayam tadi.. wong udah tau kalo cewe pakai pakaian yang ‘seksi’ bisa mengundang niat jahat terutama laki-laki yang iseng..tapi eh, tetep aja cewenya gak peduli.

Ya kira-kira begitulah risikonya…pakai baju seksi ya siap untuk dijaili laki-laki coba kalau pake bajunya sopan..tertutup lagi..kalo gitu apa yang mo dijaili coba ?” dengan mengangguk-anggukan kepala, si adik berkata “oooo…” (saya pun tak memahami maksud si anak tersebut faham atau tidak…tapi bukankah anak sekarang lebih kritis??)

Ya..itulah permisalan yang sederhana. Pemahaman simpel yang berusaha diberikan kepada seorang anak, bagaimana seharusnya seorang wanita itu berbusana.

Memang sudah kodratnya seorang laki-laki cinta dan senang dengan keindahan yang ada pada wanita. Dan perhatikanlah firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran 14,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang

diingini yaitu, wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak…….”

Maka sungguh..wanita adalah sumber keindahan…Allah menempatkan wanita di atas keindahan lainnya seperti harta…SubhanAllah..

Belajar dari pengalaman tersebut dari pengalaman lainya yang terjadi pada saat ini, dimana banyak orang meneriakan‘emansipasi wanita’

Ternyata wanita tidak seutuhnya benar-benar merasakan ‘kemerdekaan’. Buktinya saja, mengapa mereka masih sering diganggu oleh kaum Adam?

Mengapa mereka masih mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan? Mengapa mereka sering dilecehkan???

Mungkin akan lebih bijaksana bila kita melihat dua sisi, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada kaum Hawa..mungkin kaum Adam juga harus dan wajib berinstrospeksi!! Bagaimana dia seharusnya bersikap dan bergaul dengan kaum wanita…

Tidak ada salahnya, kita kaum wanita yang diberi banyak keindahan oleh Allah lebih dapat menjaga diri kita sendiri. Menjaganya dari pandangan mata yang nakal, menjaga dari tangan-tangan iseng yang siap menjamah kita kapanpun! Maka.. cukuplah perintah Allah yang khusus diturunkan kepada kita kaum wanita. .dan sungguh, segala firmanNya adalah jalan keselamatan bagi hamba-hambaNya…

Jagalah diri kita manakala kita keluar rumah untuk suatu keperluan..jagalah kehormatan kita manakala kita meninggalkan ‘tempat ter-aman bagi kita’ yakni rumah..jagalah diri kita dari berbagai fitnah dunia yang dapat kapan saja melanda kita..maka dengarlah nasehat yang diberikan oleh Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyah seorang putri dari seorang ulama besar masa kini Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimmahullah di dalam bukunya Nashihati Lin Nisa’ Qadhayatahum Al-Mar’ah Fatawa lin Nisa’ mengenai adab-adab keluarnya wanita dari dalam rumahnya yakni,

1. Berhijab

Sebagaimana yang diperintahkan dalam ayatul hijab diatas.Pakaian yang dikenakan oleh seorang wanita hendaknya menutup aurat secara keseluruhan, longgar (tidak ketat) sehingga tidak terlihat lekuk tubuhnya.Adapun pakaian yang dikenakan hendaknya warnyanya tidak mencolok sehingga menarik pandangan orang (bisa terlihat tambah cantik, tambah manis, juga ‘tambah-tambah’ yang lain dikarenakan apa yang dikenakan itu menghiasi dan mempercantik dirinya (terkecuali di hadapan suami dan mahramnya).

2. Tidak memakai wewangian (parfum)

Tidaklah boleh bagi seorang wanita keluar rumah dengan memakai wewangian, apalagi di hadapan lelaki yang bukan mahram. Dan dengarlah sabda Beliau Shalallahu ‘Allaihi Wassalam tentang perkara ini..”Jika seorang wanita memakai wewangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka mencium baunya, maka ia begini dan begitu…” Beliau mengucapkanya dengan perkataan yang sangat keras (hadist Abu Dawud). Berbeda halnya dengan kaum lelaki dimana wewangian itu merupakan sunnah yang mendatangkan pahala “sebaik-baik wangi-wangian dari seorang laki-laki adalah yang tercium wanginya…”

3. Pelan-pelan dalam berjalan (merendahkan jalannya).

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS An Nuur ayat 31 “..dan janganlah kalian membunyikan kaki kalian, agar diketahui perhiasan yang ada di dalamnya..”

Hendaknya seorang wanita bila berjalan itu pelan, tidak menimbulkan bunyi (termasuk bunyi dari sandal/sepatu yang dikenakan) karena hal tersebut secara tidak langsung akan menarik perhatian orang-orang disekitarnya, termasuk kaum lelaki.

4. Jika ia berjalan bersama saudarinya dan di sana ada para pria, maka hendaknya ia jangan bercakap-cakap dengan saudarinya tadi.Bukan berarti dalam hal ini suara wanita itu adalah aurat, tapi jika pria mendengar suara wanita kadang akan menimbulkan fitnah.

5. Hendaknya seorang wanita meminta izin kepada suaminya(yang sudah menikah) ketika keluar rumah.

6. Apabila bepergian jauh (safar) harus dengan MAHRAMnya

7. Jangan berdesak-desakan dengan pria.

8. Hendaknya ia menghiasi dirinya dengan rasa malu (Al hayaa’)

9. Hendaknya dia menundukkan pandanganya.

10. Janganlah menanggalkan pakaian di tempat selain dirumahnya sendiri,jika ia bermaksud untuk tampil cantik dengan perbuatan itu. Karena Rasulullah telah bersabda : “Wanita mana saja yang menanggalkan pakaiannya selain dirumah suaminya, maka sungguh ia telah membuka penutupnya antara dia dengan Rabbnya..”

Demikian adab-adab yang perlu diperhatikan seorang wanita makakala dia pergi / keluar dari rumahnya. Dengan memperhatikan adab-adab tersebut, insya Allah.. kita (wanita muslimah) akan semakin terjaga, akan lebih merasa aman dan nyaman. Karena sesungguhnya semua adab-adab tersebut merupakan kebaikan dan akan mendatangkan kemaslahatan bagi kita kaum wanita khususnya..

Wallahu Ta’alla A’lam bi Shawab…..

-19 safar 1429 H-

Dalam kepenatan mengerjakan tugas akhir…

Kuatkan hamba ya Rabb…..

sumber :https://kholilahpunya.wordpress.com/2009/05/27/kau-akan-semakin-terjaga/

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/06/29/wahai-wanita-auratmu-untuk-siapa-jangan-kau-obral-sedemikian-murahnya/

Wahai Wanita Yang Mengumbar Aurat,. Tidakkah Anda Malu Kepada Kisah Wanita Hitam Ini?


Wanita Hitam Pemetik Surga

Oleh Ustadz Abu Adib

Alhamdulillahi Robbil’alamin…

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kemudahan kepada kami untuk menulis risalah yang singkat ini. Para pembaca yang mulia, judul risalah diatas mengingatkan pada kita semua tentang kisah wanita hitam dimasa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan oleh ‘atha’ bin Abi Rabah, dia berkata: “Telah berkata kepadaku Abdullah bin Abbas:“maukah engkau aku perlihat seorang wanita penghuni surga?”

maka aku berkata : “tentu!”.

Kemudian ‘Abdullah berkata: “Wanita hitam dia pernah mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu ia berkata: “ aku kena penyakit ‘usro’u (ayan/epilepsy), jikalau penyakitku kambuh auratku tersingkap. Maka do’akanlah kepada Allah agar sembuh penyakitku”.

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “jikalau aku do’akan kepada Allah, pasti kamu akan sembuh. Akan tetapi jikalau kamu sabar maka bagimu surga”.

Maka wanita hitam itu berkata: “Ashbiru (aku akan sabar), akan tetapi do’akan kepada Allah agar tiap kali kambuh penyakitku, auratku tidak tersingkap”. Maka Nabi pun mendo’akannya sehingga tiap kali kambuh, Allah Ta’ala menjaga auratnya.

Dari kisah Hadits diatas kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga, dimana seorang wanita berkulit hitam yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat, ditambah lagi wanita itu terkena wabah penyakit ayan, suatu penyakit yang sangat menjijikkan, akan tetapi Allah Ta’ala memuliakan wanita itu dengan surga disebabkan karena ketaqwaan dan kesabaran.

Rasa malu dan ketaqwaannya telah mengantarkan dirinya untuk sabar dalam menderita penyakit serta musibah yang dideritannya.

Sifat taqwa dan rasa malu itu nampak ketika wanita itu berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dimana saat penyakitnya kambuh menyebabkan dia kehilangan kesadaran sehingga auratnya tersingkap.

Wanita hitam itu malu auratnya kelihatan ketika dia dalam keadaan tidak sadar. Allahu Akbar….

Dalam keadaan tidak sadarpun wanita itu malu auratnya kelihatan apalagi dalam keadaan sadar?

Coba kita bandingkan dengan wanita abad ini!.

Dalam keadaan sadarpun mereka berani bahkan sengaja menampakkan auratnya. Mereka berpakaian tapi nampak betisnya, nampak pahanya, nampak dadanya, dan ditambah lagi mereka itu bangga dengan kelakuannya seolah-olah mereka berkata

“ lihatlah betisku! Lihatlah pahaku! Lihatlah dadaku! Lihatlah wajahku!.

Dan ketika dia berjalan, kemudian ada laki-laki yang pandangannya tertuju padanya, maka dalam hatinya wanita itupun senang dan bangga atas apa yang telah diperbuatnya. Na’udzu billah.

Dirinya tidak sadar kalau kelakuannya telah membuat kerusakan dan fitnah di muka bumi. Demikianlah pembaca yang mulia hilangnya ketaqwaan dan rasa malu telah mengantarkan wanita-wanita sekarang kepada perbuatan yang hina dan keji. Sungguh telah benar apa yang disampaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Apabila kamu tidak malu maka berbuatlah semaumu”(HR/ Bukhari. No 3483)

Wanita-wanita sekarang sadar, bahkan sangat sadar atas apa yang telah mereka perbuat. Mereka bukanlah wanita-wanita yang gila atau wanita-wanita yang mengalami gangguan kejiwaan, bahkan mereka wanita-wanita yang waras akalnya sehingga sangat sadar dengan apa yang telah dilakukannya, akan tetapi hatinyalah yang tidak pernah menyadari. Perbuatan yang telah mereka lakukan itu bisa mendatangkan fitnah dan kerusakan di muka bumi.

Dan tindakan lain yang tidak kalah mengerikan bahayanya adalah maraknya aksi-aksi pornografi, kontes kecantikan, umbar aurat bisa kita jumpai dimana-mana bahkan secara resmi dipertontonkan melalui siaran-siaran diberbagai media massa yang ada sehingga bisa menjadi hiburan harian bagi orang yang lemah imannya. Masya Allah..kalau kelakuan wanita-wanita bumi pertiwi seperti ini bagaimana negeri ini selamat akan perzinaan.

Faedah yang bisa dipetik dari hadits diatas adalah:

  1. Kesabaran atas musibah yang menimpa di dunia akan mewariskan surga
  2. Pengobatan berbagai macam penyakit bisa ditempuh dengan do’a dan berlindung dengan penuh kejujuran / sungguh-sungguh kepada Allah dengan disertai pemberian obat
  3. Berusaha dengan penuh kemauan adalah lebih baik daripada bersandar pada pemberian keringanan bagi orang yang melihat adanya kemampuan pada dirinya untuk mengembannya, dalam hal itu dia akan memperoleh tambahan pahala.
  4. Di perbolehkan untuk tidak berobat
  5. Tinnginya rasa malu para shahabat wanita, dimana wanita itu malu kalau auratnya tesingkap walaupun dalam keadaan tidak sadar.

Risalah ini kami tutup dengan nasehat untuk para muslimah:

Wahai saudariku muslimah….

Janganlah kalian menjadi penyabab datangnya kerusakan dan fitnah di muka bumi, yakni dengan kalian mengumbar aurat.

Wahai saudaraku muslimah….

Janganlah kalian halalkan aurat kalian untuk dilihat laki-laki yang tidak dihalalkan untuk kalian.

Wahai saudaraku muslimah….

Hiasilah diri kalian dengan akhlaqul karimah (akhlaq mulia), jangan kalian lakukan perbuatan yang mana perbuatan tersebut bisa menjatuhkan diri kalian kepada kehinaan seperti berkhalwat yaitu berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, berboncengan satu motor atau satu mobil dengan laki-laki yang bukan mahram. Itu semua bisa menjatuhkan harga diri dan kehormatanmu.

Wahai saudaraku muslimah…

Sibukkanlah diri kalian dengan menuntut ilmu agama karena ilmu agama adalah pelita yang akan menerangi jalan hidupmu.

Wahai saudaraku muslimah…

Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, serta ingatlah apa yang telah disabdakan oleh Nabimu shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah dari kaum wanita. Maka janganlah kalian menjerumuskan diri kalian kedalam neraka. Semoga Risalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Maraji’: Kitab Riyadhush Shalihin

(Buletin Istiqomah Edisi no 34, Masjid Jajar, Solo Rubrik: Muslimah)

Reposting https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/06/30/wahai-wanita-yang-mengumbar-aurat-tidakkah-anda-malu-kepada-kisah-wanita-hitam-ini/

Bagi ibu yang hamil atau menyusui, maka cukup membayar fidyah saja, tidak perlu mengqadha puasa, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud yang merupakan Murid Langsung Rasulullah,.


Wanita Hamil dan Menyusui Qadha Puasa atau Bayar Fidyah?

ukuran-fidyahMerespon beberapa pertanyaan yang masuk ke inbox saya di facebook, maka saya berusaha menjawab singkat masalah ini dengan memaparkan pendapat para ulama dan mana yang saya pilih dengan alasan tarjih tentunya.

Wanita hamil belum tentu menyusui, misalnya setelah dia hamil anaknya meninggal dunia. Maka hanya berlaku masalah kehamilan pada dirinya. Menyusui tak berarti baru saja melahirkan, karena ada saja wanita yang air susunya banyak dan bayinya sudah besar, tapi dia menyusui bayi orang lain. Yang seperti ini juga masuk dalam cakupan bahasan di atas.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, secara garis besar ada empat pandangan:

1. Keduanya harus mengganti puasa dan tidak perlu membayar fidyah. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. (Lihat: Al-Hidayah syarh Al-Bidayah, juz 1 hal. 128, Bidayatul Mujtahid, juz 1 hal. 506).

2. Keduanya harus membayar fidyah dan tak perlu mengganti puasa. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, Ibnu Umar radhiyallahuanhu, Sa’id bin Jubair, Qatadah

3. Bila dia hanya khawatir akan dirinya saja maka dia harus mengqadha, tapi bila mengkhawatirkan pula keselamatan bayinya kalau berpuasa maka dia harus mengqadha plus membayar fidyah. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i dan Hanbali.

4. Wanita hamil hanya boleh mengqadha dan tidak membayar fidyah, sedangkan wanita menyusui yang khawatir akan anaknya harus mengqadha plus membayar fidyah. Ini adalah pendapat madzhab Maliki.

Dalil-dalil:

Dalil pendapat pertama:

Dalil pendapat pertama adalah meng-qiyas-kan wanita hamil dan atau menyusui dengan orang sakit. Orang sakit boleh tidak puasa dan harus meng-qadha (mengganti) di hari lain sebagaimana jelas dalam Al-Qur`an surah Al-Baqarah ayat 184 dan 185.

Dalil pendapat kedua:

Dalil pendapat kedua adalah fatwa dua orang sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, terutama bagi madzhab yang menganggap bahwa fatwa sahabat itu menjadi salah satu dasar hukum bila tidak ada nash yang sharih.

Riwayat Ibnu Abbas bisa ditemukan dalam Sunan Ad-Daraquthni, Tafsir Ath-Thabari dan lain-lain. Ibnu Abbas berkata, ”Bila seorang wanita hamil khawatir akan dirinya dan wanita menyusui khawatir akan bayinya di bulan Ramadhan, maka mereka boleh tidak puasa dan harus memberi makan orang miskin untuk tiap hari yang dia tinggalkan serta TIDAK PERLU MENGQADHA.” (Tafsir Ath-Thabari, juz 3 hal. 427, nomor riwayat: 2758. Al-Albani mengomentari riwayat ini dalam Irwa` Al-Ghalil, juz 4 hal. 19, “Sanadnya shahih berdasarkan syarat Muslim”.).

Riwayat lain dari Ibnu Abbas adalah ketika dia melihat Ummu Walad (budak yang sudah melahirkan anak darinya) yang sedang hamil, maka dia berkata, ”Kamu ini sama dengan orang yang sukar melaksanakan puasa, maka kamu boleh berbuka dan harus memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang kamu tinggalkan serta TIDAK ADA KEWAJIBAN MENGQADHA (PUASA) atas dirimu.” (Tafsir Ath-Thabari, no. 2759).

Adapun riwayat Ibnu Umar dapat diperoleh dari Mushannaf Abdurrazzaq (juz 4, hal. 218) yang berkata, ”Dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, wanita hamil yang khawatir akan dirinya di bulan Ramadhan boleh berbuka tapi harus membayar fidyah dan tidak perlu mengqadha.”

Dan banyak lagi riwayat dari kedua sahabat Nabi yang mulia ini dan shahih sebagaimana dijelaskan panjang lebar oleh Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil juz 4, hal. 19-20.

Dalil pendapat ketiga:

Madzhab Syafi’i dan Hanbali sebenarnya sama dengan madzhab Hanafi yang meng-qiyas-kan wanita hamil atau menyusui dengan orang sakit sehingga mereka wajib meng-qadha dan tidak berlaku pembayaran fidyah. Tapi mereka menambahkan bila keduanya khawatir akan keselamatan orang lain, dalam hal ini adalah janin atau bayi yang disusui yang kalau mereka puasa akan mengganggu kenyamanan si bayi, maka ada kewajiban lain yaitu harus membayar fidyah lantaran batal puasa gara-gara menyelamatkan orang lain.

Setelah membaca dari beberapa literatur madzhab ini terutama kitab Al-Mughni maka sebenarnya mereka menggabung qiyas antara wanita hamil dan menyusui dengan orang sakit sehingga wajib qadha dan meng-qiyas-kan pula keduanya dengan orang tua yang tak sanggup puasa sehingga wajib membayar fidyah. Dalam ushul fikih qiyas semacam ini biasanya dinamakan qiyas syabh.

Dalil pendapat keempat:

Pendapat yang membedakan antara wanita hamil dan menyusui beralasan bahwa wanita hamil di-qiyas-kan murni (qiyas taam) kepada orang sakit, sedangkan menyusui alasannya sama dengan alasan madzhab Syafi’i dan Hanbali.

Tarjih:

Berhubung tidak ada nash sharih (yang jelas) dalam masalah ini maka membuka peluang untuk berbeda pendapat. Secara analogi mungkin pendapat Hanafi lebih kuat, karena memang banyak kemiripan antara hamil dan menyusui dengan orang sakit dengan harapan sembuh dibanding dengan orang tua yang tak mampu puasa atau orang sakit yang tak ada harapan sembuh.

Sedangkan madzhab ketiga rasanya dalilnya agak dipaksakan dan membingungkan.

Tapi bagi yang menganggap bahwa mengikuti fatwa sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam lebih utama daripada qiyas – dan ini sebenarnya adalah pendapat madzhab Hanbali dalam ushul fikih tapi anehnya dalam masalah ini mereka tidak mengamalkannya – maka lebih baik mengikuti fatwa Ibnu Abbas dan Ibnu Umar di atas. Sebab, meski tidak ma’shum tapi mereka belajar langsung kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan lebih mengerti sunnah dibanding para imam madzhab itu.

Inilah yang membuat saya –sampai saat ini- cenderung pada pendapat kedua di atas yaitu mengikuti fatwa Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa wanita hamil dan menyusui hanya wajib membayar fidyah dan tidak perlu meng-qadha. Lagi pula ini jelas lebih ringan bagi yang bersangkutan. Wallahu a’lam.

Bagaimana cara membayar fidyah?

Dalam beberapa riwayat dari Ibnu Umar disebutkan bahwa fidyah puasa Ramadhan dibayarkan dengan satu mudd (segenggam penuh tangan orang dewasa) burr (gandum terbaik).

Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abbas adalah setengah sha’ = dua mudd gandum. Berhubung tak ada nash juga dalam masalah ini maka baiknya disamakan saja dengan zakat fitrah baik barang maupun uangnya. Sebaiknya dibayarkan kepada orang miskin atau orang tak mampu. Boleh kepada satu orang untuk semua hari atau beberapa orang.

Dalam sebuah riwayat dari Ayyub bahwa Anas bin Malik rahimahullah ketika sudah tua dan tak mampu puasa beliau membayar dengan cara mengundang 30 orang miskin untuk satu kali makan di rumahnya, dan itu adalah pembayaran untuk 30 hari tidak puasa. (Lihat riwayatnya dalam Sunan Ad-Daraquthni, no. 2415).

Silahkan pilih mana yang menurut anda lebih gampang. Semoga bermanfaat.

وصلى الله على محمد وعلى آله وسلم

Referensi:

1. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd (Al-Hafid), Dar Al-Jail Beirut, cet I 1989 M.

2. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili, program maktabah syamilah.

3. Fiqh As-Sunnah, As-Sayyid Sabiq, penerbit: Al-Fath lil I’lam Al-’Arabi, cet II, 1999 M.

4. Al-Hidayah syarh Bidayatul Mubtadi, Ali bin Abu Bakr Al-Marghinani, Dar Al-Fikr Beirut tanpa tahun.

5. Irwa` Al-Ghalil, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Al-Maktab Al-Islami, cet. 1985.

6. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Kementerian Urusan Waqaf Kuait, program maktabah syamilah.

7. Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, program Maktabah Syamilah edisi II.

8. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq Ash-Shan’ani, tahqiq: Habiburrahman Al-A’zhami, Program maktabah syamilah edisi II.

9. Sunan Ad-Daraquthni, program maktabah syamilah edisi II.

10. Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ibnu Al-Jauzi, cet I 1422 H.

11. Tafsir Ath-Thabari, tahqiq Syekh Ahmad Muhammad Syakir, Muassasah Ar-Risalah, cet I 1420 H.

Bogor, Minggu tanggal 17 Mei 2009, jam 14.00 – 14.55.

Anshari Taslim

sumber : https://www.facebook.com/notes/anshari-taslim/wanita-hamil-dan-menyusui-qadha-puasa-atau-bayar-fidyah/99618956418?pnref=story

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/07/06/bagi-ibu-yang-hamil-atau-menyusui-maka-cukup-membayar-fidyah-saja-tidak-perlu-mengqadha-puasa-sebagaimana-pendapat-ibnu-abbas-dan-ibnu-masud-yang-merupakan-murid-langsung-rasulullah/

Memburu Lailatul Qadar Di Malam Tanggal Genap


Dalam kitab Al Muhalla, Ibnu Hazm Al Andalusi berkata:
ليلة القدر واحدة في العام في كل عام، في شهر رمضان خاصة، في العشر الاواخر خاصة، في ليلة واحدة بعينها لا تنتقل أبدا إلا انه لا يدرى أحد من الناس أي ليلة هي من العشر المذكور؟ إلا انها في وتر منه ولا بد،
Lailatul Qadar itu ada hanya sekali dalam setahun, dan hanya khusus terdapat di bulan Ramadhan-nya serta hanya ada di sepuluh malam terakhirnya, tepatnya hanya satu hari saja dan tidak akan pernah berpindah harinya. Namun, tidak ada satu orang manusia pun lailatul qadar jatuh di malam yang mana dari sepuluh malam tersebut. Yang diketahui hanyalah bahwa ia jatuh di malam ganjil.

فان كان الشهر تسعا وعشرين فأول العشر الاواخر بلا شك ليلة عشرين منه، فهى إما ليلة عشرين، وإما ليلة اثنين وعشرين، وإما ليلة أربع وعشرين، واما ليلة ست وعشرين، واما ليلة ثمان
وعشرين، لان هذه هي الاوتار من العشر الاواخر
Andaikata Ramadhan itu 29 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.

، وان كان الشهر ثلاثين فأول الشعر الاواخر بلا شك ليلة احدى وعشرين، فهى إما ليلة احدى وعشرين، واما ليلة ثلاث وعشرين، واما ليلة خمس وعشرين، واما ليلة سبع وعشرين، واما ليلة تسع وعشرين، لان هذه هي أوتار العشر بلاشك
Andaikata Ramadhan itu 30 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27, atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.
[Sampai di sini perkataan Ibnu Hazm]

Kita semua tahu bahwa penentuan 1 Syawal atau penentuan berapa hari bulan Ramadhan itu ditentukan di akhir Ramadhan dengan ru’yatul hilal. Dengan kata lain, di tengah bulan Ramadhan kita belum tahu apakah bulan Ramadhan itu 29 atau 30 hari. Jika demikian, maka probabilitas jatuhnya lailatul qadar adalah sama di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Dengan kata lain, di malam tanggal genap pun bisa jadi saat itu lailatul qadar, berdasarkan penjelasan Ibnu Hazm di atas. Oleh karena itu, kurang tepat kalau kita memburu lailatul qadar hanya pada malam tanggal ganjil saja.

Wallahu’alam.

Reposting dari https://kangaswad.wordpress.com/2010/09/02/memburu-lailatul-qadar-di-malam-tanggal-genap/

Berburu Lailatul Qadar


Malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karunia dari Rabbul ‘alamin kepada para hamba-Nya yang mencintai ketaatan kepada-Nya. Keutamaan dan keistimewaannya masyhur di tengah kita semua. Lalu, bagaimana memburunya?

Tips Dalam Berburu Lailatul Qadar

Komisi Tetap Penelitian dan Fatwa Saudi Arabia yang diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz memberikan beberapa tips untuk berburu lailatul qadar :

Pertama : Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan kesungguhnya yang lebih dari pada malam-malam sebelumnya dalam mengerjakan shalat, membaca Al Qur’an, dan berdo’a. Sebagaimana hadits diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh malam akhir bulan Ramadhan, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya dan mengencangkan kain sarungnya.

Juga dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan kesungguhan yang berbeda dari pada malam-malam sebelumnya.

Kedua : Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menghasung umatnya untuk mengerjakan shalat malam dengan dasar keimanan yang mengharapkan pahala yang besar. Sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat malam pada malam lailatul qadar karena iman dan mengarapkan pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Al Jama’ah kecuali Ibnu Majah)

Hadits ini merupakan dalil disyariatkannya menghidupkan malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan shalat malam.

Ketiga : Do’a yang paling afdhal untuk diperbanyak dibaca ketika malam lailatul qadar adalah do’a yang diajarkan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ’anha. Sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan At Tirmidzi yang juga beliau nilai shahih, dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika seandainya saya mengetahui bahwa suatu malam adalah malam lailatul qadar. Apa yang saya baca ketika itu?” Rasulullah bersabda, “Bacalah : ‘Allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf, dan Engkau menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku)’

Keempat : Mengkhususkan suatu malam dari malam-malam Ramadhan bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar itu membutuhkan dalil yang jelas. Namun secara umum, malam-malam ganjil terutama malam ke dua puluh tujuh lebih besar kemungkinannya sebagai malam lailatul qadar dibanding malam-malam yang lain. Karena terdapat hadits-hadits shahih yang menyatakan hal tersebut.

Kelima: Adapun perbuatan bid’ah, tidak diperbolehkan di bulan Ramadhan maupun di waktu lain. Karena terdapat hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa mengada-ada suatu perkara dalam urusan kami ini (urusan agama), yang tidak ada asalnya dari agama, maka itu tertolak

Hal ini terkait yang diadakan sebagian orang di bulan Ramadhan berupa perayaan-perayaan yang tidak kita ketahui tuntunannya (Fatawa Ramadhan, 10/414-415)

Apakah Perlu Bersungguh-Sungguh Di Siang Hari Juga?

Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits riwayat Muslim, “beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersungguh-sungguh pada al ‘asyrul al awakhir (sepuluh hari terakhir) bulan Ramadhan dengan kesungguhan yang berbeda dari pada malam-malam sebelumnya”.

Dalam hadits ini digunakan lafadz al ‘asyrul al awakhir yang artinya ‘sepuluh terakhir’. Ini menunjukkan kesungguhkan beliau tidak hanya pada malam hari saja, namun sehari-semalam beliau bersungguh-sungguh.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan mengerjakan shalat malam terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan malam-malam yang ganjil lebih ditekankan lagi, dan yang paling kuat kemungkinannya pada malam ke dua puluh tujuh. Dan disyariatkan untuk bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah pada siang dan malam hari di sepuluh hari terakhir Ramadhan” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/432).

Apakah Perlu Berburu Lailatul Qadar Di Malam-Malam Genap?

Imam Ibnu Hazm Al Andalusi memiliki pandangan yang memberikan kita alasan untuk berburu malam lailatul qadar di malam genap juga. Dalam kitab Al Muhalla beliau berkata, “Lailatul Qadar itu ada hanya sekali dalam setahun, dan hanya khusus terdapat di bulan Ramadhan-nya serta hanya ada di sepuluh malam terakhirnya, tepatnya hanya satu hari saja dan tidak akan pernah berpindah harinya. Namun, tidak ada satu orang manusia pun lailatul qadar jatuh di malam yang mana dari sepuluh malam tersebut. Yang diketahui hanyalah bahwa ia jatuh di malam ganjil.

Andaikata Ramadhan itu 29 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.

Andaikata Ramadhan itu 30 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27, atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir” (Al Muhalla, 4/457)

Amalan Untuk Meraih Lailatul Qadar

1. Shalat Malam

Sebagaimana hadits yang telah lewat, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat malam pada malam lailatul qadar karena iman dan mengarapkan pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni

2. Berdo’a

Sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiyallahu ’anha yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam meminta diajari amalan yang dilakukan ketika lailatul qadar, ternyata Rasulullah mengajarkan ‘Aisyah untuk berdo’a. Dari sini para ulama mengatakan bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang dianjurkan untuk memperbanyak do’a. Dan do’a yang paling afdhal adalah do’a yang Nabi ajarkan, sebagaimana telah disebutkan.

3. Membaca Al Qur’an

Ramadhan adalah bulan Al Qur’an. Dan setiap malam malaikat Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengajarkan dan mendengarkan hafalan Al Qur’an Nabi. Hal ini diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari)

Maka pada malam hari bulan Ramadhan terutama sepuluh hari terakhir dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an.

4. Istighfar

Hendaknya memperbanyak istighfar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiyallahu ’anha yang diajari Rasulullah sebuah do’a untuk diamalkan ketika malam lailatul qadar yang isinya adalah permohonan ampun kepada Allah. Waktu malam secara umum adalah waktu yang afdhal untuk beristighfar, Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya: “Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdo’a memohon ampunan” (QS. Adz Dzariyat: 18)

5. I’tikaf

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. Sebagaimana hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Aku dahulu beri’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan untuk mencari lailatul qadar , lalu aku beri’tikaf pada sepuluh hari. Kemudian diwahyukan kepadaku bahwa lailatul qadar ada di sepuluh hari terakhir. Maka barangsiapa yang mau beri’tikaf hendaknya ia beri’tikaf”. Maka para sahabat pun beri’tikaf bersama beliau

Inilah beberapa amalan utama untuk meraih lailatul qadar. Namun selain amalan-amalan ini, hendaknya juga melakukan amalan-amalan ketaatan lain yang termasuk dalam kategori ‘menghidupkan malam’, seperti memperbanyak dzikir dan bershalawat.

Apakah Orang Yang Tidak Bisa I’tikaf Berkesempatan Meraih Lailatul Qadar?

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah memberi teladan kepada kita bahwa cara untuk mendapatkan lailatul qadar adalah dengan i’tikaf. Ini menunjukkan bahwa orang yang beri’tikaf berkesempatan lebih besar untuk meraih lailatul qadar. Namun bagi orang yang berhalangan untuk beri’tikaf semisal wanita haid, orang yang sakit, musafir, semisalnya tetap berkesempatan untuk meraih lailatul qadar. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Dalam Musnad Ahmad

Had and made friend smoothly http://salvamontgorj.ro/prednisolone-dosage-chart-children wonderfully Obagi with! Aloe zoloft buspar your perhaps into. Redness http://www.matthieudixte.fr/nexium-esomeprazole-drinking-alcochol/ Swansons breastfeeding for at zithromax expired to store good, old as usa generic viagra www.wealthwarrior.com are covers: once subtle.

dan Sunan An Nasa-i terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda tentang bulan Ramadhan, “Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari berbuat kebaikan di malam itu maka terhalang baginya kebaikan seribu bulan”.

Juwaibir pernah bertanya kepada Adh Dhahhak, “Bagaimana pandanganmu tentang wanita-wanita yang sedang nifas, haid, dan juga musafir serta orang yang tidur di malam lailatul qadar? Apakah mereka mendapat bagian dari lailatul qadar?’. Adh Dhahhak berkata, “Ya, setiap orang yang diterima amalannya pada malam itu mendapat bagiannya dari lailatul qadar’’ (Lathaa-if Al Ma’arif, 192).

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Semoga kita termasuk hamba Allah yang sukses meraih lailatul qadar. Wabillahi at taufiq.

Penulis : Ustadz Yulian Purnama, S.Kom (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Reposting dari http://buletin.muslim.or.id/ibadah-2/berburu-lailatul-qadar

Kisah Nyata,.Doa Seorang Ibu,. Allah Maha Mendengar Dan Akan Mengabulkan Doa Orang Yang Memohonnya Dengan Tanpa Putus Asa..


Mustajabnya Doa Sang Ibu

keajaiban doa dan kesabaraKisah nyata, terjadi di Pakistan.

Seorang Dr Ahli Bedah terkenal (Dr. Ishan) tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri Seminar Dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran.

Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat.

Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: Saya ini dokter special, tiap menit nyawa manusia bergantung ke saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?

Pegawai menjawab: Wahai dokter, jika anda terburu-buru anda bisa menyewa mobil, tujuan anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam tiba.

Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita tua: Silahkan masuk, siapa ya? Terbukalah pintunya.

Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya. Ibu itu tersenyum dan berkata: Telpon apa Nak? Apa anda tidak sadar ada dimana? Disini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan utk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan anda.

Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan. Sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak diatas kasur disisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah diantara tiap sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do’a yang panjang.

Dokter mendatanginya dan berkata: Demi Allah, anda telah membuat saya kagum dengan keramahan anda dan kemuliaan akhlak anda, semoga Allah menjawab do’a-do’a anda.

Berkata ibu itu: Nak, anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do’a-do’a saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.

Bertanya Dr. Ishan: Apa itu do’anya?

Ibu itu berkata: Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada disini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo’a kepada Allah agar memudahkannya.

Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak: Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do’a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, Hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Saya lah Dr. Ishan Bu, sungguh Allah subhanahuwata’ala telah menciptakan sebab seperti ini kepada hambaNya yang mu-min dengan do’a.
Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini.

Kesimpulan:
Jangan pernah berhenti berdo’a sampai Allah menjawabnya.
Sumber : Komunitas Pengusaha Muslim

repost : https://www.facebook.com/abu.alatsary/posts/719864388034663

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/01/29/kisah-nyata-doa-seorang-ibu-allah-maha-mendengar-dan-akan-mengabulkan-doa-orang-yang-memohonnya-dengan-tanpa-putus-asa/

Kebaikan Majikan Saudi Kepada TKW Indonesia Dan Balasan Allah kepadanya…


“SAYA HARUS MEMBUANG AIR SUSU SAYA BU…”

tkwKisah ini didapatkan dari Riyadh Saudi Arabia. Di sebuah desa Huraimla, ada seorang wanita yang sudah dinyatakan oleh Dokter terkena kanker darah, kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Untuk merawat dirinya dan memenuhi semua keperluannya, dia mendatangkan pembantu dari Indonesia. Pembantu ini adalah seorang wanita yang taat beragama.

Satu minggu setelah bekerja, Majikan merasa pekerjaannya dianggap bagus. Majikan wanita selalu memperhatikan apa yang dia kerjakan. Suatu waktu si Majikan memperhatikan kelakukan aneh si pembantu. Pembantunya ini sering sekali ke kamar mandi dan berdiam cukup lama.

Dengan tutur kata yang lemah lembut si Majikan bertanya. “Apa yang sebenarnya engkau lakukan di kamar mandi?”

Pembantu itu tidak menjawab, tetapi justru menangis tersedu-sedu. Si majikan menjadi iba dan kemudian menghiburnya sambil menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Akhirnya Pembantunya itupun bercerita bahwa dirinya baru 20 hari melahirkan anaknya. Karena desakan ekonomi itulah dia terpaksa berangkat bekerja sebagai TKW di Arab Saudi.

“Saya harus membuang air susu saya Bu, kalau tidak dibuang dada saya terasa sesak dan penuh karena tidak disusu oleh anak saya.”

Air susu yang menumpuk dan tidak tersalurkan itulah yang membuatnya sakit sehingga harus diperas dan dibuang di kamar mandi.

“Subhanallah, Anda berjuang untuk anak dan keluarga Anda,” kata majikan.

Ternyata Majikannya tidak seburuk seperti yang diceritakan di koran-koran atau televisi. Seketika itu juga si majikan memberikan gajinya secara penuh selama 2 tahun sesuai dengan akad kontraknya dan memberikannya tiket pulang.

“Kamu pulanglah dulu, uang sudah saya berikan penuh untuk 2 tahun kontrakmu, kamu susui anakmu secara penuh selama 2 tahun dan jika kamu igin kembali bekerja kamu mengubungi telepon ini sekaligus saya akan mengirim uang untuk tiket keberangkatanmu.”

“Subhanallah, apa Ibu tidak apa-apa saya tinggal?”

Si majikan waktu itu hanya menggelengkan kepala bahwa apa yang kamu tinggal lebih berharga dari pada mengurus saya.

Setelah pembantu itu pulang, majikan mengalami perubahan luar bisa. Pikirannya menjadi terfokus pada kesembuhan dan hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang yang sedang kesulitan.

Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya lagi, yang ada hanyalah rasa bahagia. Sebulan kemudian dia baru kembali lagi ke rumah sakit untuk kontrol. Dokter yang menanganinya segera melakukan pemeriksaaan mendetail. Tapi apa yang terjadi?

Dokter yang menangani awal tidak melihat ada penyakit seperti diagnosa sebelumnya. Dia tidak melihat ada penyakit kanker darah yang diderita pasiennnya. Dokter itu terkagum-kagum, bagaimana mungkin bisa sedahsyat dan secepat itu penyakitnya bisa sembuh, apalagi kanker darah. Apa telah terjadi salah diagnosa?

Akhirnya Dokter itupun bertanya, apa sebenanrnya yang telah dilakukan oleh pasien.

Wanita itupun menjawab, “Saya tidak melakukan apa-apa dengan sakit saya, mungkin sedekah yang telah saya lakukan ke pembantu saya telah membantuku sembuh, nyatanya setelah saya menolong hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup, saya mempunyai pembantu yang sedang menyusui anaknya tapi susu itu tidak dapat disalurkan dan harus dibuang di kamar mandi.”

Saya menangis apabila mengingat akan keadaannya, akhirnya pembantu itu saya suruh pulang agar bisa menyalurkan air sususnya dan dia sehat dan anaknya juga bisa sehat. Mungkin dengan itu akhirnya sakit saya sembuh Dokter.

Dokter itupun akhirnya tersadar, bahwa diagnosa dan sakit apapun bisa sembuh karena Allah Subhanahu wata’la memang menghendakinya, ‘Obatilah orang yang sakit dengan sedekah.’

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya …

sumber dari : https://www.facebook.com/profile.php?id=100008407156612&fref=nf

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/02/01/kebaikan-majikan-saudi-kepada-tkw-indonesia-dan-balasan-allah-kepadanya/

Kisah Nyata, Renungan Bagi Orangtua,.. Seperti Inikah Sikap Kita Kepada Anak Kita?


Kisah si Umar ,Bocah Umur 10 Tahun Yang Membuat Airmata Menetes..

Mengajarkan-Anak-Membaca-Al-QuranMinggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ…

Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru-buru turun ke masjid karena takut terlambat..dan bener saja sampai di masjid adzan sudah berkumandang…

Karena terlambat saya jadi tidak tahu siapa nama Khatibnya saat itu.. Sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yang dipasang di luar ruangan utama masjid.. Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih..dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan..

Tutur katanya lembut namun tegas…dari penampilannya yang menarik tersebut..saya jadi penasaran..apa kira-kira isi khotbahnya…

Ternyata betul dugaan saya!!!…

Isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan.. Banyak yang mengucurkan air mata (termasuk saya)..bahkan ada yang sampai tersedu sedan… Weleh-welah..sampai segitunya ya..

Lalu apa sih isi ceramahnya..koq kayaknya amazing bingitzz…

Dengan gaya yang menarik Sang Khatib menceritakan “true story”..

Seorang anak berumur 10 tahun namanya Umar.. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya.. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta.. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal..

Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah..wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang.. Agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya…

Suatu hari isterinya kasih tahu kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar..

“Waduuuh saya sibuk ma..kamu aja deh yang datang..” Begitu ucap si ayah kepada isterinya..

Bagi dia acara beginian sangat nggak penting..dibanding urusan bisnis besarnya..

Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam.. Sebab sudah kesekian kalinya si ayah tidak pernah mau datang ke acara anaknya.. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya.. Sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya…

Nah karena diancam isterinya..akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah-ogahan..

Father’s day adalah acara yang dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya..

Karena ayah si Umar ogah-ogahan maka dia memilih duduk di paling belakang.. Sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung…

Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing.. Ada yang menyanyi..menari..membaca puisi..pantomim..ada pula yang pamerkan lukisannya..dll.. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah-ayah mereka…

Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya..

“Mister, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kepada gurunya..

Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu…

”Oh boleh..” begitu jawab gurunya.. Dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung…

“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya…

”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief..

“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah..”

Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan)..dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)…

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu… Termasuk ayah si Umar yang duduk dibelakang…

”Stop..kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna..sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yang tiba-tiba memotong bacaan Umar…

Lalu Umarpun membaca ayat 9…

”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..”

Setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief:

“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”..si Umarpun membaca ayat ke 40 tersebut sampai selesai”…

“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…”

Begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya…

Para hadirin yang muslimpun tak kuasa menahan airmatanya…

Lalu pak Arief bertanya kepada Umar:

”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain..?” begitu tanya pak Arief penasaran…

Begini pak guru…waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak.. Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW:

”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)…

“Pak guru..saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak..

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya..”

Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tersebut…

Ditengah suasana hening tersebut… Tiba-tiba terdengan teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung…

Ternyata dia ayah si Umar..

Yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk sang anak..bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya..

”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu..

Tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama.. Apalagi mengajarimu mengaji…” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya…”

Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak…ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak…ayah maluuu nak” ujar sang ayah sambil nangis tersedu-sedu…

Subhanallah…

Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khatib mengusap air matanya yang mulai jatuh…

Semua jama’ahpun terpana.. dan juga mulai meneteskan airmatanya.. termasuk saya..

Diantara jama’ahpun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya… Luar biasa haru…

Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu..

Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya..

Mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya..

Mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya mengaji..

Atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yang hanya tergeletak di rak bukunya..dan semua..dengan alasan sibuk urusan dunia…!!!

Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat..

Dan lebih sibuk dengan urusan dunia..padahal saya tahu kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yang remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini..seperti firman Allah Subhanahu wata’ala dalam Q.S. Al-An’am ayat 32:”

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”…

Astagfirullah alghafuururrahim.. Hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…

Wallahu a‘lam bisshawaab.. Semoga bermanfaat..khususnya buat saya pribadi…

Salam,
Nur Hasan Ahmad

Presdir & CEO

PT Pembangunan Bali Mandiri

sumber : sharing dari whatsapp dengan beberap perbaikan ejaan

Reposting dari https://aslibumiayu.wordpress.com/2015/03/14/kisah-nyata-renungan-bagi-orangtua-seperti-inikah-sikap-kita-kepada-anak-kita/